Emo Demo, Cara Nasyiah Jatim Cegah Stunting dan Perbaiki Gizi Anak

0
319
Perwakilan kader NA Jawa Timur saat mengikuti pelatihan Emo Demo di Gresik.

KLIKMU.CO – “Kehidupan itu sangatlah berharga dan kita sebagai umat Nabi seharusnya menjadi bagian yang menyelamatkan kehidupan itu. Mulai sejak dalam kandungan hingga lahir juga merupakan bagian dari usaha usaha tersebut,” jelas Ketua PWNA Jawa Timur Aini Sukriah MPdI dalam pelatihan Emotional Demonstrasi dan MPASI (Makanan Pendamping Air Susu Ibu).

“Melalui pelatihan ini, peningkatan gizi anak dan pemberantasan stunting adalah salah satu untuk bagian tersebut. Kebetulan kita dibantu oleh tim GAIN yang sudah mau datang membekali kita metode yang dinamakan Emo Demo untuk melanjutkan dakwah kita dan mengajak orang untuk melakukan hal baik dan meninggalkan yang buruk, terutama di basis massa,” lanjut perempuan asal Kediri tersebut.

Nasyiatul Aisyiyah (NA) bekerja sama dengan The Global Alliance for Improved Nutrition (GAIN) di Jawa Timur 27-28 September lalu memang melaksanakan pelatihan yang disingkat Emo Demo dan MPASI di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Kebomas, Kabupaten Gresik.

Metode Emotional Demontrasi adalah salah metode komunikasi perubahan perilaku dengan permainan interaktif, mengejutkan, dan menggugah emosi. Orang akan dibuat mengevaluasi kembali perilaku sebelumnya dan terdorong mengubah perilaku ke arah yang sehat. Yaitu, ASI eksklusif, camilan sehat dan MPASI seimbang, serta cuci tangan pakai sabun.

Acara itu dihadiri anggota perwakilan Nasyiatul Aisyiyah di seluruh Jawa Timur beserta IBI, PKK, Dinkes Kab Gresik, dan alumni anggota NA dari Kabupaten Gresik. Mereka mendengarkan seminar cegah stunting dengan mewujudkan kemandirian keluarga dalam 1.000 HPK yang disampaikan Ubu Yanik dari Aisyiyah.

Acara dilanjutkan dengan pelatihan Emo Demo yang lebih menekankan pada keterampilan menyampaikan informasi kepada ibu hamil dan balita melalui 12 modul yang dikembangkan GAIN sejak 2014.

“Wilayah kerja GAIN memang di Jawa Timur dan penerapan metode ini sebagian besar di posyandu, tetapi inovasi ini sebenarnya bisa diterapkan bukan hanya di posyandu. Bisa juga di pos PAUD, kelas bumil, kelompok ibu-ibu peduli kesehatan, bahkan ormas keagamaan,” jelas salah satu Trainning Coordinator GAIN Wiwik Sulistyorini dan Ibu Setiya Hartiningtyas Master of Trainer dari Stikes Surabaya.

Menurut mereka, sebenarnya metode ini jika dipelajari dan dipahami bisa dikembangkan bukan hanya 4 pesan kunci. Mungkin setelah belajar NA akan mampu mengembangkan sesuai kebutuhan.

“Karena metode ini belajar dari pengalaman sebelumnya bahwa kita harus memberikan intervensi yang berbeda dalam intervensi kesehatan jika ingin mendapat hasil yang berbeda. Salah satunya perubahan perilaku untuk pencegahan stunting di 1.000 HPK,” katanya.

Pelatihan ini sebenarnya sederhana, simpel, serta mudah mengerti. “Tetapi yang menarik adalah cara menyampaikannya yang sangat interaktif. Mengajak orang bersenang-senang dengan bernyanyi, yel-yel, serta pesan yang singkat. Meskipun kita masih belum lancar berlatih hari ini, saya yakin ini akan mudah dipahami. Kami akan melatihkannya ke anggota kami di Lamongan,“ ujar salah satu peserta pelatihan Ibu Zul perwakilan Lamongan saat selesai praktik di hari kedua (29/9).

Kegiatan ini ternyata disambut baik oleh semua peserta dan dikuatkan dalam sesi rencana tindak lanjut oleh fasilitator program Pashmina Hanif Mualifah sekaligus sebagai panitia penyelengara kegiatan. “Karena kita sudah berlatih selama 2 hari, harapannya ini bukan hanya sebagai pengetahuan, tetapi bisa diterapkan oleh kita karena selaras dengan program Pashmina yang telah ada di Jawa Timur,” ujarnya. (Wiwik Sulistyorini/Achmadsan)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here