Guru Berprestasi Ini Cetuskan Media Corona di Musim Corona

0
86
Nariyanto MPd, alumnus Prodi PBSI FKIP UMM, saat menjadi pemateri dalam webinar. (Fida/Klikmu.co)

KLIKMU.CO – Pembelajaran daring di masa pandemi Covid-19 memberikan tantangan bagi guru. Kondisi yang serba-terbatas dan dibatasi itu pun tidak menyurutkan tuntutan akan profesionalitas guru dalam pembelajaran. Maka, guru harus terus bersemangat dan terus berupaya menghadirkan pembelajaran yang kreatif dan inovatif.

Itulah salah satu pokok persoalan yang diurai dalam Webinar Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Malang, Rabu lalu (20/5/2020). Webinar yang mengusung tema “Menjadi Guru Kreatif dan Inovatif di Masa Pandemi” tersebut berlangsung selama tiga jam dengan menghadirkan Ketua Prodi Dr Sugiarti MSi dan Nariyanto MPd, guru berprestasi nasional.

Nariyanto menyatakan, salah satu kreativitas dan inovasi yang dapat diterapkan guru adalah melalui penggunaan media pembelajaran. Sebab, media pembelajaran sangat penting untuk meningkatkan kompetensi siswa. Media pembelajaran itu, menurut Nariyanto, haruslah yang mudah didapat, aman, ekonomis, dan ramah lingkungan.

“Di sekitar kita ada berbagai hal yang bisa dimanfaatkan. Tidak perlu mengeluarkan biaya mahal. Di sekitar kita sudah tersedia. Jika kita sebagai guru bisa melihatnya, bisa memanfaatkannya, justru itu yang membanggakan,” ujar alumnus Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia UMM tersebut.

Media Corona di Musim Corona

Nariyanto kemudian mencoba media Corona sebagai media inovatif pembelajaran di masa pandemi ini. Media Corona adalah singkatan dari Corat-coret Romantika Bermakna. Media ini hanya membutuhkan kertas dan alat tulis. Selanjutnya, ia menjelaskan empat langkah penerapan media Corona.

“Caranya, guru menetapkan tema terlebih dahulu. Misalnya temanya binatang. Guru kemudian meminta siswa membuat coretan yang tidak beraturan di atas kertas yang sudah disediakan. Kemudian, guru menentukan sudut pandang sesuai tema. Kita bisa minta siswa untuk memutar kertas ke kiri atau membaliknya sehingga ada pengalaman baru. Ada hal yang terduga yang kita hadirkan,” katanya.

Terakhir, kata peraih juara III nasional inovasi pembelajaran itu, guru meminta siswa menebalkan bagian yang terpakai serta menghilangkan yang tidak digunakan sesuai tema. Dengan begitu, anak-anak akan senang dan lebih kreatif. ”Insya Allah nggak ada lagi gambar dua gunung, sawah, dan jalan lagi,” terangnya kepada 510 peserta webinar sambil mempraktikkannya di atas kertas.

Media Tambang Berantai dan Sikamin

Bukan hanya Media Corona, guru yang sudah sembilan kali memenangkan berbagai kompetisi guru inovatif sejak 2014 ini juga mengajukan dua media lain, yakni Media Tambang Berantai dan Media Sikamin. Media Tambang Berantai bertujuan untuk melatih komunikasi anak. Penerapannya adalah dengan meminta anak membuat kelompok kecil dengan sesama siswa yang rumahnya dekat untuk belajar bersama dan menyelesaikan tugas komunikasi bersama secara berantai. Tentu, kata dia, pada praktiknya tetap dengan mengindahkan aturan social distancing.

”Adapun media Sikamin atau Aksi Media Beraksi di Kamar Bercermin bertujuan untuk bekerja sama dengan anggota keluarga. Penerapannya yakni dengan meminta siswa melaksanakan instruksi guru di depan cermin dengan divideo oleh anggota keluarga lain,” jelasnya.

Tiga Cara Mengajar Kreatif di Rumah

Sementara itu, Dr Sugiarti MSi mengungkapkan bahwa pengajaran kreatif di rumah dapat dilakukan melalui tiga cara, yakni menggunakan video pembelajaran, merekam kegiatan anak di rumah, dan membuat proyek di rumah. Karena itu, pembelajaran secara daring menuntut penggunaan teknologi dan peran serta orang tua. Meski demikian, guru tidak akan pernah tergantikan.

“Video pembelajaran, fitur-fitur pembelajaran daring itu memang merupakan teknologi. Kita dimudahkan oleh adanya teknologi. Namun, guru tidak akan tergantikan oleh teknologi. Mengapa? Karena ada proses pembentukan kepribadian dalam pembelajaran. Teknologi tidak akan sampai pada ranah penanaman pendidikan karakter. Demikian juga orang tua. Ada keterbatasan-keterbatasan,”  tambahnya.

Lebih lanjut, menurut perempuan yang juga aktivis Aisyiyah itu, problematika yang terjadi di lapangan adalah bahwa tidak semua teknologi yang canggih dengan berbagai macam fiturnya itu dapat dijangkau oleh siswa dan orang tua. Oleh sebab itu, dalam pandangan Sugiarti, guru dapat memanfaatkan media yang mudah dijangkau seperti WhatsApp.

“Kita memang dihadapkan pada persoalan sarana-prasarana teknologi. Sejauh ini yang paling mudah WA, ya sudah kita pakai WA. Kita tidak harus pakai Zoom, tidak harus pakadi Edmodo, atau fitur-fitur yang lain yang menyulitkan. Kita fokus saja pada penguasaan kompetensi anak,” tandasnya. (Fida/Achmad San)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here