Ibrah Kehidupan #122: Ja’far bin Abi Thalib, Mirip Nabi Muhammad saw. (-1).

0
648
Foto diambil dari Islam Kafah

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Nama lengkapnya adalah Ja’far bin Abi Thalib (Arab: جعفر ابن أبي طالب), adalah putera dari Abu Thalib (berarti sepupu dari Nabi Muhammad saw), dan kakak dari Khalifah ke-4 Ali bin Abi Thalib. Ja’far dibesarkan oleh pamannya, Abbas bin ‘Abdul Muththalib, karena ayahnya (Abu Thalib) yang miskin dan harus menghidupi keluarga besar.
Terdapat kemiripan antara Ja’far dan Nabi Muhammad saw, baik dalam rupa maupun sifat yang dimiliki. Nabi Muhammad saw memanggil Ja’far, “Abil Masakin” (Bapak orang-orang Miskin), karena ia selalu menolong dan membantu orang miskin dengan semua apa yang dimiliki.

Di kalangan bani Abdi Manaf ada lima orang yang sangat mirip dengan Rasulullah saw, sehingga seringkali orang salah menerka. Mereka itu adalah Abu Sufyan bin Harits bin Abdul Muthallib, sepupu sekaligus saudara sesusuan beliau. Qutsam Ibnul Abbas bin Abdul Muthallib, sepupu Nabi. Saib bin Ubaid bin Abdi Yazid bin Hasyim. Ja’far bin Abu Thalib, saudara Ali bin Abu Thalib. dan Hasan bin Ali bin Abu Thalib, cucu Rasulullah saw, Dan Ja’far bin Abi Thalib adalah orang yang paling mirip dengan Nabi saw di antara mereka berlima.

Ja’far bin Abi Thalib termasuk golongan awal orang-orang yang memeluk Islam, sewaktu kecil dia dalam pengasuhan pamannya yaitu Al-Abbas, begitu juga saudaranya Ali bin Abi Thalib berada dalam pengasuhan Nabi Muhammad saw sendiri.
Ja’far bin Abi Thalib kemudian menikah dengan Asma binti Umays. Pasangan suami istri Bani Hasyim yang muda belia ini tidak luput pula dari penyiksaan kaum kafir Quraisy, sebagaimana yang diderita kaum Muslimin yang pertama-tama masuk Islam. Namun mereka bersabar menerima segala cobaan yang menimpa. Pada akhirnya suami istri ini diizinkan oleh Nabi Muhammad saw berhijrah ke Habasyah (ethiopia).

Ja’far pun menjadi pemimpin kaum Muslimin yang berangkat ke Habasyah. Mereka merasa lega, bahwa Raja Habasyah (Najasyi) adalah orang yang adil dan saleh. Di Habasyah, kaum Muslimin dapat menikmati kemanisan agama yang mereka anut, bebas dari rasa cemas dan ketakutan yang mengganggu dan yang menyebabkan mereka hijrah.
Ja’far bin Abi Thalib beserta istri tinggal dengan aman dan tenang dalam perlindungan Najasyi yang ramah tamah itu selama kurang lebih tujuh tahun. Dan, kemudian melalui dia raja negeri Habasyah, An-Najasyi masuk Islam setelah menerima surat dari Nabi Muhammad saw yang dikirim melalui Amr bin Ummayyah Adh-Dhamary.

Ja’far bin Abi Thalib kembali pulang dari Habasyah sewaktu penaklukan Khaibar dan ikut menuju Khaibar bersama dengan Abu Musa Al-Asy’ary. Pada tahun 629, Ja’far bin Abi Thalib ikut perang Mu’tah dan gugur. Selain dia, ikut gugur pula sahabat Zaid bin Haritsah dan Abdullah bin Rawahah. Peperangan itu merupakan peperangan pertama umat islam dengan pasukan Romawi.

Ja’far dan istrinya, Asma’ bin Umays, bergabung dalam barisan kaum Muslimin sejak dari awal. Keduanya menyatakan Islam di hadapan Abu Bakar Ash-Shiddiq sebelum Rasulullah saw masuk ke rumah Al-Arqam.

Pada tahun ke-7 Hijriyah, kedua suami istri itu meninggalkan Habasyah dan hijrah ke Yatsrib (Madinah). Kebetulan Rasulullah saw baru saja pulang dari Khaibar. Beliau sangat gembira bertemu dengan Ja’far sehingga karena kegembiraannya beliau berkata, “Aku tidak tahu mana yang menyebabkan aku gembira, apakah karena kemenangan di Khaibar atau karena kedatangan Ja’far?”

Ibrah dari kisah ini:

Ja’far bin Abi Thalib, adalah sosok sahabat Nabi Muhammad saw yang juga sepupu Nabi saw yang secara total mendukung dakwah Nabi Muhammad saw bahkan di awal-awal keislamannya dia mengalami berbagai penyiksaan dari kaum kuffar quraisy.
Salah satu keistimewaan Ja’far bin Abi Thalib, ialah kemiripan rupa / fisik, serta sifat-sifatnya dengan Nabi Muhammad saw. Hal ini wajar karena Ja’far adalah sepupu Nabi saw.
Berbagai penyiksaan yang dia alami bukannya melemah imannya, bahkan sebaliknya semakin kuat iman dan semakin kokoh pembelaannya kepada agama yang diyakininya, Islam.

Wahai kader 1912. Ja’far bin Abi Thalib memimpin rombongan umat Islam berhijrah ke Habasyah mencari perlindungan dari kekejaman kuffar quraisy. Raja Najasyi-pun memberi perlindungan dan keleluasaan menjalankan agama.
Setiap perjuangan, pasti membutuhkan pengorbanan. Dalam menghadapi pengorbanan dibutuhkan ketahanan dan kesabaran. Tidak satupun keberhasilan yang sepi dari rintangan dan tantangan.
Maka kader 1912, jadilah generasi pejuang seperti ja’far bin Abi Thalib. Selamat berjuang.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here