Ibrah Kehidupan #128: Asma’ Binti Abi Bakar, Dikenal berjuluk “Pemilik Dua Ikat Pinggang”. (-4)

0
508
Foto diambil dari Abu-abu Putih

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Di dalam Shahihain dari Asma’ binti Abu Bakar r.a. berkata, “Ibuku mendatangiku sedangkan dia masih musyrik pada zaman Rasulullah saw, maka saya meminta fatwa kepada Rasulullah saw. Aku berkata, “Sesungguhnya ibuku mendatangi diriku dengan penuh harap, apakah aku boleh berhubungan dengannya?” Rasulullah saw bersabda, “Ya berhubunganlah dengan ibumu.”

Adapun Asma’ binti Abi Bakar dipanggil dengan “Dzatun Nithaqain“ (pemilik dua ikat pinggang), Ketika itu Asma’ melaksanakan tugas mengirim perbekalan untuk Nabi Muhammad saw dan Abu Bakar Asshiddiq (ayahnya) yang tengah transit (bersembunyi) di gua tsur. Asma’ harus pulang pergi ke gua tsur mengantar perbekalan, itupun harus dilakukan di malam hari untuk menghindari agar tidak ketahuan siapapun.
Seorang Asma’ pulang pergi sendirian, di malam hari, itupun dalam keadaan hamil. Ini luar biasa bagi seorang mujahidah. Dalam melaksanakan tugas berat itu Asma’ kelihatan merasa kesulitan karena harus mengikat dan mengaitkan bahan makanan dan minuman di badannya serta harus menutupnya agar tersembunyi supaya tidak kelihatan orang, padahal selendang atau ikat pinggang yang digunakan hanya satu lembar saja.
Melihat keadaan itu maka ayahnya (Abu Bakar Asshiddiq) memerintahkan kepada Asma’ agar selendang atau ikat pinggang itu disobek/ dibelah menjadi dua bagian agar bisa cukup digunakannya. Asma’-pun menuruti perintah ayahnya, jadilah selendang atau ikat pinggang itu menjadi dua.

Karena Asma’ pernah membelah ikat pinggangnya menjadi dua untuk mempermudah baginya dalam membawa dan menyembunyikan makanan dan minuman yang akan beliau kirim ke gua Tsur untuk Rasulullah saw Bersama Abu Bakar Asshiddiq, tatkala proses hijrah. Maka di hari berikutnya Asma’ merasa mudah melaksanakan tugas mulia itu.
Tatkala Rasulullah saw melihat apa yang telah dilakukan oleh Asma’ terhadap ikat pinggangnya tersebut maka beliau memberi julukan kepadanya “Dzatun Nithaqain” (pemilik dua ikat pinggang). Jadilah panggilan popular khusus untuk Asma’ pasca kejadian itu.

Ketika masih kecil, “Dzatun Nithaqain” telah menghadapi teror dan ancaman dari musuh Allah, Abu Jahal yang datang kepadanya, untuk memaksanya agar memberitahukan rahasia tempat persembunyian ayahnya.
Akan tetapi, Asma’ tetap menjaga tanggung jawab sekalipun masih berusia muda, beliau menyadari bahwa satu kata yang keluar dari mulutnya bisa menyebabkan bahaya besar menimpa Rasulullah saw dan ayahnya, maka beliau hanya diam dan tidak ada kalimat yang keluar dari mulutnya selain, “Aku tidak tahu.”
Maka si musuh Allah itu akhirnya menampar beliau dengan tamparan yang keras hingga jatuh anting-antingnya, kemudian meninggalkan beliau dan pergi dengan menyimpan kejengkelan menghadapi gadis yang dianggap keras kepala tersebut.

Keberanian Asma’ bukan hanya menhadapi tokoh sekaliber Abu Jahal. Kepada siapapun dia tidak pernah minder. Pernah suatu ketika banyak pencurian di kota Madinah, maka Asma’ selalu menyelipkan di atas kepalanya sebilah pisau tajam, kemanapun pergi selalu membawa pisau itu.
Suatu saat banyak orang melihatnya aneh dan terkesan Asma’ berbuat sesuatu yang tak wajar. Lalu ditanyakan langsung kepadanya : wahai Asma’ apa yang akan kau lalkukan dengan pisau yang selalu kamu bawa itu? Dengan lantang dia menjawab : kalau ada pencuri berani masuk rumahku, atau siapapun dan di manapun mencoba membuat keonaran, maka pisau ini jawabannya.

IBRAH DARI KISAH INI:

Asma’ binti Abi Bakar, dikenal sebagai wanita Muslimah yang kuat iman, pejuang yang Tangguh, bahkan dikenal sebagai “petarung” yang sangat disegani oleh siapapun.
Pasca kejadian memilukan yakni menyobek/ membelah selendang atau ikat pinggangnya menjadi dua agar bisa mengikat dan mengaitkan perbekalan yang dibawa untuk Nabi Muhammad saw bersama Abu Bakar yang sedang sembunyi di gua tsur, Nabi Muhammad saw memberi julukan panggilan kepada Asma’ dengan panggilan “Dzatun Nithaqain” , pemilik dua ikat pinggang.

Wahai kader 1912, Ketika seseorang telah menentukan pilihan menjadi aktifis pejuang kebenaran, maka pantang surut ke belakang, pantang takut miskin, pantang mengeluh. Sebab pasti harus yakin bahwa “Bersama Allah pasti menang” . Penolong kita bukan uang, penolong kita bukan jabatan. Penolong kita adalah Allah swt (Hasbunalloh wanikmal wakiil, nikmal maulaa wanikmannashiir).

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here