Enam Fakta Pembusukan Internal

4
2277
Foto diambil dari Poliytika

KLIKMU.CO-

Oleh: M. Rifqi Rosyidi*

Pimpinan Muhammadiyah di semua level yang menyelenggarakan shalat Idul Fitri dengan mengabaikan Maklumat PP Muhammadiyah, maka sesungguhnya telah melakukan pembusukan dari dalam dan telah mencederai Muhammadiyah dari beberapa sisi, antara lain

Pertama, secara struktural organisatoris jelas menyalahi asas kepatuhan. Sedangkan maklumat atau fatwa merupakan salah satu bentuk produk hukum resmi yang harus ditaati baik oleh warga mapun pimpinan di semua level kepemimpinan.

Kedua, melecehkan kedudukan Ketua Umum PP Muhammadiyah dan Ketua PWM Jawa Timur yang berkali-kali melakukan sosialisasi maklumat PP Muhammadiyah dan Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid ini.

Ketiga, melecehkan kedudukan Majelis Tarjih dan Tajdid sebagai salah satu garda terdepan menjaga ideologi Muhammadiyah.

Keempat, menyia-siakan perjuangan Muhammadiyah dalam memutus rantai penyebaran virus ini. Tidak sedikit dana, tenaga, dan pikiran yang telah dikorbankan oleh muhammadiyah.

Kelima, meragukan kompetensi keulamaan anggota Majelis Tarjih dan Tajdid yang telah melakukan ijtihad dengan mempertimbangkan salah satu maqashid syariiah yang paling utama yaitu hifdzun nufûs, yakni menyelematkan kehidupan manusia.

Maqashid Syariah Tak Main-Main
Inilah alasan mengapa Muhammadiyah begitu gigih menyosialisasikan maklumat, mengawal, dan mewajibkan warganya untuk shalat Idul Fitri di rumah saja.

Dan ini merupakan kajian maqashid syariah yang tidak main-main. Apakah misi hifdzun nufus yang diusung oleh gerbong besar Muhammadiyah ini akan kita abaikan begitu saja dengan tetap “ngotot” ingin menyelenggarakan shalat idul Fitri di lapangan dengan kemungkinan adanya dugaan kuat aroma hifdzul fulus kotak amal lebih dominan.

Mengabaikan Maklumat PP Muhammadiyah, tetapi mengambil referensi kebijakan pemerintah dan surat edaran lembaga lain yang sangat kental mengandung unsur politis.

Memang dalam perjalanan berorganisasi, fatwa tarjih selama ini hanya berfungsi sebagai formalitas lembaga yang tidak memiliki kekuatan hukum secara struktural. Karena tidak ada sanksi hukum ataupun administrasi kepersyarikatan ketika ada beberapa pimpinan yang ogah menjalankan keputusan persyarikatan.

Sanksi bagi yang Ingkar Maklumat
Hiruk-pikuk perbedaan menyikapi maklumat Ini harus menjadi bahan pemikiran bagi peserta muktamar 2020 untuk mengusulkan sebuah aturan terkait dengan masalah ini, agar muhammadiyah tidak dipermainkan oleh warganya sendiri.

Ada sebuah ayat al-Quran di surat al-Anfal ayat 46, yang kalau dipahami secara kontekstual bisa masuk dalam kategori ayat-ayat Muhammadiyah, karena memberikan gambaran beginilah seharusnya berorganisasi, yaitu al-Anfal ayat 46.

Warga Muhammadiyah harus taat aturan organisasi. Ini di-breakdown dari potongan ayat wa athîullâha wa rasûlahû; kita harus satu barisan dan tidak saling berselisih dalam mensikapi aturan (wa lâ tanâzaû)

Dan keenam yang paling penting  adalah memiliki komitmen dalam berkontribusi menjaga marwah Muhammadiyah (washbiruu). Kalau tidak maka orang lain akan mengatakan: “Muhammadiyah cuma gede urunge” (fa tafsyalû wa tadzhaba rîhukum).

*diolah dari laman berita PWMU.CO

Maklumat PP: Hifdzun Nufus Vs Hifdzun Fulus?

4 KOMENTAR

  1. Tulisan bagus, evaluasi bagi Pimpinan Muhammadiyah.
    Bersatu padu dengan barisan yang kokoh dalam berorganisasi yang baik.

  2. Pemilihan kata “pembusukan” saya rasa tidak tepat, justru akan mencederai sebagian warga Muhammadiyah yang kebetulan berbeda sikap, Muhammadiyah kiranya lebih cerdas dalam menyikapi situasi dan kondisi saat ini ketimbang membusuk-busukan jamaahnya sendiri.

    • Warga Muhammadiyah harusnya sami’na wa atho’an pada garis komando Organisasi yakni Pimpinan Pusat Muhammadiyah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here