Gelombang Dashyat Kaum Millenial, Songsong Tahun Baru 1442 H, Teguhkan Jati diri di Suasana Pandemi

0
119
Lampost.co

KLIKMU.CO-

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Bulan Agustus 2020 ini Ada dua momentum berpadu dalam satu esensi. Yakni Momentum pertama : memperingati 75 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945. NKRI berdiri lepas dari penjajahan, menjadi negara merdeka. Bagi kita kaum muslimin negara NKRI berdasarkan Pancasila adalah sebagai “Darul ‘Ahdi Was-Syahadah” : yakni negara yang dibangun atas perjanjian dan kesepakatan antara komponen bangsa yang wajib kita jaga kelestariannya.

Momentum kedua : memperingati tahun baru hijriyyah 1442, yang tonggak perhitungannya diambil dari starting hijrahnya Nabi Muhammad saw dari Makkah ke Madinah. Kehidupan bermasyarakat baru di Madinah yang merdeka lepas dari angkara kemusyrikan dan kebodohan menuju sinar Islam yang hidup dan menghidupkan, dan cerah mencerahkan.

Di tengah situasi Pandemi covid 19 di negara kita, muncul fenomena kesadaran kolektif berbagai kelompok anak muda millennial dalam beragama khususnya Islam. Sebagian orang mengistilahkan sebagai “arus hijrah” yang luar biasa dari kalangan generasi milenial.

Puluhan komunitas hijrah mulai bermunculan dan disambut antusiasme para remaja milenial. Mulai dari komunitas yang berlevel lokal hingga yang berlevel nasional. Sungguh ini merupakan fenomena yang menggembirakan, utamanya jika dikaitkan dengan kebangkitan generasi muda Islam Indonesia menyongsong hadirnya peradaban dunia yang yang dijiwai dan disinari oleh iman dan islam.

Fenomena kesadaran kolektif ini bak gelombang yang dahsyat dan tidak mungkin bisa dibendung oleh siapapun dan dengan cara apapun. Manusia hidup di abad ini dalam suasana keterbukaan. Segala macam akses kemaksiatan terbuka lebar, tetapi juga segala akses amal shaleh (berbuat baik) pun terbuka lebar.

Berbagai macam ideologi luaran telah merangsek masuk ke negeri ini dengan leluasa. Pun juga budaya secular dan hedonis sedemikian rupa memoles wajah anak bangsa ini. Tetapi faktanya masih banyak anak muda millennial yang justeru mengambil jalan lain, yakni “jalan Allah swt” . mencari dan menemukan hakekat kebahagiaan dan ketentraman yang selama ini mereka cari.

Generasi millennial yang terlibat dalam kesadaran kolektif atau “gelombang hijrah” bukan hanya dari kalangan siswa, mahasiswa, tetapi juga para artis, kaum professional, dan bahkan para pengusaha muda utamanya di desa dan kota.

Terlepas dari pro-kontra yang muncul, fenomena gelombang hijrah kaum milenial ini sejatinya menunjukkan potensi besar kebangkitan Islam dari generasi milenial di Indonesia untuk masa depan umat. Maka, sudah seharusnya kita ikut mendukung perubahan positif dari kaum milenial ini. Apalagi fenomena hijrah ini mampu menjadikan kaum milenial bangga dengan identitas keislamannya.

Kita tentu akan merasa senang dan bangga ketika melihat semakin banyak generasi milenial yang gemar memakmurkan masjid, memadati majelis ilmu, sibuk membaca atau menambah hafalan Al-Qur’an, kuat menjalin ukhuwah walaupun berbeda harakah atau organisasi, serta tekun mendalami ilmu agama di tengah minimnya pelajaran agama yang mereka dapatkan di sekolah atau kampusnya.

PESAN MORAL:

Melalui dua momentum dalam satu esensi ini, patut kiranya kita melakukan Langkah-langkah positive, antara lain:

Pertama, Semangat Tasyakkur. Kita manfaatkan untuk bersyukur kepada Allah swt, bahwa kemerdekaan Republik Indonesia melalui perjuangan para syuhada’ adalah benar-benar terjadi atas berkat rahmat Allah swt, begitu juga semangat hijrah Nabi Muhammad saw dari Makkah ke Madinah sehingga terjadi kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara dibawah pimpinan Nabi Muhammad saw adalah benar-benar karunia Allah swt.

Kedua, Semangat Tafakkur Bahwa gelombang bangkitnya kesadaran kolektif anak-anak muda millennial beragama Islam akhir-akhir ini, meskipun dalam suasana Pandemi covid 19, patut kita apresiasi. Bahwa di sana sini ada kekurangan tata cara mereka berprilaku dan bersosialisasi kita maklumi sambil kita dampingi untuk diarahkan kea rah yang benar. Tentu dengan pendekatan pemikiran yang rasional dan proporsional. Harapannya semakin kokoh jati diri mereka sebagai generasi millenial yang cerdas dan bertaqwa.

Ketiga, Semangat Tadaarus. Kita tumbuh suburkan semangat belajar, semangat literasi, muhadloroh dan munaqosah, sehingga terasah daya intelektual generasi millennial kita. Sehingga menjadi modal sosial dan modal intelektual bagi bangkitnya Kembali peradaban Islam ke depan.
Wallahu a’lamu bis-Shawab

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here