Hoaks Tidak Sama dengan Opini, Media Framing, dan Iklan: Cermati Ciri-cirinya!

0
123

KLIKMU.CO – Tema Pengajian Ukhuwah Ahad Pagi kali ini cukup menarik, yakni Ghazwul Fikri: Fakta atau Hoaks. Bertempat di Masjid Assyuhada, Jalan Ngagel Jaya Utara No 102, kajian pada Ahad (17/2) yang dilaksanakan PCM Ngagel itu menghadirkan Ustaz M. Yusuf MSi sebagai pembicara.

Ustaz M. Yusuf mengatakan, hoaks adalah kabar bohong. Hoaks sudah sangat mewabah dan mengkhawatirkan. Namun, belum banyak yang membimbing.

“Berita itu adalah kabar. Kalau salah satunya salah, berarti hoaks,” ujarnya di hadapan puluhan jamaah yang hadir.

Komponen berita, menurut dosen di Stikom itu, terdiri atas judul, data atau fakta, narasi, dan kesimpulan. Jika di antara empat hal itu ada yang kurang jelas, patut diduga berita tersebut terindikasi hoaks.

“Misalnya, judulnya benar, narasinya benar, tapi kesimpulannya salah, itu bisa juga bisa hoaks,” tuturnya.

Penulis dua buku itu menyatakan, hoaks tidak sama dengan opini,media framing, ataupun iklan. Opini bersifat subjektif, yakni sesuatu yang disampaikan seseorang untuk membahas suatu masalah. “Bapak/ibu bisa setuju atau tidak dengan opini seseorang itu,” jelasnya.

Sementara itu, media framing adalah cara media menceritakan suatu peristiwa menurut mereka sendiri. Berita ditulis dari sudut pandang mereka. “Kelemahan media framing adalah ketidakberimbangan. Karena bisa jadi media tertentu lebih condong memberitakan ini daripada itu,” kata lulusan S-1 Ilmu Komunikasi Unair tersebut.

Selanjutnya, hoaks juga tak sama dengan iklan. Iklan adalah seni membujuk. Mereka mempromosikan produk atau jasa agar produk mereka dibeli oleh masyarakat. Jika terlihat baik di iklan, tetapi ternyata kurang pas faktanya, itu tidak bisa dikategorikan hoaks karena berupa iklan.

“Lantas, bagaimana Pak Yusuf dengan caleg yang menebar janji-janji itu? Mungkin iklan juga termasuk iklan ya,” celetuk Ustaz Yusuf retoris, disambut gelak hadirin.

Infrastruktur yang cukup memadai, menurut lulusan pascarsajana Unitomo tersebut, mengakibatkan penyebaran hoaks lebih mudah. Sekarang internet semakin murah. Salah satunya melalui media sosial. Mengapa media sosial mudah diakses? “Pertama, akses media sosial dan disukai masyarakat,” ujarnya.

Kedua, setiap pengguna bisa berpartisipasi dan ikut menyebarkannya. Ketiga, media sosial bersifat cepat, dinamis, dan real time. Keempat, pengguna dapat memiliki beberapa akun. “Terakhir, bisa digunakan juga sebagai media untuk berpromosi,” katanya.

Apa pula motif seseorang menyebar hoaks? Menurut Ustaz Yusuf, motifnya bisa politik, ideologi, atau sekadar iseng.

Sementara itu, ciri-ciri hoaks cukup banyak. Sedikitnya ada empat yang bisa dideteksi sejak awal. Pertama, judul bombastis dan sensasional. Kedua, judul juga provokatif dan menimbulkan ketakutan. “Ketiga, sumbernya tidak jelas. Misalnya, ketika dibuka website-nya, tidak kredibel,” jelasnya.

Saya beri contoh ada berita di website asiasatu.online. Media massa itu tidak cukup terkenal. Maka, harus dilihat ada atau tidak profil perusahaan dan susunan redaksi. Lihat juga di situs Dewan Pers Indonesia. Sebab, media yang kredibel pasti terdaftar di Dewan Pers.

“Dan ini yang mudah dideteksi, hoaks biasanya diakhiri dengan permintaan untuk dibagikan, klik, amin, dan sebagainya,” tuturnya. (Achmad San)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here