Gus Pur: Merenungi Kepergian Habieb Rizieq Shihab

0
680
Gus Pur Pengagas Trensains dan penulis buku best seller ayat ayat semesta.(Foto:Special)

KLIKMU.CO Demo Monas 411 dan 212 yang fenomenal spektakuler tidak lepas dari sosok sentral Habieb Rizieq Shihab atau HRS.

Sosok ini mulanya hanya menjadi pemimpin Front Pembela Islam, FPI, ormas Islam yang hampir selalu diidentikkan dengan kekerasan alias Islam garis keras.

Begitulah media, memberitakan dan mencitrakan FPI dengan kekerasan. Kegiatan ilmu, seperti saat 1000 jamaah FPI dengan seragam putihh menyimak dengan seksama dan mengajukan pertanyaan serius seusai saya presentasi Ayat Semesta AAS tidak diberitakan.

Demikian pula ketika FPI terlibat dalam aksi sosial pasca tsunami Aceh, Nias dan gunung Merapi Jawa Tengah, nyaris tanpa berita.

Aksi 411 dan 212 didahului oleh situasi psikologis yang mencekam dan membuttuhkan sosok yang putus urat syarafnya, tak takut mati.

Sebenarnya, umat masih punya sosok seperti itu selain HRS, dia adalah Muhammad Amien Rais MAR yang pernah berdiri tegak sendirian berhadapan dengan penguasa dan kekuatan Orde Baru.

Keberanian itu sesungguhnya masih ada di MAR, tetapi MAR sudah tidak muda dan tidak lagi dapat berteriak lantang seperti 20-25 tahun lalu. Peran itu, 2016 lalu diambil alih HRS. Puncak adegan dalam drama ini adalah naiknya Anies-Sandhi menjadi gubernur DKI, yang prosesnya dijalani dengan suasana hati mencekam.

Kemenangan dan naiknya AS menjadi petinggi baru DKI tidak dapat dilepaskan dari pengaruh gerakan 411 dan 212 dengan HRS sebagai aktor utamanya.

HRS pun dielukan umat dan secara informal didaulat menjadi imam besar muslim Indonesia mengingat Aksi Bela Islam ABI 411 dan 212 diikuti oleh semua kalangan termasuk dari ormass meski tidak secara resmi membawa nama ormas. ABI 411 dan 212 terjadi karena HRS. Tanpa HRS mungkin ga bakal terjadi ABI 411 dan 212. Dan seterusnya.

Pada saat yang sama HRS dipandang sebagai sosok yang mengganggu bahkan ancaman oleh pihak tertentu. Singkat cerita HRS harus dilemahkan. Pintu masuk pun tersedia, kasus hukum. Melihat situasi yang ada, HRS pergi ke luar negeri tepatnya Saudi Arabia.

Sebagian besar umat Islam alumni ABI 411 dan 212 sangat ingin HRS kembali berada di tengah mereka, kembali memimpin gerakan demi gerakan terlebih di tahun politik 2018-2019. Umat Islam sangat merindukan HRS.

Tanpa HRS, Islam diolok misalnya melalui puisi ibu dan tanpa tuntutan signifikan. Bahkan kemudian angan diperpanjang pada pemilu 2019, mungkinkah muslim ABI 411 dan 212 memobilisasi umat sehingga menghasilkan pemimpin Indonesia 2019-2024 yang baru. Alumni ABI seperti berharapp cemas menunggu pesan dan kiprah HRS

Memperhatikan sikap umat Islam kepada HRS, maka saya merasa dapat memahami kepergian HRS.

Bahkan saya berpandangan HRS harus pergi sampai umat sadar pada sikap, keadaan dan posisinya. Lho, apa maksudnya? Perhatikan peristiwa atau sejarah fenomenal berikut.
Pada Masa kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shidiq dan Umar al-Faruq, ada ahli strategi dan jenius perang-Jendral Khalid bin Walid. Pada masa khalifah Abu Bakar, Khalid berhasil melumpuhkan keunggulan militer Persia.

Pada masa kekhalifahan al-Faruq, Khalid mendapatkan mandat untuk memimpin perang besar melawan kekuatan angkatan perang Romawi timur yang canggih.

Ketika panglima Khalid memimpin rapat sehari menjelang pertempuran, Khalid menerima surat dari khalifah Umar yang isinya temyata memberhentikannya sebagai panglima angkatan perang Islam.

Khalid tidak mengumumkan isi surat kepada prajurit Islam dan tetap memimpin perang. Setelah pertempuran selesai dan Khalid beserta pasukannya memperoleh kemenangan, Khalid turun dari jabatannya sebagai panglima tertinggi Angkatan bersenjata muslim dan menyerahkan kepada bawahannya kemudian pulang menghadap dan mempertanyakan pemberhintahannya kepada khalifah Umar bin Khattab.

Inilah jawaban Khalifah Umar ,” Aku sekedar melakukan tugasku menyelamatkan tauhid ummat. Engkau adalah panglima yang gagah perkasa dan Rasulullah sendiri yang mengangkatmu memegang jabatan itu.

Semenjak itu, engkau belum pemah terkalahkan disetiap medan pertempuran, sehingga rakyat mulai menyanyikan laguu yang memuja dan mengeluukan namamu di samping memuji Allah swt. Aku takut hal ini berkembang menjadi keyakinan seolahh engkaulah satuunya yang sanggup memenangkan seluruh peperangan ini dengan dan atau tanpa syafa’at Allah swt. Bukankah dengan demikian mereka menjadi musyrik? Maka ingin kubuktikan kepada mereka bahwa Umar adalah hamba Allah yang lemah dan hina ini, telah sanggup menjatuhkan engkau panglima yang gagah perkasa. Dengan demikian kuharap mereka kembali hanva memuji Allah swt”.

Khalid menerima kebijakan khalifah, dan esoknya kembali bergabung dengan ummat Islam yang sedang bertempur di medan perang Romawi Timur.

Khalid kini berperang di bawah pimpinan mantan bawahannya sebagai prajurit biasa. Orangg Islampun bingung dan bertanyaa kenapa Khalid masih mau berperang seperti semula padahal sudah dipecat khalifah Umar.

Khalid menjelaskan lugas dan tegas: “Aku berjuang bukan karena Umar, aku berjuang hanya karena Allah swt semata”. Inilah ungkapan dari dua penguasa yang tercerahkan oleh cahaya Tauhid. Para prajurit pun sadar dan menerima penjelasan Khalid bin Walid mantan jenderal perang yang tak terkalahkan.

Mari kita merenungkan sebab hakiki kepergian HRS yang diawali oleh sebabb yang lain termasuk sebab politis. Siapa tahu sebab hakikinya adalah perasaan kita yang berkata bahwa HRS lah satuunya yang sanggup memobilisasi ABI 411 dan 212 dengan dan atau tanpa syafa’at Allah swt. Bukankah dengan demikian kita menjadi musyrik? Naudzu billah tsumma naudzu billah.

Siapa tahu. Maka mari kita sucikan hati terlebih dahulu, kemudian melanjutkan perjuangan membangun NKRI yang mandiri, berdaulat terbebas dari belenggu hutang dengan atau tanpa HRS.
Allahu Akbar
Allahu Akbar
Allahu Akbar

Gus Pur
Pencetus konsep Trensains

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here