Haji Bukan Wisata Religi, Ada Tiga Varian Istato’ah dalam Berhaji, Begini Penjelasan Ketua Muhammadiyah Surabaya

0
550
Ilustrasi diambil dari islampos

KLIKMU.CO – Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Muhammadiyah Kota Surabaya tahun ini berangkatkan 178 calon jamaah haji (CJH) ke Tanah Suci.

Para tamu Allah itu dilepas oleh Dr. Mahsun Jayadi, M.Ag. Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surabaya di halaman kampus Universitas Muhammadiyah Surabaya, Kamis (26/7) pukul 07.30 WIB.

Kyai Mahsun, sapaan akrabnya Dr. Mahsun Jayadi, M.Ag. dalam sambutannya mengatakan, ibadah haji dan umroh merupakan satu peribadatan yang tidak hanya membutuhkan kesiapan finansial. Melainkam kesiapan berupa stamina, fisik kuat, juga kesiapan mental.

Lebih dari itu, imbuh Kyai Mahsun kesiapan ilmu dalam berhaji atau umrah, agar amalannya sesuai tuntunan Rasulullah Saw.

Kyai Mahsun dalam arahannya, mengingatkan kepada semua calon jamaah supaya menata niat.

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya,” katanya menjelaskan sembari menukil hadits isi hadist tersebut, supaya apa yang diniatkan mendapatkan keridhaan dari Allah Swt.Sebab, imbuh Kyai Mahsun, segala sesuatu kalau tidak diniatkan mencari keridhaan Allah, maka akan sia-sia.

“Barang siapa yang berhijrah karena Allah dan Rasulnya, maka hijrahnya untuk Tuhan dan Rasulnya . Barang siapa hijrah karena dunia, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.”

Agar memperoleh haji atau umroh yang mabrur, menurut Kyai Mahsun sebaiknya dalam beribadah haji menjauhi segala macam perbuatan yang mengarah pada kemaksiatan.

Tidak kalah penting Kyai Mahsun mewanti-wanti agar hendaknya para jamaah selalu mengutamakan beribadah selama ditanah suci.

“Thowafnya di masjidil haram, jangan memperbanyak thowaf di pertokoan, swalayan (belanja) saja,” kelakar Wakil Rektor III Universitas Muhammadiyah Surabaya ini.

Menurut Kyai Mahsun ada 3 varian pengertian istatho’ah (kemampuan) menunaikan ibadah haji dari perspektif sosiologis, pertama, haji nisab. Haji ini dilakukan oleh seseorang lantaran ia memiliki keinginan kuat berhaji, meskipun secara ekonomi ia kurang mapan.

“Ia sedikit demi sedikit menabung, menyisahkan uang sampai mencapai nisab, batas harga Ongkos Naik Haji (ONH) yang ditentukan,” jelas pria kelahiran Lamongan ini.

Kedua, haji nasab. Adalah haji yang dilakukan seseorang dengan sangat mudah tanpa menabung karena memang nasabnya orang kaya (keluarganya kaya raya) sehingga tidak ada kesulitan sama sekali soal dana haji.

Ketiga, haji nasib, yaitu haji yang dilakukan seseorang karena sedang nasib baik, mendapat rezeki nomplok. Misalnya, dihajikan orang dengan biaya gratis, mendapat tugas dari pemerintah untuk menjadi petugas haji dan lain-lain. (Abdul)

Dr. Mahsun Jayadi, M.Ag Ketua PDM Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here