Hoax dan Mafsadatnya, Inilah Pandangan Ketua Muhammadiyah Kota Surabaya

0
154
Dr. Mahsun Jayadi, M.Ag Ketua PDM Kota Surabaya (berpeci), M. Arif An, SH Sekretaris PDM Kota Surabaya (dua dari kanan), M. Syaikhul Islam, MHI (paling kiri) saat acara Talkshow di RRI Kota Surabaya

KLIKMU.CO – Tanpa disadari dalam kehidupan keseharian kita dihadapkan sumber dosa yang mengangah. Penggunaan teknologi berupa HP tidak bijak dengan membuat kontain berita palsu (hoax) atau tulisan yang disengaja untuk membuka aib dan menjatuhkan pribadi sesorang, misalnya. Menjadi persoalan serius bagi kehidupan ummat dan kebangsaan kekinian. Lebih-lebih dalam konstalasi politik yang kian memanas.

Menurut Dr. Mahsun Jayadi, M.Ag. Ketua PDM Kota Surabaya pada dasarnya diharamkan bagi seorang muslim mengungkapkan ‘aib’ saudaranya, sebab hal itu hatermasuk perbuatan ‘ghibah’, yaitu mengungkapkan aib seseorang, pada saat orang itu tidak ada dihadapannya dan saudaranya itu tidak menyukainya jika berita tersebut sampai menjadi konsumsi publik.

Padahal, lanjut Mahsun sebuah pepatah Islam mengatakan “Siapa yang membuka aib orang lain, sama dengan memakan bangkai”.

Wakil Rektor 1 Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSurabaya) menerangkan dalam hadist Tirmidzi, dikatakan “Dan Barangsiapa yang menutupi (aib) seorang muslim sewaktu di dunia,maka Allah akan menutup (aibnya) di dunia dan akhirat.”

Dalam konteks pemberitaan yang tidak benar atau hoax merupakan bentuk mafsadat, dan itu sudah dilarang oleh Tuhan. Meski demikian, Mahsun tidak menampik bahwa tanpa disadari dan menyadari bahwa berita yang kita terima ditelaah dengan kritis. “Yang terjadi kan langsung menshere tanpa kita telaah kritis, nah perbuatan itu kan dikhawtirkan bagian ikut andil dalam merunyamkan sesuatu yang mana kebenarannya belum tentu jelas,” kata pria asli Lamongan ini.

Menurut Kyai Mahsun, ada beberapa hal yang patut diperhatikan dalam penggunaan media sosial. Pertama, tanggung jawab artinya harus berpikir dan bertanggung jawab terhadap konten yang diunggah karena menyangkut personalitas seseorang.

Kedua, saring kontain berita sebelum shering. “Terkadang kita tidak melakukan hal demikian, cukup shere dan shere, padahal berita bohong tersebut kita juga ikut andil memangkas dan tidak ikut jadi penyebar akan berita itu,” Kata Kyai Mahsun di Gedung Dakwah Muhammadiyah jalan Wuni no. 9 Kota Surabaya, Kamis (3/1).

Pada akhirnya, jelas Kyai Mahsun, yang harus diperhatikan agar tidak membicarakan aib orang lain ialah ambilah pelajaran bahwa berita yang menimpa orang bersangkutan merupakan ujian dan dijadikan pelajaran bagi kita. (Abd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here