Halalbihalal IMM Raushan Fikr: Alumni Buka Memori hingga Bicarakan Pendidikan

0
280
Para peserta halalbihalal IMM Raushan Fikr FKIP UMM. (Ishaq/Klikmu)

KLIKMU.CO – Suasana gayeng menyelimuti halalbihalal Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komisariat Raushan Fikr FKIP Universitas Muhammadiyah Malang yang diselenggarakan Senin malam (1/6/2020). Meski secara virtual, justru di situlah berkah silaturahmi ini berjalan dengan sarat kehangatan. Sekitar 100 peserta tumplek bleg di aplikasi Zoom. Seolah melewati demarkasi angkatan. Acara tersebut dipandu oleh Loresta Nusantara, Eriton, dan Ode Rizki Prabtama.

Dwi Setyawan, ketua Forum Komunikasi Alumni (Fokal) IMM Rushan Fikr, menyampaikan, acara tersebut secara tidak langsung dilakukan sekaligus untuk mengkaji ulang kesinambungan antara Fokal dan Pimpinan Harian IMM. Dia juga berharap ke depan komisariat lebih mandiri dalam aspek apa pun untuk kemajuan kader.

Dalam hal ini, lanjut Dwi, para penggagas halalbihalal itu juga menginginkan informasi pekerjaan dan domisili alumni RF yang tersebar di seantero negeri. ”Harapannya, semua alumni masuk grup Fokal RF agar komunikasi selalu terjaga,” ujar Dwi yang juga dosen UMM.

Dwi Setyawan yang merupakan alumni angkatan 2006 masih tergolong “belum lama”. Masih ada alumni lain jauh di bawahnya yang menyempatkan hadir. Rivaldi Dasir salah satunya. Alumni angkatan 1998 itu menuturkan, pendidikan terpenting berawal dari keluarga. Kader-kader ikatan mesti sanggup berperan penting menebar manfaat untuk orang sekitar, terlepas apa pun pekerjaan dan gelarnya. “Semoga silaturahmi ini selalu tersambung,” harapnya.

Harapan tersambungnya silaturahmi juga diamini Syahrul Salam yang merupakan sejawat Rivaldi, angkatan 1998. ”Harus ada pertemuan lanjutan di Malang setelah pandemi,” ucapnya.

Di sisi lain, Alfi Yusrotis, alumni angkatan 2002 yang kini menjadi dosen di universitas masyhur, Bina Nusantara (Binus), mengatakan bahwa setiap kader maupun alumni harus selalu siap menghadapi kondisi apa pun. ”Kita nggak bisa mengontrol keadaan, tapi kita harus siap menghadapi apa pilihan di depan kita,” katanya. Menurut Yus, mendapat beasiswa memang butuh usaha yang cukup, tapi tidak menutup semua pintu. ”Saat ini akses S-2 dan S-3 cukup mudah karena informasinya terbuka, baik di dalam maupun di luar negeri,” ujar perempuan yang meraih gelar doktor di ITB tersebut.

Sementara itu, Rina Wahyu Setyaningrum membuka memori dengan menceritakan nostalgia saat menjalani masa sulit di IMM. ”Masa kepemimpinan Mbak Aisyah (alumni angkatan 1997 yang jadi ketua pertama perempuan, Red), komisariat dihuni oleh immawati. Bahkan hanya beberapa immawan yang dapat mengunjungi,” ujar dosen UMM tersebut.

Rina menambahkan, jejaring IMM selalu berlanjut hingga dunia kerja, terutama jika bekerja di amal usaha Muhammadiyah (AUM). ”Silaturahmi juga harus terus terjaga dan intens, khususnya untuk selalu diskusi dan berkontribusi dalam bidang pendidikan,” sambung alumni angkatan 1999 tersebut.

Perihal kontribusi dan tantangan di dunia pendidikan juga disampaikan Zaenal Muttaqin, angkatan 2000. Menurut dia, perubahan konsep tentang kebermanfaatan kader dalam dunia pendidikan bisa dimulai dari program kerja pimpinan. ”Pendampingan pendaftaran beasiswa untuk kader ini juga penting,” tandas pria yang tinggal di Probolinggo itu.

Namun, sejatinya diaspora alumni juga tak melulu di dunia pendidikan meskipun yang diambil adalah FKIP. Hal itu disampaikan Radfan Faisal. Pers, kata Radfan, juga bisa menjadi ruang belajar dan berkarya bagi para kader. ”Sedikit sekali teman-teman kader yang bergelut di dunia jurnalis, padahal pers berperan penting dalam edukasi. Terlepas pentingnya juga alumni RF menjadi pendidik,” kata mantan Pemred Radar Bromo yang baru saja beralih profesi jadi anggota KPU Probolinggo itu.

Para peserta halalbihalal IMM Raushan Fikr FKIP UMM. (Ishaq/Klikmu)

Namun, semua itu mesti dieksekusi mulai sekarang. Apalagi di tengah pandemi yang masih berlangsung sehingga membuat beberapa kegiatan yang diprogramkan PH urung terlaksana. Oleh karena itu, beberapa pihak mengusulkan diadakannya diskusi yang mengundang para alumni agar gagasan-gagasannya dapat dimengerti banyak kader.

Salah satu yang barangkali bisa dibedah tentu tentang pendidikan tadi. Miftahussururi yang kini menjabat Tim Stafsus Bidang Pembelajaran Kemendikbud menuturkan, empat kebijakan merdeka belajar yang jadi fokus Pak Menteri saat ini perlu dibedah di komisariat. Ada sharing session untuk kader dengan pembentukan kelas apa pun dari senior-senior.

”Ya, agar tetap produktif, komisariat boleh lebih sering mengadakan forum virtual seperti ini,” sahut Didik Wahyudi, angkatan 2008, yang jadi salah satu peneroka halalbihalal virtual ini.

Selain nama-nama di atas, beberapa yang bergabung dalam forum antara lain Nurbani Yusuf, Saadih Sidik, Wachid Ridwad, Abdul Wachid, Ach. Syahirul Alim, Choirul Umam, dan Aisyah. Ada pula Andayani Wijaya, Erick Kemal, Didik Prianto, Nurcholis Huda, Iin Inawati, Mulyanto, Syaiin Kodir, dan masih banyak yang lain. (Lutfi/Achmad San)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here