Ekonomi Islam Itu Ekonomi Washatiyah

0
144
Illustration of a weighing scale

Oleh: Fitrah TA

Mahasiswa Ekonomi Syariah Universitas Muhammadiyah Malang

KLIKMU.CO

Sistem ekonomi Islam dilandasi pada prinsip keseimbangan (washatiyah). Islam mengajarkan bahwa manusia dalam menjalani kehidupan ekonominya harus dapat menyeimbangkan antara kepentingan dunia dan akhirat. Keseimbangan itu yang harus dijalankan manusia dalam berekonomi supaya tidak terjebak dalam ekstremitas kehidupan sehingga dua kebahagiaan bisa digapai sekaligus, dunia dan akhirat.

Konsep keseimbangan ini patut dijadikan perhatian supaya manusia mengetahui batasan- batasan dalam menjalankan konsepsi ekonomi jamaah, tidak hanya berorientasi pada salah satu aspek kehidupan saja sehingga kekayaan didunia yang bisa membebaskannya dari kefakiran dan kemiskinan bisa tercapai, disamping karena segala kekayaannya itu selalu digunakan untuk menegakkan agama Allah iapun diganjar oleh kebahagiaan di akhirat yang tiada tara.

Ekonomi Kapitalis

Dalam sistem ekonomi kapitalis, individu pemodal memegang peranan penting dan bahkan melebihi kelompok. Seseorang akan mendapatkan penghormatan dan pujian bila memberikan kontribusi besar bagi pembangunan dan pengembangan peradaban ekonomi. Karena itu, dalam sistem ekonomi ini, individu diperbolehkan mendapatkan dan memiliki harta sebanyak-banyaknya tanpa batas meski hal tersebut dilakukan dengan berbagai cara yang cenderung menganiaya orang lain yang lebih lemah.

Kaum kapitalis tersebut tak segan untuk menciptakan produk yang dengan signifikan merugikan banyak orang. Misalnya dalam kasus KFC dan MC-Donald yang bisa menyebabkan pelanggannya obesitas karena mengandung zat-zat yang bisa menimbulkan kecanduan sehingga jika konsumsi terhadap produk-produk tersebut berlangsung dalam kurun waktu yang lama akan mengatakan kesehatan manusia.

Dalam contoh lain, air yang merupakan kebutuhan banyak orang dan tidak bisa digantikan peranannya untuk menunjang kehidupan, di beberapa negara banyak dikuasai oleh segelintir orang-orang kapitalis yang padat modal sehingga terjadi monopoli. Air yang telah dikuasainya tersebut dijual dengan patokan harga tertentu sehingga bisa membuat banyak orang bergantung padanya. Masyarakat menjadi sangat tergantung pada segelintir orang tersebut sehingga berapapun harga yang ditetapkan tak ada pilihan lain bagi mayoritas masyarakat lainnya untuk membeli dengan harga mahal sekalipun karena begitu fundamentalnya peranan air. Sungguh ironis, padahal air diciptakan Allah untuk dimanfaatkan dan menjadi hak bagi setiap manusia dimuka bumi.(Jafril Khalil, Jihad Ekonomi Islam, hal: 95).

Dengan kemampuan modalnya, para kalitalis akan menguasai berbagai sektor ekonomi. Mereka dapat menguasai berbagai bentuk sumber ekonomi dengan berbagai cara dari hulu hingga hilir, dari potensi ekonomi perkotaan sampai potensi ekonomi pedesaan. Contoh yang paling dekat, lokasi-lokasi perdagangan tradisional yang menjadi nadi kehidupan ekonomi masyarakat kelas menengah bawah kini tergantikan oleh kalangan pengusaha kaya modal. Mereka membangun pusat-pusat perbelanjaan sehingga mematikan potensi pusat-pusat perdagangan tradisional tersebut.

Sekalipun tidak berada dalam pemerintahan, para kapitalis biasanya mempengaruhi kebijakan yang diputuskan oleh sebuah negara dengan kekuatan uangnya. Hal itu dilakukan untuk memastikan bahwa dalam setiap pembuatan regulasi sebuah negara, mereka akan selalu menjadi prioritas kepentingan. Dengan demikian, mereka bisa menguasai perekonomian suatu negara secara leluasa.

Upaya mereka dalam menguasai perekonomian sebuah negara ditunjukkan dalam berbagai hal. Salah satunya adalah dengan menguasai berbagai fasilitas yang menjadi hajat hidup mayoritas masyarakatnya. Di antaranya adalah jalan raya dan sumber sumber pertambangan. Bagi mereka, penguasaan atas berbagai sumber yang menjadi kebutuhan masyarakat berarti dapat menciptakan keuntungan dalam jumlah sangat besar. Dengan kata lain, berbagai fasilitas yang dibutuhkan masyarakat adalah alat penghasil uang dan oebdoring kemakmuran bagi para pemilik modal (hal 95-96).

Dalam menguasai sumber perekonomian, para kapitalis akan menggunakan berbagai cara. Bisa dengan berperang, bersaing dan mengalahkan sesamanya. Mereka akan berusaha semaksimal mungkin agar bisa menguasai perekonomian dalam jangka waktu lama. Mereka biasanya tidak peduli dengan nilai dan etika. Mereka hanya akan berpikir dan berusaha atas apa yang ingin dicapai. Karena itu, dalam sisitem ekonomi kapitalis ini, pilihan mereka hanya terdapat pada upaya menyejahterakan diri dan keluarganya dibandingkan masyarakat banyak.

Dalam kehidupan bermasyarakat, mereka cenderung hanya memberikan kontribusi dengan jumlah yang tidak signifikan. Sementara, mereka mengambil keuntungan dalam jumlah yang sangat besar. Hal ini logis saja karena bagi mereka tujuan penciptaan kemakmuran individu atau golongannya lebih menjadi prioritas ketimbang kesejahteraan orang banyak.

Dalam sistem ekonomi kapitalis ini, tak heran jika individu yang merasa menguasai kehidupan ekonomi cenderung menjadi orang yang membanggakan diri atau angkuh. Ia merasa dirinya memiliki berbagai kelebihan dibandingkan orang lain. Selain itu, para kapitalis juga cenderung materialistik. Baginya, segala hal senantiasa diukur dengan pencapaian dalam bentuk materi. Karena itu, ia akan cenderung bersifat egois atau hanya mementingkan kepentingannya tanpa memperhatikan kepentingan orang lain (hal: 96).

Ekonomi Sosialis

Berbanding terbalik dengan sistem ekonomi kapitalis, sistem ekonomi sosialis komunis merupakan lawan ekstrim ekonomi kapitalis. Penggagas sistem ekonomi ini menginginkan kebersamaan masyarakat dalam segala hal, termasuk didalamnya ekonomi. Mereka menginginkan semua kekayaan ekonomi dibagi sama rata karena dalam sistem ekonomi sosialis komunis ini semua orang memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam menikmati sumber-sumber ekonomi.

Sistem ekonomi sosialis mensyaratkan pembagian merata dalam berbagai pencapaian ekonomi. Meski seseorang memiliki kemampuan dalam berusaha, hal itu tidak berarti ia dapat menikmati usahanya dengan bebas. Kelebihan hasil usahanya harus diserahkan kepada negara untuk dijadikan sebagai harta manusia.

Kondisi tersebut tentu saja tidak akan memuaskan individu dalam masyarakat karena setiap individu berbeda dan memiliki kelebihan serta kekurangan dalam berusaha. Seorang individu tentu saja tidak akan merelakan hasil jerih payahnya diambil oleh negara dengan alasan kebersamaan. Sedangkan, individu lain yang berkekurangan akan terus menjadi lemas dan malas. Mereka merasa tidak perlu berusaha keras untuk menjadi kuat atau memiliki kelebihan dalam berusaha karena seperti apapun usaha yang dilakukan, hasilnya sama saja.

Sistem ekonomi sosialis komunis merupakan sistem ekonomi ekstrim yang berlawanan dengan keestriman kebebasan individu sisitem ekonomi kapitalis. Dalam sistem sosialis setiap individu akan mendapatkan hasil yang sama meski melakukan upaya yang jauh lebih berat dibandingkan individu lain. Sistem ekonomi ini tidak membedakan kemampuan satu individu dengan individu lainnya, meski pada dasarnya berbagai manusia di dunia memiliki kelebihan dan kekurangan.

Secara singkat, sistem ekonomi sosialis komunis mendambakan kemakmuran bersama dengan mendorong pelaksanaan kebersamaan dalam berbagai hal. Kebebasan invidu dianggap menjadi hambatan dalam mencapai kemakmuran bersama karena kebebasan individu lebih sering berujung pada ketamakan dan memberikan legitimasi bagi individu kuat untuk menganiaya individu yang lemah (Jafril Khalil, Ph.D, Jihad Ekonomi Islam, hal: 97).

Keseimbangan dalam Ekonomi Islam

Sistem ekonomi Islam hadir sebagai penyeimbang. Berbeda dengan kedua sistem ekonomi kapitalis atau sosio komunis, sistem ekonomi islam mengajarkan keseimbangan dalam berekonomi. Keseimbangan dalam sistem ekonomi islam memberikan pengertian bahwa manusia diperbolehkan bekerja keras menjalankan berbagai fungsi ekonomi untuk mencapai kehidupan yang layak dimuka bumi. Dengan kehidupan yang layak, manusia diharapkan dapat melakukan ibadah kepada sang pencipta dengan sebaik baiknya.

Mengenai penyerahan diri yntuk beribadah ini, Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah sebagai berikut; Artinya, “dan demikian (pula) kami telah menjadikan kamu (umat islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas perbuatan manusia dan agar rasul Muhammad menjadi saksi atas perbuatan kamu. Dan kami tidak menrtaokan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar kami mengetahui/supaya nyata siapa yang mengikuti rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan) kiblat itu terasa amat berat, kecuali bagi orang orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah maha pengasih lagi maha penyayang kepada manusia” (QS Al Baqarah ayat 144) (hal 98).

Ayat tersebut sebetulnya menyiratkan makna bahwa Islam sebagai umat tengahan (washatan). Yang dimaksud umat tengahan adalah keseimbangan jiwa dan semangat ekonomi Islam antara orang kaya dan miskin. Keseimbangan antara upaya pencapaian rohani dan material dunia. Keseimbangan antara kehidupan duniawi dan ukhrawi. Keseimbangan ini merupakan hal penting dalam berbagai aturan Allah.

Untuk mencapai keseimbangan itu, manusia membutuhkan aturan ilahi. Tanpa aturan itu, keseimbangan sulit tercapai. Keseimbangan yang diatur oleh aturan manusia cenderung menjadi keseimbangan yang timpang. Mereka kemungkinan besar akan selalu betindak kurang adil dan cenderung menguntungkan salah satu pihak. Hal itu cukup dimaklumi karena manusia yang tak pernah luput dari kesalahan.

Dalam keseimbangan berdasarkan aturan manusia, biasanya pihak yang kuat atau memilii berbagai kelebihan akan berusaha keras mempertahankan kekuasaannya. Bahkan, mereka bisa melakukan berbagai upaya mempengaruhi keseimbangan agar lebih menguntungkan pihak mereka. Hal itu, karena mereka tidak mau kekuasaannya berkurang dan bahkan berharap kekhasannya semakin terlegitimasi. Kondisi tersebut merupakan keseimbangan hasil cipta manusia.

Berbeda dengan keseimbangan hasil cipta manusia, Islam memiliki konsep keseimbangan ilahi. Konsep ini didasarkan pada Al Qur’an dan Sunnah yang mendorong terciptanya keseimbangan yang menata keadilan bagi semua orang tanpa membedakan siapa dan darimana orang itu berasal. Islam merupakan agama yang mengajarkan keadilan bagi siapapun termasuk bagi mereka yang non muslim (hal: 99).

Mengenai diringan keseimbangan yang adil tersebut, dalam surat Al-Rahman, Allah berfirman sebagai berikut; Artinya, “dan Allah telah menunggu ikan langit dan dia meletakkan neraca (keadilan). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan baik dan jangkah kamu mengurangi neraca itu” (QS Al Rahman ayat 7-9).

Berdasarkan ayat ini, Allah mendorong manusia untuk bertanggung jawab agar pelaksanaan sistem ekonomi di dunia didasarkan pada nilai keseimbangan untuk mencapai kebahagiaan seluruh manusia. Bila nilai keseimbangan tidak diterapkan, maka sistem ekonomi akan cenderung merusak tatanan sosial dan hanya akan memberikan kesenangan dan kebahagiaan bagi segelintir orang. Sementara, banyak orang yang harus menderita. Hal ini, ditunjukkan baik dalam penerapan sistem ekonomi kapitalis maupun sosialis komunis.

Islam tidak menginginkan kesenangan dan kebahagiaan dalam berekonomi hanya dapat dinikmati oleh segelintir orang saja. Agama ilahi ini menginginkan kedua hak tersebut dapat dinikmati oleh seluruh manusia. Karena itu, Islam mengakui bahwa setiap individu memiliki hak untuk berekonomi dan mencapai kehidupan yang layak. Selanjutnya, Islam mendorong mereka untuk berbagi kepada sesama yang membutuhkan. Dengan demikian, kesenangan dan kebahagiaan dapat tecipta bagi seluruh manusia. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here