Ibrah Kehidupan #103: Ibnu Ummi Maktum, Gara-gara Dia Allah Menegur Nabi (-2)

0
185
Foto diambil mustanir.net

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Abdullah bin Ummi-Maktum adalah seorang tuna netra Sahabat Nabi Muhammad. Yang karena dialah, Nabi Muhammad mendapat teguran dari Allah, sewaktu Nabi Muhammad berbicara dengan para pembesar Quraisy, dengan harapan mereka bisa memeluk Islam. Para pembesar Quraisy adalah: Utbah bin Rabi’ah, Abu Jahal, Abbas bin Abdul Muthalib, Ubay bin Khalaf dan Umayyah bin Khalaf.

Kisahnya adalah sebagai berikut:
Pada masa permulaan dakwah Islam di Mekah, Rasulullah sering mengadakan dialog dengan para pembesar Quraisy, dengan harapan agar mereka mau menerima Islam. Suatu kali beliau bertatap muka dengan Utbah bin Rabiah, Syaibah bin Rabi’ah, Amr bin Hisyam atau lebih dikenal dengan Abu Jahal, Umayyah bin Khalaf dan Walid bin Mughirah, ayah Khalid bin walid.
Rasulullah berdiskusi dengan mereka tentang Islam.

Beliau sangat ingin mereka menerima dakwah dan menghentikan penganiayaan terhadap para sahabat beliau. Sementara beliau berunding dengan sungguh-sungguh, tiba-tiba Abdullah bin Ummi Maktum datang ‘mengganggu’ minta dibacakan kepadanya ayat-ayat Alquran.
Abdullah mengatakan, “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku ayat-ayat yang telah diajarkan Allah kepada Anda.

Rasul yang mulia tidak memperdulikan permintaan Abdullah bin Ummi Maktum. Beliau agak acuh kepada perkataan Abdullah itu. Lalu beliau membelakangi Abdullah dan melanjutkan pembicaraan dengan pembesar Quraisy tersebut. Rasulullah berharap, mudah-mudahan dengan Islamnya mereka, Islam tambah kuat dan dakwah bertambah lancar.
Selesai berbicara dengan mereka, Rasulullah bermaksud hendak pulang. Tetapi tiba-tiba penglihatan beliau gelap dan kepala beliau terasa sakit seperti kena pukul. Kemudian Allah mewahyukan firman-Nya kepada beliau,
عَبَسَ وَتَوَلَّىٰ [1] أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىٰ [2] وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّىٰ [3] أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَىٰ [4] أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَىٰ [5] فَأَنْتَ لَهُ تَصَدَّىٰ [6] وَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّىٰ [7] وَأَمَّا مَنْ جَاءَكَ يَسْعَىٰ [8] وَهُوَ يَخْشَىٰ [9] فَأَنْتَ عَنْهُ تَلَهَّىٰ [10] كَلَّا إِنَّهَا تَذْكِرَةٌ [11] فَمَنْ شَاءَ ذَكَرَهُ [12] فِي صُحُفٍ مُكَرَّمَةٍ [13] مَرْفُوعَةٍ مُطَهَّرَةٍ [14] بِأَيْدِي سَفَرَةٍ [15] كِرَامٍ بَرَرَةٍ
[16]
Dia ( Muhammad ) bermuka masam dan berpaling (1), karena seorang buta datang kepadanya(2), Tahukah kamu, barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa) (3), dan seterusnya sampai ayat ke 16.….bisa dilihat dalam QS. ‘Abasa : 1-16.

Enam belas ayat itulah yang disampaikan Jibril Al-Amin ke dalam hati Rasulullah sehubungan dengan peristiwa Abdullah bin Ummi Maktum, yang senantiasa dibaca sejak diturunkan sampai sekarang, dan akan terus dibaca sampai hari kiamat.
Sejak hari itu Rasulullah saw semakin memuliakan Abdullah bin Ummi Maktum.

Ibrah dari Kisah ini:

Ibnu Ummi Maktum, sahabat Nabi saw yang senior, penyandang difabel (tuna netra), tetapi tidak menjadi alasan baginya berkhidmat bahkan berjihad di jalan Allah sesuai dengan kemampuan yang ia miliki.

Bahkan gara-gara dia yang ingin mendapat pengajaran dari Nabi, padahal Nabi saat itu sedang meladeni diskusi dengan tokoh-tokoh Quraisy, sampai Allah menegur Nabi Muhammad. Teguran Allah tsb. Diabadikan dalam al-Qur’an surat ‘Abasa ayat 1-16.
Ibnu Ummi Maktum, seorang tuna netra mendapatkan kemudahan untuk tidak mengikuti pertempuran dalam membela Islam.

Tetapi karena keinginannya yang keras agar mendapatkan “Syahid” , akhirnya, Ia dapat mengikuti pertempuran dalam “Perang Qadisiyyah” di bawah komando Sa`ad bin Abi Waqqas dan mendapatkan mati syahid.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here