Ibrah Kehidupan #124: Ja’far bin Abi Thalib, sang Ayah Wafat Sebelum Bersyahadat (-3)

0
209
Foto diambil dari Islam Kafah
http://klikmu.co/wp-content/uploads/2018/01/iklan720.jpg

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Kelembutan serta kecerdasan seorang Ja’far bin Abi Thalib berhasil mengantarkan istrinya Asma binti Umays ke jalan hidayah (masuk Islam), hingga nantinya disepanjang jalan hidupnya, keduanya bersama-sama mengarungi pahit manis sebagai seorang muslim yang bertakwa.

Meski kebahagiaan Islam telah menyelimuti hatinya, namun kebahagian kakak Ali Bin Abi Thalib ini belum utuh. Sebab sang ayah yang sangat dicintainya, Abu Thalib enggan mengikuti kebenaran yang dibawa keponakannya, Nabi Muhammad saw. Padahal Abu Thalib selalu di barisan terdepan membela Rasulullah saw dari kedengkian kaum Quraisy. Hanya do’alah yang bisa dipanjatkan Ja’far bin Abi Thalib agar sang ayah mau membuka hatinya menerima hidayah Islam.

Maka ketika Islam semakin menyebar di Kota Mekah, kaum Quraisy semakin berang dan tidak terima. Mereka membuat banyak gangguan untuk menjatuhkan Islam serta melemahkan iman kaum Muslimin. Maka ketika kaum kuffar Quraisy tidak bisa menghalangi dakwah Rasulullah saw lantaran sang Nabi mendapatkan pembelaan dari keluarga besarnya, mereka pun mulai melampiaskan amarah dengan menyiksa kaum miskin dan lemah.

Tapi siksaan demi siksaan yang diterima kaum muslimin justru membuat iman mereka semakin kokoh dan mantap. Demikian kejam siksaan kaum Quraisy terhadap kaum Muslimin, sehingga keinginan melawan semakin besar, termasuk Ja’far Bin Abi Thalib. Ia begitu kesal dengan perlakuan kaumnya tapi tidak bisa berbuat apa-apa, sebab Rasulullah saw melarang kaum Muslimin untuk melawan dan hanya meminta agar bersabar.
Di negeri hijrah pertamanya (habasyah) itu, Asma, istri Ja’far melahirkan putra pertama mereka dan diberi nama Abdullah. Sebuah nama yang menujukan keislaman seseorang sebagai hamba yang hanya mengabdi kepada Allah. Kelahiran putra Ja’far disambut bahagia oleh Najasyi. Sang raja memberinya banyak hadiah.

Selama kurang lebih tujuh tahun di negeri Habasyah, Ja’far dan kaum muslimin begitu merindukan Rasulullah saw. Tak dinyana sebuah kabar datang yang membuat hati Ja’far hancur, bahwa Abu Thalib, sang ayah yang amat dicintainya wafat (meninggal dunia) dalam keadaan belum bersyahadat (Wallohu a’lam).

Di lain pihak, kaum muslimin mendapatkan kemenangan gemilang pada perang Haibar, Jafar Bin Abi Thalib meninggalkan Habasyah menuju Madinah. Kedatangannya begitu membahagiakan Rasulullah saw, sehingga Nabi sendiri tidak menyadari kebahagiaan yang dirasakannya apakah karena kemenangannya dalam perang Haibar, atau karena kedatangan Ja’far.

Disebutkan dalam sebuah riwayat (Fiqhudda’wah Muhammad Natsir), bahwa ketika Abu Thalib sakit menjelang ajal, Nabi Muhammad saw memohon berkali-kali kepada pamannya itu agar sudi mengucapkan dua kalimat syahadat. Dengan modal itu Nabi akan memohonkan dispensasi ampunan kepada Allah swt untuk keselamatan pamannya itu. Namun berkali-kali juga pamannya menolak (Wallohu a’lam).

Lantaran permintaan yang berulang-ulang dari Nabi Muhammad saw itu, akhirnya Abu Thalib memberikan jawaban : Sungguh aku sudah mengetahui bahwa di antara agama-agama yang pernah aku ketahui, maka agamamu Muhammad adalah sebaik-baik dan sebenar-benar agama yang ada. Seandainya aku tidak khawatir penilaian miring orang-orang quraisy kepadaku, maka sesungguhnya untuk mengucapkan “apa yang kamu minta” (syahadat) adalah mudah bagiku. Setelah itu wafatlah Abu Thalib tanpa keimanan (Wallahu a’lam).

Ibrah dari Kisah ini:

Ja’far bin Abi Thalib mengharungi kehidupannya penuh berliku. Banyak pengalaman dalam hidupnya yang menggembirakan bahkan cukup inspiratif bagi generasi muda. Tetapi tidak sedikit pula pengalaman kegetiran dalam hidupnya. Tetapi kegetiran dalam hidupnya inipun cukup inspiratif bagi generasi muda, sebab Ja’far mampu menghadapinya dengan penuh kesabaran, ketabahan, serta ketahanan mental.

Wahai kader 1912, Ja’far bin Abi Thalib juga mengalami kesedihan yang amat dalam, ketika khabar datang kepadanya bahwa sang ayah (Abu Thalib) wafat sebelum bersyahadat (Wallahu a’lam). Disebutkan dalam salah satu riwayat bahwa keengganan Abu Thalib membaca syahadat adalah lantaran “gengsi” dan malu di hadapan tokoh-tokoh Quraisy.
Seharusnya generasi muda, generasi dakwah memiliki kepercayaan diri yang kokoh, tidak mudah terkecoh oleh rayuan siapapun, dan tetap berani unjuk diri dalam kebenaran, tanpa gengsi dan takut jatuh harga diri.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here