Ibrah Kehidupan 118#: Aisyah, Sicantik, Cerdas Nan Wibawa (-1).

0
694
Ilustrasi diambil dari annsaqodri-wordpress

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Nama lengkapnya, Aisyah ( عائشة) binti Abu Bakar Asshiddiq . Aisyah sendiri secara etimologis berarti “hidup dan Sehat”. Sedangkan penulisan dalam beberapa literatur terdapat varian, antara lain: ‘Aisha, A’ishah, Ayesha, A’isha, Aishat, atau Aisya yang memiliki makna yang sama pula.

Dalam tradisi literasi Islam, sering ditambahkan pula gelar yaitu “Ibu orang-orang Mukmin” (Arab: أمّ المؤمنين / ummul-mu’minīn) sebagai gambaran kualitas bagi para istri Nabi Muhammad saw sebagai “Ibu dari orang-orang Mukmin”. Gelar itu muncul lama berselang setelah wafatnya Khadijah binti Khuwailid (istri pertama Nabi Muhammad saw).
Ibunda dari Aisyah bernama Ummu Ruman binti Umair, berasal dari kabilah Bani Kinanah. Dari Ibu Ummu Ruman ini Aisyah juga punya saudara yakni Abdurrahman.
Tentang Abu Bakar sendiri (Ayahanda Aisyah, sebagaimana telah penulis tampilkan pada seri yang lalu), nama aslinya sebelum Islam : Abdul Ka’bah, dan setelah Islam, Nabi Muhammad saw memanggilanya dengan nama Abdullah, ayahanda dari Abu Bakar bernama Abu Quhafah Utsman (wafat 14 H/635). ibunda dari Abu Bakar bernama Ummu al-Khair Salmi, binti Sakhr bin Amr bin Ka’ab, keduanya dari suku Taim melalui jalur Murrah, kakek leluhur kelima, memiliki hubungan dengan Nabi saw.

Sebagian riwayat menyebutkan bahwa panggilan “Abu Bakar” memang ada kaitannya dengan salah seorang anaknya bernama Bakar. Tetapi riwayat lain menyebutkan bahwa “Abu Bakar” sebenarnya adalah julukan yang bernada ejekan dari pihak yang tidak suka kepadanya. Bakr = Fashl, artinya yaitu anak unta muda yang baru disapih dari induknya.
Karena kepribadiannya yang agung, maka Abu Bakar sering mendapat gelar yang cukup bermartabat. Gelar-gelar Abu Bakar adalah: ‘Atiq (sosok pria yang tampan), Shiddiq (manusia yang jujur dan bisa dipercaya), dan Shohibur Rasul (sahabat setia Rasulullah saw).

Kembali ke pokok bahasan semula, Aisyah binti Abu Bakar (Arab:عائشة بنت أبي بكر) adalah istri Nabi Muhammad saw. Ia termasuk wanita cantik, cerdas, wibawa dan berpengaruh dalam sejarah awal Islam. Karena peran aktifnya di masyarakat, termasuk di bidang politik, nama Aisyah lebih populer dibanding istri-istri Nabi yang lain pasca wafatnya Khadijah.
Abu Bakar Asshiddiq (sang Ayahanda dari Aisyah) pada suatu saat merasa Aisyah sudah cukup umur untuk menikah, karena hal itu, Aisyah akan dinikahkan dengan Jubayr bin Muth’im, tetapi pernikahan tersebut batal karena Ayah Jubair, Muth‘im bin ‘Adi menolak aisyah, dikarenakan Abu Bakar telah masuk Islam. Istri Muth’im bin ‘Adi mengatakan tidak mau keluarganya mempunyai hubungan dengan para muslim, dikhawatirkan nanti dapat menyebabkan Jubair juga akan masuk islam.

Menurut penelitian yang dilakukan Ghulam Nabi Muslim Shahib, ketika Aisyah dinikahi oleh Nabi Muhammad saw, dia berumur 19 tahun. Sebagian riwayat lainnya (termasuk Bukhari dan Muslim) menyatakan bahwa upacara perkawinan Aisyah dengan Nabi Muhammad saw terjadi di usia enam tahun, dan Aisyah diantarkan memasuki rumah tangga Nabi Muhammad saw sejak umur sembilan tahun.
Malam pengantin Nabi saw dan Aisyah baru dilangsungkan beberapa tahun setelah akad nikah, yaitu setelah melakukan hijrah ke Madinah ketika Aisyah telah berumur cukup dewasa.

Ibrah dari Kisah ini:

Aisyah binti Abu Bakar, adalah salah satu isteri Nabi Muhammad saw yang cantik, cerdas, dan wibawa, serta berpengaruh besar terutama di awal-awal perkembangan Islam.
Karena kecerdasan dan kewibawaannya itu maka Aisyah sering dipanggil “Ummul Mukminin” (ibunda orang-orang beriman). Bahkan menjadi rujukan oleh para sahabat dalam persoalan-persoalan hukum kehidupan keluarga, pasca wafatnya Nabi Muhammad saw.

Aisyah, putri dari Abu Bakar Asshiddiq yang tidak lain adalah sahabat Nabi Muhammad saw, yang dikenal tampan, jujur/ bisa dipercaya, dan menjadi sahabat setia Nabi Muhammad saw baik dalam suka maupun duka, terutama di awal-awal dakwah Islam baik periode Makkah maupun periode Madinah.

Wahai kader 1912, Aisyah, dinikahi oleh Nabi Muhammad saw di Makkah dalam usia yang relative masih muda, dan masih berdiam di rumah ortunya. Tetapi sekitar dua tahun kemudian ketika hijrah ke Madinah barulah Aisyah hidup berumah tangga dengan Nabi Muhammad saw.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here