Ibrah Kehidupan #109: Miqdad bin Aswad, Orator dan Filsuf yang menampik jabatan (-3 habis).

0
219

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Miqdad bin Aswad, pernah tampil berbicara mengobarkan semangat di tengah ketakutan dan kegalauan kaum Muslimin dalam peperangan Badar karena kekuatan musuh yang begitu dahsyat. Miqdad berkata, “Wahai Rasulullah, teruslah laksanakan apa yang dititahkan Allah, dan kami akan bersama anda. Demi Allah, kami tidak akan berkata seperti apa yang dikatakan Bani Israil kepada Nabi Musa, ‘Pergilah kamu bersama Tuhanmu dan berperanglah berdua’.

Tetapi kami akan mengatakan kepada anda ya Rasulullah, ‘Pergilah Engkau bersama Tuhanmu dan berperanglah, dan kami ikut berjuang di sampingmu’. Demi yang telah mengutus engkau membawa kebenaran! Seandainya engkau membawa kami melalui lautan lumpur, kami akan berjuang bersamamu dengan tabah hingga mencapai tujuan.”
Kata-katanya mengalir laksana anak panah yang lepas dari busurnya. Hingga merasuk ke dalam hati orang-orang Mukmin. Dan wajah Rasulullah saw pun berseri-seri sementara mulutnya mengucapkan doa yang terbaik untuk Miqdad.

Dari ucapan yang dilontarkan Miqdad tadi, tidak saja menggambarkan keperwiraannya semata, tetapi juga melukiskan logikanya yang tepat dan pemikirannya yang dalam. Itulah sifat Miqdad. Ia seorang filsuf dan pemikir. Hikmah dan filsafatnya tidak saja terkesan pada ucapan semata, tapi terutama pada prinsip-prinsip hidup yang kukuh dan perjalanan hidup yang teguh, tulus, dan lurus.

Dari keanggunan pribadinya, keberaniannya mengungkapkan kebenaran, tidak mengherankan jika Rasulullah saw menikahkan Miqdad dengan sepupu beliau, Dhuba’ah binti Zubair bin Abdul Muththalib.

Miqdad juga turut serta dalam perang-perang penaklukan bersama pasukan Islam. Pada saat Amru bin Ash meminta tambahan pasukan kepada Khalifah Umar bin Khaththab untuk membobol benteng Babilon, Umar bin Khathtab radhiyallahu ‘anhu mengirimkan 4.000 pasukan yang dipimpin oleh para sahabat senior, yaitu Zubair bin Awwam, Miqdad bin Amru, Ubadah bin Shamit, dan Maslamah bin Mukhallad.

Miqdad bin Aswad dikenal sebagai orang yang pandai dalam ilmu agama. la termasuk salah seorang yang banyak meriwayatkan hadits Rasulullah. Miqdad bin Aswad pernah diangkat oleh Rasulullah saw sebagai Gubernur di suatu wilayah. Tatkala ia kembali dari tugasnya, Nabi saw bertanya, “Bagaimana dengan jabatanmu?”

Miqdad menjawab dengan jujur, “Wahai Rasul, Engkau telah menjadikanku menganggap diri ini di atas rakyat, sedang mereka di bawahku. Demi Allah yang telah mengutusmu membawa kebenaran, mulai saat ini saya tidak akan mau menjadi pemimpin sekalipun untuk dua orang.”

Miqdad bin Aswad menjadi gubernur, lalu dirinya diliputi kemegahan dan pujian. Kelemahan ini disadarinya hingga ia bersumpah akan menghindarinya dan menolak untuk menjadi gubernur lagi setelah pengalaman pahit itu. Dan ia menepati janjinya itu. Sejak saat itu, ia tak pernah menerima jabatan pemimpin.

Miqdad bin Aswad sering mengucapkan sabda Nabi SAW yang berbunyi, “Orang yang berbahagia ialah orang yang dijauhkan dari kehancuran.” Jika jabatan kepemimpinan dianggapnya suatu kemegahan yang menimbulkan atau hampir menimbulkan kehancuran bagi dirinya, maka syarat untuk mencapai kebahagiaan baginya ialah menjauhi jabatan.

Ibrah dari Kisah ini:

Tidak diragukan lagi, Miqdad bin Aswad, yang nama lengkapnya adalah al-Miqdad bin Amru bin Sa’ad al-Kindi, al-Aswad. Adalah profil sahabat Rasul saw yang berkepribadian “anggun”. Seorang yang amat dalam pengetahuan agamanya, banyak meriwayatkan hadits, memiliki kehati-hatian dalam bersikap dan berperilaku.
Miqdad bin Aswad, selain perwira di bidang militer, dia merupakan prajurit pertama yang berperang dengan menunggang kuda di saat sahabat yang lain menunggang unta. Sahabat lain yang mengikuti jejak Miqdad sebagai prajurit berkuda adalah Zubair bin Awwam dan Martsad bin al-Martsad.

Keistimewaan Miqdad bin Aswad yang tak kalah penting adalah: dia dikenal sebagai orator pembangkit semangat dan mampu membangun self confident (percaya diri) pada kaum muslimin terutama menghadapi musuh islam.

Wahai Kader 1912, Miqdad bin Aswad juga dikenal sangat menghindari “Pujian” dan “Kemewahan”, sehingga pernah tidak nyaman dengan jabatan gubernur yang pernah diamanahkan oleh Nabi saw. Akhirnya Miqdad bin Aswad menampik jabatan apapun yang ditawarkan kepadanya.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here