Ibrah Kehidupan #136: Thalhah bin Ubaidillah, Petugas intelijen itu mati tetapi hidup (-2)

0
191
Foto diambil dari al-ibra-net

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

“Siapa yang ingin melihat orang berjalan di muka bumi sesudah mengalami kematiannya, lihatlah Thalhah bin Ubaidillah”. Itu adalah ucapan Rasulullah saw saat perang Uhud terjadi. Saat itu pasukan Muslim telah terpecah dan terpencar sehigga hanya tersisa beberapa orang di antara mereka termasuk Thalhah bin Ubaidillah.

Kemudian Rasulullah dan kamum muslimin yang naik ke bukit dihadang oleh musuh. Kemudian Rasulullah saw berseru “Siapa yang berani melawan mereka dia akan menjadi temanku kelak di surga,”. Demikian seru Rasulullah saw.

“Saya siap, wahai Rasulullah,” jawab Thalhah. Nabi saw-pun menolak “Tidak, jangan engkau! Engkau harus tetap di tempatmu.” Sejurus kemudian ada suara lantang “Saya, wahai Rasulullah,” kata seorang prajurit Anshar. “Ya, majulah,” kata Rasulullah saw.
Prajurit Anshar itu maju melawan prajurit kafir yang ingin membunuh Rasulullah saw hingga menemui kesyahidannya. Rasulullah saw meneruskan perjalanan, tetapi dihadang kembali oleh tentara musyrikin. “Siapa yang berani melawan mereka ini?” seru Rasulullah lagi.

“Saya, wahai Rasulullah,” kata Thalhah mendahului prajurit yang lain. “Jangan, engkau tetaplah di tempatmu!”. “Lalu seorang prajurit Anshar menggantikannya. Begitu terus hingga 11 orang prajurit muslim menemui syahid. Tinggal Thalhah sendiri bersama Rasulullah saw, hingga kemudian Rasululah saw memerintahkan kepada Thalhah, “Sekarang engkau, wahai Thalhah!”

Tanpa menunggu ba-bi-bu lagi, Thalhah pun maju menghadang musuh dan menghalau mereka agar tak bisa mendekati Rasulullah saw. Thalhah kembali ke dekat Rasulullah saw dan menaikkannya sedikit ke bukit. Disandarkannya tubuh Rasulullah yang mulia. Gigi taringnya patah, kening dan bibirnya sobek, darah mengucur dari muka beliau.
Abu Bakar dan Abu Ubaidah bin Jarrah menemui Rasulullah saw, tapi Rasulullah saw malah menyuruh mereka membantu Thalhah. Thalhah ditemukan dalam keadaan pingsan, tak kurang dari 79 luka bekas tebasan pedang, tusukan lembing, dan lemparan panah memenuhi tubuhnya. Pergelangan tangannya putus sebelah. Darah segar mengucur dari tubuhnya.

Semua orang mengira Thalhah sudah mati syahid karena luka parah yang dideritanya, tapi ternyata ia masih hidup sehingga akhirnya Thalhah mendapat julukan “asy-syahidul al-hayyu” atau syahid yang masih hidup. Jadi para prajurit lainnya terheran-heran, katanya Thalhah sudah mati, lho kok masih hidup dan berjalan?
Sejak saat itu, jika ada yang membicarakan perang Uhud di depan Abu Bakar, maka Abu Bakar selalu menyahut, “Perang hari itu adalah peperangan milik Thalhah seluruhnya.” Maksudnya bahwa Thalhah adalah bintangnya.

Seakan ingin menebus ketidakhadirannya pada perang Badar, Thalhah mempertaruhkan seluruh jiwa dan raganya di perang Uhud. Sebab saat perang Badar terjadi, dia dan Sa’id bin Zaid tengah diutus menjadi pelaksana operasi intelijen atau mata-mata di luar kota oleh Rasulullah saw. Meski demikian, Rasulullah saw menetapkan bahwa Thalhah tetap mendapat ghanimah di perang Badar sebab tugas intelijen nilainya juga sama dengan perang.

IBRAH DARI KISAH INI:

Thalhah bin Ubaidillah, salah satu sahabat Nabi Muhammad saw, yang dinilai sebagai sosok sahabat yang cerdas, tetapi juga perwira yang handal.
Thalhah bin Ubaidillah, profil sahabat yang bersahaja, tetapi totalitas dalam membela agama Allah tidak diragukan lagi. Dia telah pasang badan menjadi perisai melindungi Rasulullah saw dalam perang Uhud demi menjamin keselamatan Rasul saw dalam jihad fii sabilillah.

Ketika terjadi perang Badar, Thalhah bin Ubaidillah tidak ikut perang, karena mendapat tugas khusus dari Nabi Muhammad saw melakukan operasi intelijen (mata-mata).
Dalam perang Uhud, Thalhah ditemukan dalam keadaan pingsan, tak kurang dari 79 luka bekas tebasan pedang, tusukan lembing, dan lemparan panah memenuhi tubuhnya. Pergelangan tangannya putus sebelah. Darah segar mengucur dari tubuhnya.
Semua orang mengira Thalhah sudah mati/ syahid karena luka parah yang dideritanya, tapi ternyata ia masih hidup sehingga akhirnya Thalhah mendapat julukan “asy-syahidul al-hayyu” atau orang mati yang masih hidup. Jadi para prajurit lainnya terheran-heran, katanya Thalhah sudah mati, lho kok masih hidup?

Memang, perjuangan tidak boleh dilakukan secara setengah-setengah, harus totalitas. Terkait dengan seorang syahid yang masih hidup, ternyata para syuhada itu kelihatannya sudah mati padahal hakekatnya hidup. Demikian firman Allah :

وَلاَ تَقُولُواْ لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبيلِ اللّهِ أَمْوَاتٌ بَلْ أَحْيَاء وَلَكِن لاَّ تَشْعُرُونَ -١٥٤-
Artinya : Dan janganlah kamu mengatakan orang-orang yang terbunuh di jalan Allah (mereka) telah mati. Sebenarnya (mereka) hidup, (hidup dalam alam lain yang bukan alam kita ini, tempat mereka mendapat kenikmatan-kenikmatan disisi Allah,dan hanya Allah sajalah yang Mengetahui bagaimana keadaan kehidupan di alam itu), tetapi kamu tidak menyadarinya.
(QS. Al-Baqarah : 154).

Wahai para pejuang 1912, berjuanglah secara total dalam dakwah amar makruf nahi munkar, dan Tholhah bin Ubaidillah adalah contoh yang inspiratif.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here