Ibrah Kehidupan #102: Abdullah bin Ummi Maktum, Pahlawan Difabel (-1).

0
190
Foto diambil mustanir.net

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Nama lengkapnya adalah, Abdullah Ibnu Qays bin Za-idah bin al-Usham, Ibnu Ummi Maktum, al-Quraisyi. Dikenal di Makkah dengan panggilan “Ibnu Ummi Maktum”. Sementara orang Madinah lebih suka memanggilnya “Abdullah” saja. Nama Abdullah adalah nama pemberian Nabi Muhammad saw di awal masuk Islamnya. Ibunya bernama Atikah binti Abdullah, bergelar Ummi Maktum. Gelar itu disematkan padanya karena anaknya lahir dalam keadaan buta total.

Abdullah bin Ummi-Maktum berasal dari Suku Quraisy yang masih memiliki hubungan saudara dengan Khadijah binti Khuwailid (isteri Nabi Muhammad saw). Ia memiliki kekurangan, yaitu dia adalah seorang tuna netra tetapi hal ini tidak mengurangi keinginannya untuk memeluk dan belajar agama Islam. Ia memiliki status sosial yang biasa-biasa saja.

Abdullah bin Ummi Maktum menyaksikan ketika cahaya Islam mulai memancar di Makkah. Allah melapangkan dadanya menerima agama baru itu. Karena itu tidak diragukan lagi dia tidak termasuk kelompok yang pertama-tama masuk Islam. Sebagai muslim kelompok pertama, ‘Abdullah turut menanggung segala macam suka duka kaum muslimin di Makkah ketika itu. Dia turut menderita siksaan kaum Quraisy seperti diderita kawan kawannya seagama, berupa penganiayaan dan berbagai macam tindakan kekerasan lainnya. Tetapi apakah karena tindakan-tindakan kekerasan itu Ibnu ummi Maktum menyerah? Tidak……! Dia tidak pernah mundur dan tidak lemah iman. Bahkan dia semakin teguh berpegang pada ajaran Islam dan Kitabullah. Dia semakin rajin memepelajari syariat Islam dan seringh mendatangi majelis Rasulullah.

Begitu rajin dia mendatangi majelis Rasulullah, menyimak dan menghafal Al-Qur’an, sehingga setiap waktu senggang selalu disinya, dan setiap kesempatan yang baik selalu disebutnya. Bahkan dia sangat rewel. Karena rewelnya, dia beruntung memperoleh apa yang diinginkannya dari Rasulullah, di samping keuntungan bagi yang lain lain juga.

Tatkala tekanan dan penganiayaan kaum Quraisy terhadap kaum muslimin semakin berat dan menjadi jadi, Allah Ta’ala mengizinkan kaum muslimin dan Rasul-Nya hijrah. ‘Abdullah bin Ummi maktum bergegas meninggalkan tumpah darahnya untuk menyelamatkan agamanya. Dia bersama sama Mus’ab bin Umar sahabat-sahabat Rasul yang pertama tama tiba di Madinah, setibanya di Yatsrib (Madinah), ‘Abdullah dan Mush’ab segera berdakwah, membacakan ayat-ayat Al-Qur’an dan mengajarkan pengajaran Isalam.

Ibrah dari Kisah ini:

Sebuah contoh kisah sahabat Nabi saw yang cukup inspiratif, yakni Abdullah bin Ummi Maktum. Seorang yang mengalami kekurangan fisik yakni tuna netra (buta sejak lahir), tetapi justru kekurang sempurnaan secara fisik itu telah ditebus atau ditutupi oleh keteguhan dan semangat heroic yang ia tunjukkan dalam membela agama Islam.

Setelah Rasulullah tiba di Madinah, beliau mengangkat ‘Abdullah bin Ummi Maktum serta Bilal bin rabah menjadi Muadzin Rasulullah. Mereka berdua bertugas meneriakkan kalimah tauhid lima kali sehari semalam, mengajak orang banyak beramal saleh dan mendorong masyarakat merebut kemenangan. Apabila Bilal adzan, maka ‘Abdullah qamat. Dan bila ‘Abdullah adzan, maka Bilal qamat.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here