Hari Bela Negara Nasional: Pentingnya Keinsafan Bernegara Era Kekinian

0
362
Ilustrasi Indonesia. ©2016 Merdeka.com

Oleh: Fitratul Akbar *)

KLIKMU.CO

Tulisan ini dibuat dalam rangka memperingati Hari Bela Negara Nasional 19 Desember 2020

Tidak ada orang mencatat prestasi gemilang dalam perjuangan bangsa-bangsa dalam menentang penjajahan, kecuali segelintir pejuang yang terdiri dari pemimpin-pemimpin kabilah. Mereka adalah orang terakhir yang memperlihatkan heroisme yang kita warisi dari para pendahulu kita, dan berjuang secara gigih menentang penjajah, semata-mata untuk kepahlawanan dalam upaya untuk mengabadikan tradisi yang dijunjung tinggi oleh para pendahulu mereka. Lebih lanjut, keabadian memang di catatkan untuk mereka karena semangat juang mereka yang di dorong oleh semangat yang menggebu-gebu, sebab bangsa-bangsa lain yang menghadapi penjajahan pun ikut membakar semangat mereka.(Malik Bin Nabi, Membangun Dunia Baru Islam, hal 52).

Lebih lanjut, leluhur kita berjuang berpuluh tahun lamanya, berkorban berpuluh tahun lamanya, menderita kesukaran berbagai-bagai macam berpuluh tahun lamanya, agar kita menjadi satu bangsa yang merdeka. Oleh karena itu atas usaha leluhur kita, jangan saudara-saudara bangga mengatakan, bahwa kemerdekaan usaha kita sendiri.

Mereka para pendahulu kita berjuang habis-habisan membanting tulang dan memeras keringat, malah korban jiwa tidak sedikit. Ribuan pemuda yang tewas dalam perjuangan untuk mencapai kemerdekaan. Memang ini adalah pemberian kita pada nusa dan bangsa untuk mencapai tanah air yang merdeka. Tetapi jangan lupa, kita bisa mencapai dalam lima tahun ini kemerdekaan kita karena leluhur kita berpuluh tahun berjuang dan berkorban serta menderita kehidupan yang sengsara untuk mencapai apa yang kita cita-citakan, yaitu indonesia yang merdeka dan berdaulat telah di tangan kita. Sekarang timbul pekerjaan yang lebih berat lagi, yaitu mencapai apa yang kita cita-citakan, satu indonesia merdeka yang adil dan makmur.

Negara kita indonesia ini memiliki sumber daya alam yang bagus dan melimpah, juga indonesia memiliki keberagaman agama, ras, suku dan adat istiadat. Setiap-setiap provinsi, kota maupun daerah memiliki adat istiadat yang berbeda-beda dan dialek bahasa yang beragam.

Melihat potensi sumber daya alam negara indonesia dan penduduknya yang beraneka ragam. Maka tugas kita sebagai warga masyarakat dan negara yang baik adalah menjaga setiap kekayaan sumber daya alam, menjaga keberagaman seni budaya dan adat istiadat, menjaga ketertiban umum dan ikut serta tolong menolong dan gotong royong bersama pemerintah dalam mewujudkan negara indonesia yang adil dan makmur.

Negara kita indonesia ini adalah negara yang besar dan mempunyai sumber daya alam melimpah dan dihuni oleh ratusan juta penduduk dan memiliki keberagaman agama, ras, suku dan budaya. Sudah menjadikan hak dan kewajiban kita sebagai warga masyarakat dan negara yang baik adalah untuk menjaga kondisi lingkungan keluarga dan masyarakat yang adil, damai, harmonis, sejahtera. Juga, menyalahkan kobaran semangat api perjuangan untuk melanjutkan cita-cita luhur pada pahlawan pendahulu negara Indonesia, yaitu mewujudkan negara indonesia yang adil, harmonis, rukun dan makmur.

Oleh karena itu, sudah menjadikan hak dan kewajiban warga masyarakat indonesia bersama-sama membangun kembali rasa persatuan dan persaudaraan antar sesama anak bangsa. Singkirkan sifat individualis, saling mencaci-maki, mencemooh dan menebar fitnah antar sesama. Karena itu, satukan jiwa raga dan pandangan untuk mewujudkan negara indonesia yang bersatu, berdaulat dan menciptakaan keadilan sosial bagi seluruh masyarakat indonesia di masa kini maupun di masa datang.

Indonesia kini berusia 76 tahun dari hari kemerdekaannya, 17 Agustus 1945. Ketika seluruh elemen bangsa memperingati hari kemerdekaan, seluruh warga dan elit bangsa sepatutnya merenungkan kembali perjuangan filosofi serta cita-cita para pendiri bangsa ketika merebut kemerdekaan pada tahun 1945 melalui Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI.

Ketika di seluruh pelosok tanah air memperingati hari kemerdekaan ini, dihargai adanya upacara sosial dan ritual untuk memperingati hari yang bersejarah itu sebagai bentuk dari rasa memiliki. Juga melalui berbagai upacara, kita menunjukkan rasa memiliki rasa kebanggaan.

Tidak kalah penting, bagaimana kita menghayati kembali para pahlawan telah berkorban dengan harta, pikiran, tenaga, bahkan jiwa untuk Indonesia merdeka. Begitu juga dengan pasca kemerdekaan, dinamika penuh warna suka dan dukanya telah dijalani oleh bangsa Indonesia dalam pergumulan sejarah yang panjang.

Mari kita jadikan Indonesia sebagai negara yang setara bahkan unggul dibandingkan negara lain. Merdeka bukan hanya bebas dari penjajah. Tetapi untuk merdeka yang punya tujuan dan cita-cita, perlu ikhtiar dan kerja keras dan mengetahui kemana arah perjalanan Indonesia dibawa. Merdeka utuh, artinya setelah 76 tahun merdeka, Indonesia tidak boleh lagi berada dalam belenggu apapun, harus lebih maju, adil, sebagaimana cita-cita nasional Indonesia.

Proklamasi indonesia merdeka, pada tanggal 17 agustus 1945, tidak sendirinya melahirkan kemerdekaan kita yang diakui oleh segala bangsa. Proklamasi itu, pada waktu itu, baru berlaku bagi kita sendiri, sebagai kebulatan tekad kita untuk hidup sebagai bangsa yang merdeka di tengah-tengah bangsa lain, dalam pergaulan internasional. Memang tak mudah menjadi bangsa yang merdeka.

Pertama, kemerdekaan harus diperjuangkan. Dan pula sudah menjadi hukum sejarah, bahwa kelahiran tiap-tiap bangsa diiringi dengan cucuran darah dan air mata. Juga pada lahirnya republik indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, tidak sedikit darah yang tertumpah ke bumi, darah pemuda kita, dan sampai sekarang terus mengalir darah pemuda dan darah rakyat indonesia, untuk mempertahankan kemerdekaan indonesia, yang telah kita dirikan. Mudah-mudahan Tuhan yang maha kuasa menyuburkan tanah pusaka kita yang telah disirami darah murni itu, subur dengan melahirkan jiwa baru dan semangat baru, yang akan membela dan memangku kemerdekaan indonesia sampai akhir zaman dan akan membawa kemakmuran dan kesejahteraan hidup bagi rakyat seluruhnya.

Kedua, kedudukan sebagai bangsa merdeka tidak diperoleh begitu saja sebagai akibat dari revolusi nasional kita tanggal 7 agustus tahun 1945, melainkan harus diakui dahulu oleh dunia internasional. Kita mengetahui, betapa sulitnya mencapai pengakuan itu. Tidak mudah dan tidak lekas dunia internasional mau mengakui kemerdekaan sesuatu negara yang dahulu dijajah oleh negeri lain atau bagian dari suatu negeri, karena dunia internasional harus pula memperhatikan hukum-hukum yang dibuatnya dan perjanjian-perjanjian yang telah ada di antara bangsa dan diakuinya.(Bung Hatta, hal 67).

Keinsafan Bersama

Mungkin, kita perlu mencermati nasehat dari tokoh bangsa, sang proklamator RI dan Wakil Presiden pertama yaitu Bung Hatta mengenai kesadaran atau keinsafan nasional dalam hidup bermasyarakat dan bernegara yang masih relevan dengan kondisi negara hari ini.

Tiga macam keinsafan sekurang kurangnya harus ada pada kita, supaya kedudukan negara kita di mata dunia kelihatan kokoh.

Pertama, ialah keinsafan nasional, yaitu keyakinan bahwa kita adalah satu bangsa, bangsa yang merdeka, dan mempunyai kewajiban untuk mempertahankan kemerdekaan tanah air kita dengan segala jiwa dan raga. Tentang keinsafan nasional rakyat kita, kita boleh merasa bangga, semangat kebangsaan tetap meluap-luap.

Kedua, ialah keinsafan bernegara, yaitu pengertian bahwa kita ini mempunyai negara, yang ada hukumnya, ada peraturannya, dan mempunyai susunannya yang tertentu. Dalam hal ini kita boleh bertanya: cukup dalamkah keinsafan bernegara itu dalam jiwa rakyat seluruhnya dan juga dalam kalbu berbagai pemimpin? Berbagai-bagai tindakan yang merugikan negara di mata asing, memberi keyakinan kepada kita, bahwa keinsafan itu belum merata dan belum cukup mendalam.(Bung Hatta, hal 72-73).

Ketiga, ialah keinsafan berpemerintah. Kita harus mempunyai pengertian, bahwa pemerintah negara kita itu adalah pemerintah kita sendiri, yang patut kita hormati. Negara yang tak punya pemerintah bukanlah negara lagi di mata dunia internasional. Dalam negeri yang berdemokrasi, pimpinan pemerintah itu boleh di kritik. Tetapi cara mengkritik itu harus terbatas dalam garis kesopanan. Juga dalam melakukan kritik itu kita harus insaf akan tanggung jawab kita sendiri.(Bung Hatta, hal 73)

Dengan demikian, setia zaman punya tantangan masing-masing, jika dizaman penjajahan para pahlawan dan pendahulu dan rakyat indonesia bersatu padu, berjuang dengan semangat heroisme melawan para penjajah yang ingin menguasai wilayah, flora dan fauna negara indonesia tercinta, maka tantangan yang harus dihadai oleh generasi muda sekarang ini bagaimana setia anak muda mampu melawan narasi kebencian, konflik kekerasan/dll agar suaya generasi muda daat menjadi pemimin yang baik dimasa depan. Terima Kasih

*) Fitratul Akbar adalah mahasiswa Ekonomi Syariah, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Malang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here