Ibrah Kehidupan #127: Asma’ binti Abi Bakar. Wanita dermawan dan tak pernah merasa miskin.(-3)

0
250
Foto diambil dari Abu-abu Putih

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Pada saat hijrah, Abu Bakar Assiddiq membawa seluruh hartanya yang berjumlah sekitar 5.000 hingga 6.000 dinar. Lalu kakeknya yang buta, Abu Quhafah datang kepada Asma’. Abu Quhafah berkata : “Demi Allah, sungguh aku mendengar bahwa Abu Bakar telah meninggalkanmu pergi dengan membawa seluruh hartanya?”
Mendengar pertanyaan itu, Asma’ berkata, ”’Sekali-kali tidak, wahai, Kakek! Sesungguhnya, Beliau telah menyisakan buat kami harta yang banyak.” Kemudian Asma mengambil batu-batu dan meletakkannya di lubang angin (fentilasi rumah), tempat ayahnya pernah meletakkan uang itu. Kemudian dia menutupinya dengan selembar baju.
Setelah itu Asma memegang tangan kakeknya dan berkata: “Letakkan tangan Kakek di atas uang ini.” Sang kakek pun merasa lega. “Kalau memang dia telah meninggalkan harta untukmu, maka dia telah berbuat baik. Ini sudah cukup bagi kalian.” Kemuliaan akhlak Asma’ itu telah menenangkan rasa gundah di hati sang kakek.

Padahal, yang sebenarnya Abu bakar tidak meninggalkan sekeping dinar pun bagi keluarganya. Namun, Asma’ mengikhlaskannya. Ia tak menuntut harta dari sang ayah. Bahkan, ketika Zubair bin Awwam meminangnya, Asma’ tak menuntut apa-apa.
Ia menerima Zubair sebagai suaminya, yang tak memiliki apapun, kecuali seekor kuda. Dengan penuh keikhlasan, Asma’ memberi makan kudanya dan mencukupi kebutuhan serta melatihnya. Ia menumbuk biji kurma untuk makanan kuda, memberinya air minum dan membuat adonan roti.

Suatu ketika Zubair bersikap keras terhadapnya, lalu Asma’ mengadu kepada ayahnya. Abu Bakar pun berkata, ‘”Wahai anakku, sabarlah! Sesungguhnya apabila seorang istri bersuami seorang yang saleh, kemudian suaminya meninggal dunia, sedang isterinya tidak menikah lagi, maka keduanya akan berkumpul di surga.”
Asma’ pun sempat datang kepada Nabi SAW, lalu bertanya, “Wahai, Rasulullah, tak ada sesuatu yang berharga di rumah saya kecuali kuda yang dibawa Zubair (suamiku). Bolehkah saya memberikan sebagian pendapatan saya kepadanya?”
Nabi saw menjawab :”Berikanlah sesuai kemampuanmu dan janganlah bakhil, sehingga orang lain akan bakhil terhadapmu.

“Asma’ adalah Muslimah yang sangat dermawan. Para sahabat mengakuinya. Dari Abdullah bin Zubair berkata, “Tidaklah kulihat dua orang wanita shalihah yang lebih dermawan daripada Aisyah dan Asma’.”
Kedermawanan mereka berbeda. Aisyah suka mengumpulkan sesuatu dan setelah banyak lalu dibagikannya. Sedangkan Asma’ tidak menyimpan sesuatu untuk besoknya. Asma’ adalah seorang wanita yang dermawan dan pemurah. Saat menderita sakit, Asma’ lalu membebaskan semua hamba sahayanya. Asma’ tidak pernah merasa miskin walau hidupnya pas-pasan.

Asma’ juga merupakan Muslimah pejuang yang tangguh. Ia sempat ikut dalam Perang Yarmuk bersama suaminya, Zubair, dan menunjukkan keberaniannya. Umar bin Khattab ra sangat menghormati Asma’. Ketika menjadi khalifah, ia memberi tunjangan untuk Asma’ sebanyak 1.000 dirham.
Dalam catatan sejarah, Asma’ meriwayatkan 58 hadis dari Nabi saw. Selain itu, ia juga dikenal sebagai wanita penyair dan pemberani yang mempunyai Burhan (logika) dan bayan (tekstual). Ia tetap melakukan syiar Islam di usianya yang sudah lanjut.

IBRAH DARI KISAH INI:

Asma’ binti Abi Bakar, sosok shohabiyyah (sahabat dari kalangan wanita) yang dikenal kokoh aqidahnya, semangat juangnya tinggi, penyabar, dermawan, dan tidak pernah merasa miskin meskipun hidupnya bisa dibilang sering pas-pasan. Tidak pernah mengeluh apalagi merasa pesimis dalam hidupnya, Tidak pernah.

Asma’ ditinggal hijrah Ayahnya (Abu Bakar Asshiddiq) dan tidak ditinggali apapun, dia tidak pernah mengeluh, dan seluruh proses kehidupan dia jalani dengan syukur, optimis, dan senantiasa berusaha mendapatkan rizqi dari Allah swt. dengan jalan yang halal.
Sampai-sampai kakeknya (Abu Kuhafah) yang buta, merasa prihatin karena anaknya (Abu Bakar Asshiddiq) pergi hijrah tanpa meninggali anaknya apapun.

Tetapi Asma’ menyiasatinya dengan membungkus tumpukan batu dan ditunjukkan (lewat rabaan tangannya) ke kakeknya bahwa Abu Bakar memberi peninggalan yang cukup.
Wahai Kader 1912. Keberanian Asma’ dalam memperjuangkan agama Allah swt, ternyata merupakan turunan dari Ayahnya sendiri (Abu Bakar Asshiddiq). Berjuang harus semangat, pantang menyerah, pantang mengeluh.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here