Film Habibie dan Ainun 3: Saat Ainun Muda Melawan Stigma dan Bertekad Jadi Dokter

0
3208

Oleh: Loresta Nusantara (*)

KLIKMU.CO

Film Habibie dan Ainun 3 tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia pada Kamis, 19 Desember 2019. Pada hari pertama tayang, saya melewatkannya begitu saja karena benar-benar lupa. Mulai tersadar film Habibie dan Ainun 3 sudah tayang karena adanya gambar-gambar tiket bioskop yang gentayangan di beranda beberapa media sosial saya. Sebagian besar di antara mereka yang mengunggah gambar tersebut mengatakan bahwa film seri ketiga setelah Habibie dan Ainun serta Rudy Habibie itu sangat bagus dan mengharukan. Beberapa di antara mereka juga menyarankan untuk membawa tisu saat menonton.

Selain itu, saya mendapat kabar bahwa di hari pertama banyak yang kehabisan tiket atau bahkan harus antre panjang untuk mendapatkan tiket. Membaca itu semua, hati saya bergejolak tidak keruan, tidak sabar ingin segera menonton film tersebut. Kemarin, Jumat (20/12), akhirnya saya pergi menonton bersama teman-teman kerja. Saya tidak menggubris saran beberapa teman untuk membawa tisu jika akan menonton film Habibie dan Ainun 3 ini. Maklum, sampai saat ini saya menonton film (yang katanya menyedihkan), baru ada tiga yang berhasil membuat saya meneteskan air mata. Tapi, tidak sampai menangis tersedu-sedu kok.

Habibie dan Ainun 3 kali ini lebih banyak menceritakan tentang masa lalu Ainun yang diperankan oleh Maudy Ayunda. Di film ini, Habibie yang (masih) diperankan oleh Reza Rahardian menceritakan masa lalu yang berisi perjuangan Ainun untuk menjadi dokter kepada anak cucu Habibie.

Habibie memulai ceritanya tentang keresahan seorang Ainun menunggu pengumuman diterima dari Universitas Indonesia, universitas impiannya. Ainun memilih masuk di fakultas kedokteran dan bertekad menjadi dokter. Perjuangan Ainun di sini tidak mudah. Stigma masyarakat bahwa kodrat perempuan di dapur masih melekat sangat kuat. Sehingga jarang sekali seorang perempuan mengambil jurusan kedokteran waktu itu. Banyak orang yang meremehkan cita-cita Ainun. Termasuk salah satu dosennya sendiri yang terkenal tegas dan dingin.

Awal masuk, Ainun kerap kali dirundung oleh seniornya. Namun, Ainun mampu membuktikan keseriusannya dalam mengejar cita-citanya. Dosen yang tegas dan dingin yang juga meremehkan Ainun pun mampu dibuat kagum oleh kesungguhan dan kepintaran Ainun. Ainun dikenal sebagai mahasiswi yang pintar, cerdas, dan populer. Bahkan, sampai ada perkumpulan mahasiswa penggemar Ainun. Ini yang membuat film ini jadi ada bumbu-bumbu lucu dan gemasnya.

Di tengah perjalanan menempuh kuliah, ia dihadapkan pada sebuah kejadian yang membuatnya harus kecewa dan risau akan cita-citanya. Beruntung, berkat dukungan dari orang tua dan sahabatnya, Ainun mampu melewati semuanya dengan baik hingga menjadi lulusan terbaik kala itu.

Saat berpisah selepas kelulusan SMA, Habibie dan Ainun memang memilih fokus pada cita-cita masing-masing. Ainun membuka lembaran hidup yang baru. Sebelum memulai perjalanan cinta dengan Habibie, ternyata ada sosok lain yang pernah singgah di hati Ainun. Bagian ini yang membuat film Habibie dan Ainun 3 menjadi lebih menarik dan mengejutkan.

Kehidupan Ainun selama menjalani masa-masa mahasiswi kedokteran semakin berwarna dengan kehadiran Ahmad, yang diperankan oleh Jefri Nichol. Ahmad merupakan mahasiswa fakultas hukum yang juga merupakan anak dari dosen Ainun yang killer. Pertemuan yang tidak sengaja membuat Ahmad mampu mengisi hati Ainun di masa mudanya.

Ahmad sangat mencintai Ainun. Ia selalu mendukung apa yang dilakukan Ainun, bahkan tidak jarang untuk membantu dan melindungi Ainun. Kisah cinta Ainun dan Ahmad dikemas sangat elegan. Cinta keduanya benar-benar menghindari konflik yang sangat receh seperti cemburu, salah paham, atau perbedaan kasta. Kisah mereka lebih kepada menyentuh prinsip, sudut pandang, dan masa depan.

Pemikiran Ahmad dan Habibie sangat berbeda. Jika Habibie sejak SMA sudah tahu dan memikirkan apa rencana jangka panjangnya, apa yang akan dilakukan suatu hari nanti, tidak dengan Ahmad. Ahmad selalu kesulitan menjawab pertanyaan Ainun jika ditanya tentang rencana ke depan. Hingga, hal ini menjadikan masalah bagi hubungan Ainun dan Ahmad kelak.

Ainun, yang sejak kecil bertekad menjadi dokter, memiliki rasa nasionalisme yang tinggi. Ia kekeh menjadi dokter karena ingin membangun negerinya, Indonesia tercinta. Sementara, Ahmad yang sangat membenci sifat orang Indonesia yang selalu berpikiran negatif dan masih sangat terbelenggu dengan pemikiran tradisional memiliki keinginan untuk meninggalkan Indonesia. Ahmad mengajak Ainun meninggalkan Indonesia untuk membangun karir di luar negeri.

Adegan inilah yang menyadarkan kita bahwa ketertarikan fisik atau kesamaan hobi saja tidak cukup. “Kita berada dalam buku yang sama, tapi halaman yang berbeda,” kata Ainun. Kesimpulan pahit ini direspons dengan jeritan oleh Ahmad. Sementara Ainun memilih menyendiri untuk mengekspresikan sedihnya. Mereka sepakat mengakhiri hubungan dengan baik.

Habibie dan Ainun 3 ini sarat emosi dan konflik sehingga membuat film ini lebih berkelas. Dan yang membuat saya lebih senang, penggunaan bahasa baku dalam film ini sangat kuat. Menurut saya, film ini sangat mungkin menjadi nomine di sejumlah festival film tahun depan. Semoga.

(*) Penulis adalah guru SD Muhammadiyah 9 Malang dan aktivis Nasyiatul Aisyiyah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here