Ibrah Kehidupan #120: Aisyah, Intelektual dan Politikus yang Kritis (-3)

0
252
Ilustrasi diambil dari annsaqodri-wordpress
http://klikmu.co/wp-content/uploads/2018/01/iklan720.jpg

 

Para sejarawan sepakat mengakui bahwa Aisyah merupakan sosok wanita intelektual, yang tanpa lelah meriwayatkan hadis tentang kehidupan Nabi Muhammad saw.
Aisyah merupakan salah seorang dari cendekiawan Muslimah di awal sejarah islam, di mana para sejarawan menghitung sampai seperempat dari hukum Islam berasal dari Aisyah. Aisyah adalah istri utama Nabi Muhammad saw, dan menjadi contoh dari jutaan wanita di dunia.

Suatu ketika Rasulullah saw sedang berbaring sambil mengenakan kain milik Aisyah. Saat itu Abu Bakar Asshiddiq meminta izin untuk bertemu dengannya. Abu Bakar diizinkan masuk, sedang Rasulullah saw tetap dalam posisinya.

Lalu Umar ibnul Khattab juga meminta izin untuk bertemu Nabi saw, dia pun diizinkan masuk. Kemudian Utsman datang meminta izin untuk bertemu beliau. Saat itu Rasulullah saw segera bersiap-siap dan memerintahkan Aisyah untuk merapikan pakainnya.
Aisyah bertanya pada Rasulullah saw, “Wahai Rasulallah, kenapa ketika bertemu Abu Bakar dan Umar engkau tidak beranjak dari posisimu. Namun ketika bertemu Utsman engkau menyambutnya sedemikian rupa dan merapikan pakaianmu?”
Rasulullah saw menjawab, “Bagaimana aku tidak menyambut dan menghormatinya, sedangkan malaikat saja segan dan malu kepadanya (Utsman bin Affan).
Sejak pertengahan tahun kedua kepemimpinan Utsman bin Affan, Aisyah mulai menampakkan diri untuk terjun dalam dunia politik. Dia bergabung dengan kelompok oposisi terhadap Khalifah Utsman.

Aisyah banyak melontarkan kritik keras pada Utsman bin Affan melalui statement-statement yang disampaikan pada umat islam, bahkan beberapa kali Aisyah bertemu langsung dengan Utsman bin Affan di Masjid Nabawy Madinah. Di antara kritikannya adalah persoalan penempatan dan pengangkatan pejabat negara yang tidak atau kurang memperhatikan faktor profesionalisme, dan banyak mendasarkan pada faktor relasi atau yang lebih popular dengan istilah KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme).
Beberapa sumber menyatakan, ketika Utsman bin Affan wafat, kekhalifahan digantikan oleh Ali bin Abi Thalib. Aisyah-pun menunjukkan ketidak sukaannya kepada Ali bin Abi Thalib. Kritik Aisyah kepada kepemimpinan Ali bin Abi Thalib antara lain soal ketidak tegasannya mengenai peristiwa pembunuhan terhadap Utsman bin Affan. Pelaku pembunuh Utsman bin Affan harus segera ditangkap, diadili, dan diqishash. Tetapi nampaknya kinerja Ali dinilai lamban.

Sikap kritis Aisyah kepada Utsman bin Affan maupun Ali bin Abi Thalib ini, menunjukkan secara positive bahwa Aisyah bukan hanya peduli tentang pendalaman keagamaan, tetapi juga persoalan-persoalan politik kenegaraan.

Peran Aisyah dalam pergerakan melawan pemerintahan Khalifah Ali bin Abi Thallib yang berujung pada Perang Jamal adalah bukti nyata keterlibatan Aisyah di dunia politik.
Sikap kritis Aisyah terhadap pemerintahan juga dia tunjukkan ketika dia banyak mengkritik kebijakan pemerintahan Muawiyah bin Abu Sufyan (dinasti Bani Umayah) yang merubah system pemerintahan demokratis Syuro ke system monarchi. Dari kenyataan ini bisa diambil benang merahnya, bahwa terlepas dari soal suka dan tidak suka, Aisyah Ummul Mukminin merupakan sosok yang peduli terhadap agamanya, dan peduli juga terhadap lingkungan masyarakatnya.

Aisyah berpolitik praktis tidak lain untuk mengkritisi kinerja pemerintahan, menyelamatkan dan menjaga marwah agama Islam sehingga kelak di kemudian hari agama Islam ini akan diwarisi oleh generasi berikutnya dalam kondisi yang elegan.

Ibrah dari Kisah ini:

Aisyah binti Abu Bakar Asshiddiq, istri Rasulullah saw, dikaruniai oleh Allah paras yang cantik, cerdas, wibawa, memiliki aura seorang intelektual yang sangat berpengaruh.
Aisyah binti Abu bakar Asshiddiq, selain cantik dan cerdas, juga memiliki pengetahuan agama yang sangat mendalam, banyak menhafal hadits-hadits Nabi Muhammad saw, sehingga menjadi rujukan para sahabat pasca wafatnya Rasulullah saw.

Aisyah binti Abu Bakar Asshiddiq, peduli terhadap pemahaman dan pengamalan ajaran agama Islam, juga peduli terhadap perkembangan masyarakat lingkungannya.
Aisyah terjun ke dunia politik praktis terutama sejak dua tahun perjalanan pemerintahan Utsman bin Affan, di zaman kekhalifahan Ali bin Abi Thallib, dan di zaman Mu’awiyah bin Abu Sufyan (penguasa pertama dari dinasti Bani Umayyah).

Wahai kader 1912, Aisyah mengkritisi kebijakan Utsman bin Affan, mengkritisi kebijakan pemerintahan Ali bin Abi Thalib, dan juga mengkritisi kinerja Muawiyah bin Abu Sufyan khalifah pertama dari dinasti Bani Umayyah. Tidak lain tujuannya agar Islam dan umat Islam tetap terjaga marwahnya.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here