Euforia Politik Bagaimana Nabi SAW Menyikapinya?

0
155
Foto Kyai Mahsun Jayadi Ketika memimpin Apel Milad Muhammadiyah. Ilustrasi diambil dari Google

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Kata euforia, adalah kata serapan dari “Euphoria” (inggris,red) yang diartikan sebagai luapan rasa gembira secara gegap gempita yang cenderung berlebihan disertai letupan emosional yang luar biasa sebagai ungkapan kepuasan seseorang atau kelompok orang. Euforia Politik, merupakan luapan rasa gembira disertai letupan emosional yang luar biasa yang dilakukan seseorang atau kelompok karena merasa cita-cita politiknya atau apa yang menjadi harapan dalam kontestasi politiknya telah tercapai atau telah berhasil.

Euforia politik umat islam yang pertama terjadi pada peristiwa perang badar. Peperangan pertama kali di zaman Nabi saw ini melibatkan 300 prajurit muslim melawan 1000 pasukan kuffar quraisy. Peperangan ini diakhiri dengan kemenangan di fihak kaum muslimin. Dalam euforia kemenangan Perang Badar yang tak terduga ini, Nabi bersungguh-sungguh melihat ke depan untuk rekonsiliasi akhir.

“Seusai perang, Rasulullah justru memperlakukan kaum musyrik dengan baik untuk memulihkan harga diri mereka yang hancur disebabkan kekalahan Perang Badar,”. Kemenangan kaum muslimin pada akhirnya berdampak luar biasa terhadap umat Islam.

Kemenangan ini meningkatkan kepercayaan diri dan keimanan mereka mengalahkan musuh. Selain itu, umat Islam juga dipandang sebagai kekuatan baru yang patut diperhitungkan. Kemenangan ini pun memperkuat otoritas Muhammad sebagai pemimpin dari pelbagai golongan masyarakat Madinah yang sebelumnya sering bertikai.

Dalam euphoria politik umat islam pasca perang badar ini, Nabi Muhammad saw memberikan cara menyikapinya dengan sabdanya : “Raja’na min jihadil ash-ghari ila jihadil akbar. Alaa wahiya jihadun nafsi” (kita baru kembali dari jihad kecil menuju jihad yang lebih besar, ingatlah yaitu jihad melawan hawa nafsu. Pengendalian hawa nafsu (dari kesombongan, takabbur, merasa paling kuat sendiri, dan sifat-sifat rendah lainnya) dalam perspektif Nabi Muhammad saw merupakan jihad yang lebih besar dibandingkan perang badar itu sendiri.

Euforia politik umat Islam yang kedua terjadi pada saat Fathu Makkah (pembebasan kota Makkah). Pembebasan Mekkah (bahasa Arab: فتح مكة, Fathu Makkah) merupakan peristiwa yang terjadi pada tahun 630 tepatnya pada tanggal 10 Ramadan 8 H, di mana Nabi Muhammad beserta 10.000 pasukan bergerak dari Madinah menuju Mekkah, dan kemudian menguasai Mekkah secara keseluruhan tanpa pertumpahan darah sedikitpun, sekaligus menghancurkan berhala yang ditempatkan di dalam dan sekitar Ka’bah.

Peristiwa Fathu Makkah ini terjadi pada tahun delapan Hijriyah. Dengan peristiwa ini, Allah menyelamatkan kota Makkah dari belenggu kesyirikan dan kedhaliman, menjadi kota bernafaskan Islam, dengan ruh tauhid dan sunnah. Dengan peristiwa ini, Allah mengubah kota Makkah yang dulunya menjadi lambang kesombongan dan keangkuhan menjadi kota yang merupakan lambang keimanan dan kepasrahan kepada Allah ta’ala. Peristiwa ini diabadikan Allah dalam al-Qur’an surat an-Nashr ayat 1-3.

Dalam euphoria politik umat islam pasca pembebasan kota Makkah ini, Nabi Muhammad saw memberikan cara menyikapinya dengan wahyu yang turun : “Fasabbih bihamdi robbika was taghfir innahu kana tawwaban” (maka hendaklah [menyambut kemenangan ini] dengan bertasbih mengagungkan asma Allah, dan mohonlah ampun kepada-Nya sesungguhnya Diam aha menerima taubat). Dari penjelasan ini euphoria politik tidak layak dilakukan dengan berkonvoi apalagi dengan mabuk-mabukan, serta perilaku represif lainnya.

Dalam konteks Indonesia, maka peran TNI dan polri sangatlah diperlukan untuk menjaga keamanan. Mengawal proses dan tahapan politik yang sedang berlangsung ini. TNI dan Polri harus netral dan tidak menjadi bagian dari salah satu kubu capres cawapres.
Wa Allahu A’lamu.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here