Ibrah Kehidupan #130: Ubaidah ibnu Al-Harits, Duel Head to Head, Melawan Utbah bin Rabi’ah (-2)

0
489
Foto diambil dari Twitter

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Sebelum perang berkecamuk (dalam perang Badar) diawali dengan perang tanding / duel satu lawan satu. Maka maju-lah tiga orang sahabat Anshar, yakni Mu’awwidz ibn al-Harits, Auf ibn al-Harits, dan Abdullah ibnu Ruwahah. Ke tiganya langsung loncat ke medan laga memenuhi tantangan duel itu.

Ketiga muslim itu langsung menghunus pedang mereka berhadapan dengan tiga orang kafir. Namun setelah mereka berhadapan, utbah dan dua kawannya (dari pihak kafir) bertanya, “Siapa kalian ?”
Abdullah ibn Ruwahah menjawab, “Aku Ibnu Ruwahah laki-laki Anshar.” Dengan angkuh dan nada yang sinis, Utbah dan Syaibah berkata, “kami tak punya urusan dengan kalian.”

Lalu kafir Quraisy itu kembali menyerukan tantangan dengan lantang : “wahai Muhammad, perintahkanlah tiga orang dari kaum kami (Muhajirin) yang pantas dan selevel menghadapi kami!”

Mereka merasa bahwa kaum Anshar lebih rendah derajatnya daripada kaum Quraisy, karena Kaum Quraisy merupakan suku yang terpandang dan sangat dihormati di jazirah Arab, terutama karena mereka yang berkuasa dalam mengelola Tanah Haram Makkah, di mana Ka’bah telah menjadi tempat ziarah mereka selama ratusan tahun atau bahkan ribuah tahun.

Kemudian Rasulullah saw. Memerintahkan kepada para sahabatnya, “Bangkitlah wahai Ubaidah ibn al-Harits, Hamzah, dan Ali.” Ketika mereka telah berhadapan, kaum Musyrik itu berkata, “Siapa kalian?”
Ubaidah menjawab, “Aku Ubaidah ibn al-Harits”

Hamzah berkata, “Aku Hamzah ibn Abdul Muthalib”
Dan Ali berkata, “Aku Ali ibn Abu Thalib”
Mereka berkata lagi, “Nah, ini baru lawan yang sebanding”.
Ubaidah al-Harits, yang usianya paling tua, berkelahi melawan Utbah ibn Rabi’ah, Hamzah melawan Syaibah ibn Rabi’ah, dan Ali melawan al-Walid ibn Utbah. Ali dapat membunuh al-Walid dengan cepat, begitu pula dengan Hamzah dapat segera membunuh Syaibah.

Sedangkan Ubaidah dan Utbah terlihat masih berkelahi dengan sengit. Melihat anak dan saudaranya tewas di hadapannya, lalu Utbah sendiri yang maju untuk menuntut balas yang kali ini dihadapi oleh Ubaidah bin Harits. Mereka laksana dua tiang yang kokoh, saling beradu pukulan dan tampaknya kekuatan mereka seimbang. Ubaidah berhasil memukul pundak Utbah hingga patah, tetapi Utbah berhasil memotong betis kaki Ubaidah, keduanya tampak sekarat.

Melihat kejadian tersebut, Ali dan Hamzah langsung menghampiri Utbah dan mengayunkan pedangnya dan menuntaskan perlawanan Utbah. Setelah mereka membunuh Utbah ibn Rabi’ah, Kemudian keduanya mengangkat tubuh Ubaidah ibn al-Harits yang terluka parah dan menyerahkannya kepada para sahabat yang lainnya untuk dirawat.

Usai duel head to head yang ditandai dengan terbunuhnya musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya saw di tangan para prajurit dan pahlawan Islam, kedua pasukan beradu. Tak lama kemudian kaum musyrikin kalah tidak berdaya, sedangkan kaum muslimin mendapat kemenangan yang gilang gemilang.

IBRAH DARI KISAH INI :

Drama perlawanan kaum muslimin melawan kaum musyrikin dalam peperangan yang popular disebut sebagai “Perang Badar” menunjukkan sikap kepahlawanan dan keperwiraan para prajurit muslim dibawah komando Nabi Muhammad saw.

Dari sekian banyak sahabat syuhada’, satu di antaranya adalah Ubaidah Ibnu al-Harits. Meskipun sahabat yang masih sepupu Nabi ini tidak terlalu popular dibandingkan para sahabat senior lainnya, tetapi peran yang dimainkan Ubaidah ini sungguh luar biasa dalam membela agama Allah sebagai agama yang lurus, sebagai agama yang haq.

Ubaidah dengan naluri keberaniannya di bidang kemiliteran, telah siap duel head to head (perang tanding satu-lawan-satu. Lawannya-pun dikenal sebagai orang kuat kafir quraisy, si raja sombong Utbah bin Rabi’ah.

Ubaidah meladeni tantangan Utbah berhadap-hadapan, dan berakhir dengan tersungkurnya Utbah di tempat kejadian setelah mendapatkan hunjaman pedang Ubaidah mengenai pundaknya sekaligus patah.

Wahai Kader 1912, Hikmah yang bisa kita petik dari peristiwa ini, bukan soal terbunuhnya Utbah, juga bukan soal perang tanding satu lawan satu yang cukup dramatis. Tetapi yang paling penting adalah sikap tulus dan kesungguhan di dalam membela agama Allah. Keberanian dalam membela kebenaran harus dilakukan lahir batin, fisik dan mental, jiwa dan raga. Para sahabat telah membuktikan ketulusan, keikhlasan dan keberaniannya itu semua, salah satunya adalah Ubaidah ibnu al-Harits.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here