Ibrah Kehidupan # 124: Ja’far bin Abi Thalib, Si Burung Syurga (-4 habis).

0
255
Foto diambil dari Islam Kafah

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Pada awal tahun ke-8 Hijriyah, Rasululalh saw menyiapkan pasukan tentara untuk memerangi tentara Romawi di Muktah. Beliau mengangkat Zaid bin Haritsah menjadi komandan pasukan.

Rasulullah saw berpesan, “Jika Zaid tewas atau cidera, komandan digantikan Ja’far bin Abi Thalib. Seandainya Ja’far tewas atau cidera pula, dia digantikan Abdullah bin Rawahah. Dan apabila Abdullah bin Rawahah cidera atau gugur pula, hendaklah kaum muslmin memilih pemimpin/ komandan di antara mereka.”

Setelah pasukan sampai di Muktah, yaitu sebuah kota dekat Syam dalam wilayah Yordania, mereka mendapati tentara Romawi telah siap menyambut dengan kekuatan 100.000 pasukan inti yang terlatih, berpengalaman, dan membawa persenjataan lengkap. Pasukan mereka terdiri dari milisi Nasrani Arab dari kabilah-kabilah Lakham, Judzam, Qudha’ah, dan lain-lain. Sementara, tentara kaum Muslimin yang dipimpin Zaid bin Haritsah hanya berkekuatan 3.000 tentara.

Begitu kedua pasukan yang tidak seimbang itu berhadap-hadapanan, pertempuran segera berkobar dengan hebatnya. Zaid bin Haritsah gugur sebagai syahid ketika dia dan tentaranya sedang maju menyerbu ke tengah-tengah musuh.
Melihat Zaid jatuh, Ja’far segera melompat dari punggung kudanya, kemudian secepat kilat disambarnya bendera komando Rasulullah dari tangan Zaid, lalu diacungkan tinggi-tinggi sebagai tanda pimpinan kini beralih kepadanya. Dia maju ke tengah-tengah barisan musuh sambil mengibaskan pedang kiri dan kanan memukul roboh setiap musuh yang mendekat kepadanya.

Ja’far berputar-putar mengayunkan pedang di tengah-tengah musuh yang mengepungnya. Suatu ketika tangan kanannya terkena sabetan musuh sehingga buntung. Maka dipegangnya bendera komando dengan tangan kirinya.
Tangan kirinya putus pula terkena sabetan pedang musuh. Kemudian dipeluknya bendera komando ke dadanya dengan kedua lengan yang masih utuh. Namun tidak berapa lama kemudian, kedua lengannya tinggal sepertiga saja dibuntung musuh. Ja’far pun syahid menyusul Zaid.

Secepat kilat Abdullah bin Rawahah merebut bendera komando dari komando Ja’far bin Abi Thalib. Pimpinan kini berada di tangan Abdullah bin Rawahah, dan akhirnya dia gugur pula sebagai syahid, menyusul kedua sahabatnya yang telah syahid lebih dahulu.
Rasulullah saw sangat sedih mendapat berita ketiga panglimanya gugur di medan tempur. Beliau pergi ke rumah Ja’far, didapatinya Asma’binti umays, istri Ja’far, sedang bersiap-siap menunggu kedatangan suaminya. Dia mengaduk adonan roti, merawat anak-anak, memandikan dan memakaikan baju mereka yang bersih dan bagus.
Beliau memberi salam dan menanyakan anak-anak kami (cerita Asma’ binti Umays). Beliau menanyakan mana anak-anak Ja’far, suruh mereka ke sini.”
Asma’ kemudian memanggil mereka semua dan disuruhnya menemui Rasulullah saw, Anak-anak Ja’far berlompatan kegirangan mengetahui kedatangan beliau. Mereka berebutan untuk bersalaman kepada Rasulullah. Beliau menengkurapkan mukanya kepada anak-anak sambil menciumi mereka penuh haru. Air mata beliau mengalir membasahi pipi mereka.

Asma’ bertanya, “Ya Rasulullah, demi Allah, mengapa anda menangis? Apa yang terjadi dengan Ja’far dan kedua sahabatnya?” Beliau menjawab, “Ya, mereka telah syahid hari ini.”
Rasulullah berdoa sambil menyeka air matanya, “Ya Allah, gantilah Ja’far bagi anak-anaknya… Ya Allah, gantilah Ja’far bagi istrinya.”
Kemudian beliau bersabda, “Aku melihat, sungguh Ja’far berada di surga. Dia mempunyai dua sayap berlumuran darah dan bertanda di kakinya.”

Ibrah dari kisah ini:

Ja’far bin Abi Thalib, pahlawan dan pejuang Islam sejati. Sungguh Ja’far bin Abi Thalib sangat istimewa di hadapan Rasulullah saw serta para sahabat lainnya.
Selain memiliki sifat-sifat kelembutan, kasih sayang, peduli terhadap orang-orang dhu’afa’ (miskin papa). Juga memiliki fisik yang kuat, perwira, perkasa, dan totalitas dalam berjuang menegakkan kalimah Allah swt.

Yang tak kalah istimewanya, ialah bahwa Ja’far bin Abi Thalib, ternyata mirip dengan Rasulullah baik penampilan fisik maupun sifat-sifat dan karakternya. Baginya berjuang menegakkan kalimah Allah (addinul Islam) adalah harga mati, apapun resikonya.
Wahai kader 1912, Rupanya Ja’far bin Abi Thalib yang sepupu Nabi Muhammad saw ini sangat faham bahwa hakekat hidup ini adalah berjuang. (Qif Duuna Ro’yika fil Hayaati Mujaahidah, Innal hayaata aqiidatun wa jihaadun : Tegakkan sikap hidupmu sebagai Mujahid, sebab hakekat hidup itu sendiri adalah tegaknya aqidah dan Jihad).

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here