Ibrah Kehidupan #115: Ummu Aiman, Wanita Cadel itu bersemangat jihad (-2).

0
351
Ilustrasi diambil dari Republika.co.id

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Ummu Aiman adalah wanita yang cadel (susah berbicara). Suatu ketika Ummu Aiman datang kepada Nabi Muhammad dan berkata, “Salaamun laa ’alaikum” (Semoga keselamatan tidak terlimpahkan kepadamu). Nabi Muhammad saw pun memaklumi ucapan salamnya itu, karena yang dia maksudkan sebenarnya adalah, ”Assalamu ’alaikum” (Semoga keselamatan tetap terlimpahkan kepadamu).

Suatu ketika, Nabi Muhammad saw ingin menyeru kaum muslimin pada perang Hunain, maka Barkah-pun berseru, “Sabatalloohu aqdamakum (semoga Allah mengistirahatkan kaki kalian).” Padahal yang dimaksud adalah “Tsabbatalloohu aqdamakum (semoga Allah mengokohkan kaki kalian”,). Karenanya, Nabi bersabda: أُسْكُتى يَا أُمَّ أَيْمَنٍ فَإِ نَّكِ عُسَرَاءُاللِّسَانِ (“Diamlah, wahai Ummu Aiman, karena engkau adalah seseorang yang cadel lisannya.”)

Ketika Rasulullah saw mengizinkan kaum muslimin untuk berhijrah ke Madinah, Ummu Aiman termasuk wanita yang berhijrah angkatan pertama. Ummu Aiman berhijrah di jalan Allah dengan berjalan kaki berjarak 480 Km. dan tanpa membawa bekal.

Dalam salah satu riwayat disebutkan, saat perjalanan hijrah itu suasana hari sangat panas, sementara ia sedang melakukan puasa, ia sangat kehausan, tiba-tiba ada ember di atasnya yang menjulur dari langit dengan tali berwarna putih. Lalu, Ummu Aiman meminum air yang ada di dalamnya hingga kenyang. Ummu Aiman berkata, “Saya tidak pernah lagi merasakan haus sesudah itu. Sungguh, saya biasa menghadapi rasa haus dengan puasa di siang hari, namun kemudian aku tidak merasakan haus lagi setelah minum air tersebut. Meskipun aku puasa pada siang hari yang panas, aku tetap tidak merasakan haus.”
Ummu Aiman yang bernama asli Barkah binti Tsa’labah itu, ternyata seorang wanita pejuang yang hebat. Dengan segala keterbatasan dan kelebihan yang ia miliki, tekadnya ingin selalu berdakwah dan berusaha melakukan aktifitas positive untuk kemuliaan Islam sampai hari tua-nya.

Di samping sifat-sifatnya yang terpuji, Ummu Aiman juga seorang wanita yang selalu ingin bergabung bersama para pahlawan Islam dalam memerangi musuh-musuh Allah swt untuk meninggikan kalimat-Nya (Li i’laa-i Kalimatillah), kendatipun usianya sudah tua. Dia ikut di medan perang Uhud. Di sana dia berusaha memanah sekuat kemampuannya, memberi minum pasukan yang kehausan, dan mengobati mereka yang terluka. Dia juga turut menyertai Nabi Muhammad saw dalam Perang Khaibar.

Ibrah dari Kisah ini:

Barkah binti Tsa’labah (Ummu Aiman) seorang Muslimah, pengasuh Nabi Muhammad saw sejak kecil sampai remaja/ dewasa.
Barkah bin Tsa’labah (Ummu Aiman) dikaruniai Allah lidah yang cadel sehingga susah bicara.

Tetapi kekurang sempurnaan secara fisik ini, telah ditutupi dengan keistimewaan yang luar biasa pada diri Barkah. Integritas serta loyalitasnya kepada keluarga Nabi Muhammad saw adalah bukti nyata “keistimewaan” tersebut. Di samping itu tingginya ghiroh perjuangannya dalam dakwah Islam adalah bukti nyata lainnya.

Barkah bin Tsa’labah (Ummu Aiman) pemilik sifat lemah lembut, kasih sayang, telaten, penyabar, kokoh pendirian, memiliki semangat jihad yang tinggi, pantang menyerah. Pengabdiannya untuk agama telah dilakukannya secara totalitas, bukan riya’ apalagi pencitraan.

Wahai kader 1912, Nabi Muhammad saw sendiri sangat hormat kepadanya. Beliau memanggil Ummu Aiman dengan “Wahai Ibuku” . Beliau sendiri mengatakan bahwa Ummu Aiman adalah wanita ahli surga.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here