IBRAH KEHIDUPAN #137: Ubay bin Ka’ab (Bagian -1) Menemukan Islam Lewat Kegelisahan Intelektual

0
373
Ilustrasi foto diambil dari techcang.free.fr

KLIKMU.CO – Nama lengkapnya Ubay bin Ka’ab bin Qis bin ‘Ubaid al-Anshory al-Khazrojy, lahir di Madinah. Ubay bin Ka’ab dikenal dengan julukan “Sayyid al-Qurro’”, yakni Pemimpin para pembaca al-Qur’an. Ubay bin Ka’ab, biasa dipanggil Abu Thufail. Bahkan Nabi Muhammad saw sendiri memberi panggilan khusus “Abu Mundzir” (bapak pemberi peringatan).

Ubay bin Ka’ab, badannya agak pendek, tidak gemuk dan tidak kurus. Meski demikian beliau sangat disegani di kalangan para sahabat. Dibesarkan di Madinah. Waktunya digunakan untuk bertadabbur dan berkontemplasi dengan alam. Sehingga jarang nampak di kerumunan orang.

Ubay bin Ka’ab lebih memilih untuk menyendiri, focus dalam memahami fenomena alam, terus merenung dan menjauhi keramaian sebagaimana yang biasa dilakukan kebanyakan orang.

Untuk tujuan itu beliau belajar membaca dan menulis. Konon sebelum Rasulullah saw diutus menjadi Rasul, beliau berjibaku dengan kepingan-kepingan tulisan kitab Taurat yang didapat dari orang-orang Yahudi yang tinggal bertetangga. Meski demikian beliau tidak terpengaruh dengan pemikiran Yahudi. Tetapi ternyata dari apa yang dibaca tidak menemukan jawaban atas apa yang sedang dipikirkan.

Bentuk kontemplasinya dengan alam, berupa pertanyaan : ‘Siapa yang membuat gunung dengan segala keindahannya?, siapa yang menciptakan dalamnya lautan? Siapa yang menumbuhkan tumbuh-tumbuhan? Siapa yang menjalankan angin? Inilah diantara renungan dan pertanyaan-pertanyaan yang menghantui dirinya siang dan malam. Ubay bin Ka’ab telah benar-benar mengalami kegelisahan intelektual.

Pada suatu malam Allah swt berikan kelapangan dadannya untuk menerima ajaran Islam. yaitu setelah mendengar kabar tentang kerasulan Muhammad saw.

Beliau pergi ke rumah Sa’ad bin ar-Robi’ untuk bertanya tentang Islam. Sa’ad pun memberikan penjelasan tentang agama Islam, dan ajakan kepada jalan Allah swt, dengan cara hikmah, nasehat yang baik, serta bertukar pikiran/ diskusi yang terbaik. Setelah mendengar penjelasannya, akhirnya dengan penuh kesadaran Ubay bin Ka’ab masuk Islam. setelah itu beliau pergi menghadap Rasululah saw dan menyampaikan pernyataan siap dan setia kepada Rasulullah saw.

Ubay bin Ka’ab adalah seorang warga Anshar dari suku Khazraj, dan ikut mengambil bagian dalam Baiat Aqabah, Perang Badar dan peperangan-peperangan penting lainnya. Ia mencapai kedudukan tinggi dan derajat mulia di kalangan Muslimin angkatan pertama, hingga Amirul Mukminin Umar ibnul Khattab sendiri pernah mengatakan tentang dirinya, “Ubay bin Ka’ab adalah pemimpin Kaum Muslimin.”

Ubay bin Ka’ab, merupakan salah seorang penulis dari beberapa orang penulis wahyu (al-Qur’an) dan penulis-penulis risalah (surat Nabi Muhammad saw kepada para pembesar/ penguasa negeri yang berisi seruan kepada Islam). Begitu pun dalam menghafal Alquranul Karim, membaca dan memahami ayat-ayatnya, ia termasuk golongan terkemuka.
Ubay bin Ka’ab adalah sosok sahabat yang sangat sederhana. Rendah hati dan selalu tenang dalam bertutur kata. Ia bukan keturunan bangsawan tapi Ubay bin Ka’ab adalah sosok istimewa dalam sejarah sahabat Rasulullah.

Ubay bin Ka’ab, Sosok lelaki yang memiliki ingatan kuat dalam menghafal Alquran ini, dengan tekun menulis ayat-ayat Quran di berbagai tempat. Ia selalu mengabadikan wahyu Allah itu baik di pelepah daun kurma, batu-batu dan berbagai alat yang ia bisa gunakan untuk mengabadikan ayat-ayat suci itu. Dari sinilah peran Ubay bin Ka’ab menjadi penting dalam sejarah Islam.

IBRAH DARI KISAH INI :

Ubay bin Ka’ab, merupakan salah satu sahabat nabi saw yang istimewa baik di hadapan Nabi Muhammad sendiri maupun di hadapan Allah swt,
Ubay bin Ka’ab, sosok orang biasa dan sederhana bukan keturunan bangsawan. Tetapi keluhuran budinya, kesederhanaannya, kekhusyu’annya, dan ketekunannya dalam belajar dan mengajar, telah mengantarkan dirinya sebagai pribadi yang agung, dekat kepada Nabi Muhammad saw, serta banyak memperoleh hikmah berupa “kefahaman” baik dalam membaca al-Qur’an maupun pendalaman terhadap isi al-Qur’an. Ubay bin Ka’ab disebut sebagai “Sayyidul Qurro’ “, atau gurunya para ahli qiroo’ah.

Wahai kader 1912, Yang tak kalah pentingnya, Ubay bin Ka’ab menemukan Islam setelah berkontemplasi dengan alam semesta. Berkontemplasi dengan alam semesta merupakan bagian dari proses kegelisahan intelektualnya. Salah satu hasil kontemplasinya adalah bahwa alam semesta ini dijadikan oleh Allah tidal sia-sia. Sebagaimana firman Allah :

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللّهَ قِيَاماً وَقُعُوداً وَعَلَىَ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذا بَاطِلاً سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ -١٩١-

Artinya : (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau Menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.

Dari sini bisa diambil hikmahnya bahwa kecerdasan intelektual seseorang jika diasah dengan baik, akan menuntun dirinya kepada kebenaran “al-Khaliq”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here