Ibrah Kehidupan #123: Ja’far Bin Abi Thalib, Negosiator Bernyali (-2).

0
336
Foto diambil dari Islam Kafah

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Dari Abu Hurairah dia berkata, Rasulullah saw, bersabda: “Janganlah kalian mencela para Sahabatku. Demi dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya salah seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, tidaklah sampai (menyamai) satu mudd (satu cakupan dua tangan, pent) infak mereka, tidak pula setengahnya” (HR. Al-Bukhari, bab Fadhailush shahabah, Fathul Bari 7/21 hadits No. 3673 dan Muslim: Fadhailush shahabah 4/1967 hadits nomor 221 dan 222). Di antara sosok yang lekat di hati beliau adalah Ja’far bin Abi Thalib. Dia sangat mirip dengan beliau baik fisik/ rupa maupun sifat-sifatnya.

Ketika orang-orang Quraisy mengetahui keberadaan Ja’far bin Abi Thalib beserta kaum muslimin berada di habasyah di bawah lindungan An-najasyi, kaum kuffar quraisy mengutus ‘Amr bin Al Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ah untuk memprovokasi sang raja agar mengusir kaum muslimin dari habasyah. Tetapi Ja’far bin Abi Thalib pimpinan rombongan kaum muslimin, yang dikenal negosiator ulung dan cukup bernyali menghadapi siapapun, tidak tinggal diam. Berkat keberanian serta kecerdasan Ja’far bin Abi Thalib dalam bernegosiasi, akhirnya sang raja membenarkan keyakinan kaum muslimin, dan melindunginya.

Di hadapan majelis para pejabat dan uskup dengan percaya diri, bernyali, dan penuh kesopanan Ja’far berkata, “Tuanku, dahulu kami adalah suatu kaum yang bodoh, kami menyembah patung-patung berhala, memakan bangkai dan tidak henti-hentinya melakukan berbagai kejahatan. Kami biasa memutus hubungan kekerabatan, tidak mau ambil peduli dengan kerepotan atau kesusahan tetangga, dan yang kuat menindas yang lemah.

Dalam keadaan demikian, Allah mengutus kepada kami seorang Rasul yang kami kenal baik keramahan keluarganya serta terjamin kejujuran, ketulusan dan amanahnya. Kami diajak untuk menyembah Allah semata dan meninggalkan penyembahan terhadap batu-batu dan patung. Beliau menyuruh kami jujur dalam berbicara, menyampaikan amanah, menyambung tali persaudaraan dan berbuat baik kepada tetangga. Beliau melarang kami berbuat keji, menghindari pertumpahan darah, tidak menyebarkan kata-kata fitnah, mengadu domba atau berdusta.

Itu sebabnya kami percaya dan mau mengikuti ajaran yang dibawanya. Kami menghalalkan apa yang dihalalkan dan mengharamkan yang diharamkan. Ketika kaum kami beriman kepada Rasul saw, mereka orang-orang kuffar quraisy menyiksa kami dengan sewenang-wenang untuk mengembalikan pada kebodohan, yaitu penyembahan berhala.
Ketika sudah tidak tahan lagi dizalimi, ditindas dan dihalang-halangi dalam beragama, kami lari ke negeri Tuan. Kami mengutamakan negeri ini daripada lainnya, karena kami telah mendengar kebijaksanaan Tuan. Kami berharap bisa bernaung di bawah pemerintah Tuan” (Dibawah Naungan Pedang, Abu Royhan, hal. 387 – 388).

Demikianlah untaian kata-kata Ja’far yang membuat raja terkagum-kagum. Penguasa itu menangis terharu dan membenarkannya. Akhirnya ia melindungi kaum muslimin dan mereka tinggal di Habasyah dengan penuh kedamaian serta mampu melaksanakan ajaran Islam. Utusan Quraisy itupun akhirnya kembali dengan terhina dan semua hadiah dikembalikan.

Ibrah dari Kisah ini:

Ja’far bin Abi Thalib, bukan hanya memiliki sifat-sifat kelembutan, kasih sayang, dan keramahan, tetapi juga memiliki kecerdasan, keberanian dan keperwiraan yang luar biasa.
Ja’far bin Abi Thalib sangat terbukti dan teruji kepiawaiannya dalam berdiplomasi dan melakukan negosiasi. Hal ini terutama ketika umat Islam berhijrah mencari perlindungan ke Habasyah (Ethiopia).

Ketika kaum kuffar quraisy menginginkan agar kaum muslimin yang mengungsi di habasyah segera diusir oleh raja Najasyi. Mereka mengutus utusan untuk menghadap raja yang intinya meminta kepada raja agar kaum muslimin diusir dari Habasyah.
Tetapi berkat kepiawaian dan keberanian Ja’far bin Abi Thalib (selaku ketua rombongan) berdiplomasi dan bernegosiasi dengan raja, sehingga mampu mementahkan argumentasi Amru bin Ash (utusan kaum kuffar quraisy).

Sang raja-pun akhirnya membenarkan argumentasi Ja’far bin Abi Thalib, dan kaum muslimin dijamin aman tetap tinggal di Habasyah dalam waktu yang lama. Bahkan kemudian sang raja-pun akhirnya masuk Islam.

Wahai kader 1912. Sungguh kebenaran itu ketika diperjuangkan dengan sungguh-sungguh, maka akan mengalahkan kebathilan, meskipun kebathilan itu dalam jumlah yang besar. “wa qul Jaa-al haqqu wa zahaqol baathilu, innal baathila kaana Zahuuqoo” (dan katakanlah hai Muhammad, telah datang kebenaran dan hancurlah kebathilan, sesungguhnya kebathilan itu pasti hancur).

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here