Habis Trump, Terbitlah Bolsonaro

0
102
Foto diambil dari Reuters, tulisan yang berarti: “Bolsonaro Out”

KLIKMU.CO

Oleh: Kardono Setyorakhmadi

Wartawan Jawa Pos

Setelah Trump, terbitlah Bolsonaro. Presiden Brazil itu pada Selasa (24/3) lalu memberikan pidato yang menerbitkan banyak kecaman. Dalam pidato yang disiarkan oleh televisi nasional itu, Jair Bolsonaro meminta semua wali kota dan gubernur untuk mencabut sejumlah lockdown parsial yang dilakukan terkait pandemik Covid-19. Yang jadi sasaran adalah dua kota terbesar di Brazil. Sao Paulo dan Rio de Janeiro.

Sejauh ini, Brazil yang disebut-sebut mempunyai keunggulan geografis seperti Indonesia (sama-sama tropis), cukup parah terpapar virus itu. Total sudah ada 2.200 kasus yang dilaporkan dengan korban jiwa mencapai 46 orang.

Alasan pencabutan tersebut sama dengan yang diucapkan oleh Donald Trump. Problem ekonomi. ’’Hidup harus berlanjut. Pekerjaan harus terus ada. Kita harus, ya, kita harus, normal kembali,’’ ucapnya dalam pidato yang langsung mengundang kecaman dari seantero negerinya. Termasuk Ketua Senat Brazil Davi Alcolumbre menyebut bahwa Brazil membutuhkan seorang pemimpin “yang bertanggung jawab dan serius”.

Dia memang mengakui bahwa orang dengan usia di atas 60 tahun memang beresiko. Tapi kebanyakan orang –termasuk dirinya—harusnya tak perlu khawatir. ’’Dengan sejarah saya sebagai atlet, maka saya tak perlu khawatir apa-apa. Ia (Covid-19) hanya sedikit lebih berat ketimbang flu biasa,’’ ucapnya. Sejauh ini, Bolsonaro mengklaim bahwa dia sudah dua kali menjalani tes Covid-19. Dua-duanya negatif, meski Bolsonaro selalu menolak untuk menunjukkan bukti hasil tesnya. Kekhawatiran Bolsonaro terjangkit memang besar. Beberapa pekan lalu, 22 staf yang menemaninya pergi dalam lawatan ke AS semuanya positif.

***

Meski Coronavirus sudah menunjukkan keganasannya di dunia, namun tak semua pemimpin satu visi. Ada tipikal pemimpin yang memandang bahwa penyakit ini “hanya sedikit lebih berat ketimbang flu” dan lebih penting lagi untuk tetap menghidupkan ekonomi yang terlihat resesi.

Pilihan lockdown, pilihan massive test memang sangat berat implementasinya. Lihat saja bagaimana Bolsonaro meminta wali kota dan gubernurnya untuk membuka kembali daerahnya. Atau Trump, yang berencana untuk membuka kembali AS pada saat Paskah 12 April mendatang.

Khusus Trump, motifnya bertambah satu lagi. Politis. Dia bersiap untuk maju dalam Pilpres AS November mendatang. Sementara dua keunggulan dari doktrin America Firstisme-nya lenyap terkena Korona: Pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan lapangan kerja. Itu menjelaskan kenapa dia mau mengeluarkan stimulus ekonomi senilai USD 1,8 triliun (kalikan saja Rp 17 ribu, jumlah yang 16 kali APBN Indonesia sekarang), tapi terus menerus enggan melakukan langkah-langkah pencegahan penyebaran Covid-19 yang signifikan. Bahkan melabeli penyakit ini dipolitisir Demokrat untuk menghantam keunggulan politiknya. Juga masih melanjutkan xenophobic nya dengan menyebut covid-19 sebagai “chinese virus”.

Padahal, situasi di AS sudah sangat buruk. Gubernur New York Andrew Cuomo sampai menyebut bahwa pandemik ini seperti kereta cepat yang akan menghantam seantero AS. Hanya masalah waktu saja. Total ada 55 ribu penderita Covid-19, dan separuhnya ada di New York. Menurut laman businessinsider, New York bahkan bukan lagi hanya kekurangan bed rumah sakit. Tetapi, kamar jenazahnya juga sudah overload dan tidak mampu menampung. Yang mencemaskan, kurva Covid-19 juga masih naik, belum menunjukkan penurunan.

Tapi, bagi Trump, semuanya adalah masalah ekonomi. Baginya, lockdown terlalu banyak menghabiskan anggaran dan membawa ekonomi AS ke jurang resesi. Yang terpenting, ekonomi AS tetap kuat dan bisa menyerap lapangan kerja. Jika anda teringat pada satu sosok, atau beberapa sosok, dari sebuah negara di Asia Tenggara yang juga mengalami problem Covid-19 yang sama (menganggap ini bukan masalah besar dan mementingkan ekonomi), ya itu wajar-wajar sih, hehehehe…

Meski begitu, baik Trump maupun Bolsonaro juga paham pandemik Covid-19. Mereka juga berharap pandemik ini segera usai. Lalu, dengan cara apa? Bukankah mereka justru malah meniadakan social distancing –sesuatu hal yang semua pakar di dunia menyetujui sepanjang vaksin belum ditemukan, hanya social distancing lah satu-satunya cara menurunkan kurva?

Meski tak pernah mengakui secara terbuka, mereka berharap pada herd immunity. Kekebalan komunal. Sederhananya, biarkan saja virus itu menyerang semua manusia. Memang ada yang mati, tapi lebih banyak yang survive. Yang hidup ini akan mengembangkan kekebalan alami terhadap virus tersebut. Simak saja pernyataan Bolsonaro, bahwa tak perlu khawatir terinfeksi virus. Yang penting anda jaga kesehatan dan kekebalan ya akan survive. Meski mungkin juga ada yang mati.

Strategi ini dipilih juga karena mempunyai kelebihan: murah-meriah. Tak perlu banyak mengeluarkan sumber daya. Paling-paling buat fasilitas medis tambahan dengan kapasitas ya sekitar lebih dari 10 ribu orang, kemudian impor obat-obatan yang memberikan peluang menjanjikan menyembuhkan covid-19. Belikan sebisanya APD bagi nakes yang berjuang mati-matian di garda depan. Tanpa harus mengeluarkan sumber daya yang lebih banyak lagi untuk membuat strategi yang lebih rumit dan lebih manusiawi. Ini saya tidak berusaha mengingatkan anda ke sebuah negara di Asia Tenggara lho. Jika anda teringat, ya itu penafsiran anda sendiri ea….

Strategi ini menjadi kontroversial ketika menjadi wacana di sejumlah negara Eropa. Karena, sangat tidak manusiawi. Seperti membiarkan lotere alam terjadi tanpa intervensi apa-apa dari manusia. Yang mungkin terjadi, mungkin seperti di Italia. Pada skala yang lebih tragis. Paramedis di sana sampai harus menguatkan hati untuk memilih siapa yang harus dipasang ventilator, dan siapa yang dibiarkan meninggal. Catatan, Italia memberlakukan lockdown dan masih harus mengalami hal seperti ini. Bayangkan, jika Italia tidak memberlakukan itu. Situasinya akan menjadi lebih parah.

Maka, jika kita menjadi warga negara di sebuah pemerintahan seperti Donald Trump dan Jair Bolsonaro, maka ini beberapa hal yang bisa dilakukan. Yang pertama, berdoa vaksin segera ditemukan. Yang kedua, anda harus memperkuat ketahanan sosial dengan lingkar anda sekuat mungkin untuk saling support. Yang ketiga, sebisa mungkin tak terjangkit penyakit itu. Yang keempat, jika terjangkit, berharaplah anda mendapatkan fasilitas medis yang memadai untuk membantu anda melawan virus tersebut. Yang kelima, jika anda tidak mendapat fasilitas medis, maka berusahalah memperkuat imun dan berharap bisa mengalahkan virus itu on your own. Yang keenam, jika anda kalah dalam pertarungan dengan virus anda, maka pastikanlah bahwa orang-orang terdekat anda mengetahui bahwa anda sangat mencintai mereka, dan spirit anda akan terus bersama mereka tak peduli apa pun yang terjadi…. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here