Ibrah Kehidupan #132: Sumayyah binti Khayyath. Mantan Budak Perempuan, Masuk Islam Nomor Urut 7 (-1)

0
204
Foto dIambil dari Youtube.com

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Nama nya adalah Sumayyah binti Khayyath (Literasi Arab: سمية بنت خياطّ‎), adalah hamba sahaya (budak) milik Abu Huzaifah bin al-Mughirah. Sumayyah adalah budak yang penurut, berperangai baik sehingga disukai oleh Tuan-nya Abu Khudzaifah. Di kemudian hari bertemu dengan pemuda bernama Yasir yang kemudian menjadi suaminya.
Awal kisah bertemunya dengan Yasir adalah: Ketika itu, Yasir dan dua saudaranya, al-Harits dan Malik, ketiga bersaudara itu berasal dari Yaman, sedang mencari saudara mereka yang hilang sejak beberapa tahun terakhir.

Ketiga pemuda itu mencari hingga ke pelosok dan penjuru berbagai kota, tetapi tak mendapati kabar tentang saudara mereka. Sampai di Makkah, kabar tak jua datang. Al-Harits dan Malik memutuskan untuk pulang balik ke Yaman. Sedangkan Yasir mengambil jalan lain. Ia tetap tinggal di Makkah.

Dalam tradisi masyarakat Arab, seorang asing yang ingin menetap di suatu tempat harus mengikatkan perjanjian dengan tokoh ternama di daerah tersebut. Dengan begitu, ia mendapatkan perlindungan dari gangguan masyarakat yang tidak menyukai kehadirannya. Ia juga dapat tinggal dengan tenang dan nyaman di bawah perlindungan sang tokoh.
Di Makkah, Yasir mengikat perjanjian dengan Abu Huzaifan bin al-Mughirah al-Makhzumi. Lelaki ini sangat menyukai Yasir sebab sifatnya yang baik. Tindak tanduknya menyenangkan serta latar belakangnya dari keluarga terhormat.

Untuk memperkuat hubungan dengan Yasir, Abu Huzaifah menikahkan pemuda ini dengan salah seorang budaknya, bernama Sumayyah. Sumayyah juga seorang budak yang baik, penurut dan taat kepada majikannya. Pernikahan mereka berlangsung dengan baik.
Tidak lama kemudian kedua sejoli ini dimerdekakan oleh Abu Khudzaifah, berarti telah berubah status dari budak menjadi manusia merdeka. Dan, beberapa waktu setelah itu Abu Khudzaifah pun meninggal dunia.

Dari perkawinan tersebut, mereka dikaruniai seorang putra bernama Ammar (Ammar bin Yasir). Kehadiran Ammar dalam kehidupan rumah tangga Sumayyah dan Yasir rupanya membawa berbagai keberkahan, terutama dalam hal keimanan mereka.
Suatu hari, Ammar pulang ke rumah dengan langkah cepat. Ia meraih tangan kedua orang tuanya. Ia mengucapkan salam dan membaca ayat suci Alquran di hadapan mereka. Hati Yasir dan Sumayyah yang suci dan bersih memudahkan mereka menerima firman Allah swt. Tak perlu waktu lama, mereka tergerak untuk masuk Islam. Para ahli sejarah mencatat bahwa Sumayyah merupakan orang ketujuh yang menyatakan Islam ketika itu.
Di masa awal Islam/ era Sirri, Sumayyah dan keluarganya menjalankan perintah Allah swt dengan diam-diam.

Mereka shalat di rumah dan gua-gua agar tidak diketahui kaum Quraisy. Meski demikian, gencarnya pengawasan kafir Quraisy terhadap para sahabat membuat ada saja informasi yang masuk ketika salah satu di antara mereka masuk Islam.
Keluarga Sumayyah bukan berasal dari elit bangsawan. Sumayyah hanya bekas budak yang dimerdekakan tuannya. Statusnya yang “merdeka” ini membuatnya menjadi incaran kaum kuffar Quraisy supaya kembali lagi memeluk agama nenek moyang. Kabar masuknya Yasir dan keluarganya ke dalam agama Islam menyebar dengan cepat di kalangan Bani Makhzum. Mereka marah besar. Mereka berbondong-bondong mendatangi keluarga kecil itu dan menyiksa keduanya secara keji dan bengis.

IBRAH DARI KISAH INI:

Sumayyah binti Khayyath, adalah salah satu shahabiyah (sahabat Nabi Muhammad saw dari kalangan wanita) yang dikenal dalam sejarah Islam memiliki keimanan yang kokoh, dan sikap yang tegas dalam mempertahankan aqidahnya.

Sumayyah binti Khayyath, Bersama suaminya Yasir bersepakat memproklamirkan keislamannya di depan masyarakat umum kota Makkah. Tak pelak sikapnya ini mengundang kemarahan para tokoh kafir quraisy. Siksaan dan hinaanpun datang bertubi-tubi.

Sumayyah dan Yasir, mantan budak, bersama anak tunggalnya Ammar bin Yasir tetap teguh mendukung dakwah Nabi Muhammad saw, dan termasuk Assabiquunal awwalun. Keteguhan aqidah mereka bertiga harus dibayar mahal. Ammar bin Yasir harus menyaksikan kematian ayah dan ibunya di atas siksaan yang keji dari para kuffar quraisy.
Nabi Muhammad saw memberi khabar gembira kepadanya bahwa mereka dijamin Allah swt masuk syurga di akhirat kelak.

Wahai kader 1912, begitulah sikap yang seharusnya diambil oleh setiap aktifis pejuang dakwah, kuat aqidah, teguh pendirian, tidak mudah dirayu, siap menghadapi resiko. Tentang keteguhan pendirian dan kesabaran ini, Allah berfirman dalam QS. Ali imron: 142 :
أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُواْ الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللّهُ الَّذِينَ جَاهَدُواْ مِنكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ -١٤٢-
Artinya : Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kamu, dan belum nyata orang-orang yang sabar.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here