Gaya Ceramah Pak AR Pengaruhi Butet Kartaredjasa

0
229
Butet Kartaredjasa dalam acara Seniman Bicara Muhammadiyah. (Tangkapan layar AS/KLIKMU.CO)

KLIKMU.CO – Bagaimana jadinya kalau para seniman membincangkan Muhammadiyah? Hal itu terlihat ketika JIBPost dan SaRanG Seni Budaya turut merayakan Milad Ke-108 Muhammadiyah.

Acara bertema “Seniman Bicara Muhammmadiyah” tersebut berlangsung Jumat (20/11/2020) mulai sekitar pukul 19.00.

Hadir dalam acara itu Menko PMK dan Ketua PP Muhammadiyah Prof Dr Muhajir Effendy MAP, Butet Kartaredjasa (seniman), Edy Utama (budayawan Minang), Hartati (koreografer), Heru Joni Putra (sastrawan dan tokoh seni Majalah Tempo 2017), serta dipandu oleh perupa ternama Jumaldi Alfi.

Prof Muhadjir Effendy mengatakan, sebetulnya Muhammadiyah memang tidak lepas dari fenomena budaya. Kalau ditelusuri sejarah perjalanannya, kata dia, Muhammadiyah itu fenomena Islam pedalaman, bukan fenomena Muhammadiyah pesisir.

“Letaknya di Jogja, perintisnya adalah KH Ahmad Dahlan keluarga keraton. Ibaratnya bibit tanaman, Muhammadiyah muncul di tengah-tengah pupuk yang penuh dengan gizi budaya, terutama budaya pedalaman, budaya agung dari keraton,” jelasnya.

Maka, sulit untuk memisahkan Muhammadiyah dari gerakan budaya. Jadi, kata Muhadjir, selain gerakan dakwah, Muhammadiyah itu juga gerakan budaya.

“Pada waktu itu, KH Ahmad Dahlan juga banyak mengadopsi budaya lokal, keraton, pedalaman, pinggiran, dan abangan. Tetapi budaya kontemporer juga turut dirangkul,” papar mantan menteri pendidikan dan kebudayaan tersebut.

Butet Kartaredjasa menambahkan, dirinya kerap bersinggungan dengan teman-teman Muhammadiyah semenjak kecil. Misalnya, ketika dia sekolah di dekat Kauman yang menjadi pusatnya Muhammadiyah. “Rupanya setelah baca timeline saya, sangat memengaruhi perjalanan hidup saya (dalam menjadi pekerja seni, Red),” ujarnya.

Berikutnya, ketika tumbuh menjadi seorang seniman, ada mentor Butet yang diam-diam sangat memengaruhi pilihan hidupnya sebagai pekerja teater. Salah satunya adalah Teater Muslim.

Ternyata Butet Kartaredjasa juga pernah bersinggungan dengan Pak AR Fachruddin, tokoh yang juga mantan ketua umum PP Muhammadiyah. “Beliau memang bukan aktor monolog. Tapi, saya dan ayah pada masa kecil selalu rajin mengikuti mimbar agama Islam kalau pembicaranya Pak AR Fachruddin,” katanya.

Menurut Butet, dalam membincangkan masalah agama yang serius, Pak AR mampu membawakannya dengan sangat dingin, santai, tapi jleb (menusuk).

“Jadi, ketika bermain monolog, yang terlintas di mata saya ya Pak Basiyo, Pak AR Fachruddin, Pak Mudayat, lalu baru senior-senior teater modern,” katanya.

Butet dalam kesaksiannya menuturkan, dalam menjawab perkara yang sensitif, Pak AR Fachruddin senantiasa dapat menjawabnya dengan sejuk, bahkan terkadang lucu. “Kejenakaannya itu seperti tidak disengaja, tapi vibrasinya adalah kesejukan,” ujarnya.

Dia kembali menegaskan bahwa hal itu juga yang turut memengaruhi perjalanan keseniannya hingga menjadi tokoh seniman seperti saat ini. (AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here