Hadir di ITS, Buya Syafi’i Ma’arif: Kampus Harus Peka Permasalahan Sosial, Tidak Kaku Seperti Mesin

0
768

KLIKMU.CO – Untuk mengembalikan kesadaran diri untuk turut membantu membangun bangsa, Dewan Profesor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya gelar Sarasehan Kebangsaan yang bertajuk Merajut Nilai Kebangsaan dalam Kebhinekaan. Kegiatan perdana ini turut dihadiri oleh perwakilan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Republik Indonesia, Prof Dr H Syafii Maarif, Kamis (28/9).

Mengawali diskusi, Syafii, sapaannya, mengungkapkan rasa prihatin terhadap kondisi bangsa Indonesia. Terlebih saat masyarakatnya melupakan nilai-nilai kebangsaan karena terlalu sibuk bekerja. “Sekarang Indonesia dihadapkan pada masalah kebangsaan dan toleransi agama, sudah saatnya kita membangun dan mengembalikan martabat bangsa ,” tambah pria kelahiran Sijunjung Sumatra Barat tersebut.

Masalah utamanya adalah pemimpin bangsa saat ini hanya piawai menggunakan rumus. Membuat berbagai perencanaan dengan teori dan melupakan praktik. “Selain itu, banyak pula yang bergelar doktor tapi ternyata kecerdasan hatinya minim,” ungkapnya penuh kritik di hadapan peserta Sarasehan di Auditorium Sinar Mas Departemen Teknik Industri ITS.

Pria berkacamata itu menambahkan, seharusnya kearifan seorang pemimpin datang dari hati nurani, bukan dari otak. Hal ini ia ucapkan lantaran orang-orang yang memimpin Indonesia hanya berlabel politisi yang notabenenya menggunakan jabatan sebagai ladang mata pencaharian. “Memperbaiki sifat ini sangat susah, terlebih jika dilihat lembaga terkorup di Indonesia adalah DPR yang katanya wakil rakyat,” tambahnya.

Melanjutkan pemaparannya, ia merasa saat ini para politisi tersebut kurang mencerdaskan diri dengan literasi sejarah pembangunan bangsa. Sekaligus belum memahami perjuangan memperebutkan kemerdekaannya. “Dulu politisi itu ya negarawan, tapi sekarang beda. Sesekali mereka perlu belajar dari pidato Indonesia Menggugat milik Bung Karno,” jelasnya.

Senada dengan itu, ia yakin nilai ideologi Pancasila tidak akan luntur jika masyarakat khususnya para milenial mendapatkan contoh bagaimana menerapkannya dari pemimpin. Ia meyakini, dengan teladan yang baik, nilai Pancasila yang universal tidak lagi disalahartikan. “Saya hanya bisa berharap Indonesia tetap ada hingga satu hari sebelum kiamat,” tuturnya.

Kepada ITS, ia berpesan agar pakar teknik tidak hanya menyibukan diri dengan mesin dan berbagai hal yang berkaitan dengan teknologi. Melainkan mereka juga harus bisa membaca dan mempelajari permasalahan sosial yang ada di masyarakat. “Contohlah Soekarno, meskipun teknisi beliau tidak lupa terhadap negeri,” sambungnya.

Di akhir acara, ia mengingatkan proses pembangunan bangsa masih berlanjut. ITS sebagai perguruan tinggi yang giat berinovasi harus berpartisipasi dalam pembangunan tersebut. “Tadinya saya pikir kampus teknologi itu kaku, namun ITS tidak seperti dugaan saya. Saya yakin dengan adanya perguruan tinggi yang peduli masih ada harapan untuk membangun negeri,” pungkasnya. (hen/owi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here