Ibrah Kehidupan #139: Ubay bin Ka’ab, Mengkhatamkan al-Qur’an setiap delapan malam (-2)

0
162
Ilustrasi foto diambil dari techcang.free.fr

KLIKMU.CO

OLeh: Kyai Mahsun Djayadi*

Dikisahkan dari buku “Himpunan Fadhilah Amal” karya Maulana Muhammad Zakariyya, bahwa Ubay bin Ka’ab adalah sahabat yang sudah pandai membaca dan menulis sebelum masuk Islam. Padahal umumnya, bangsa Arab ketika itu tidak demikian.

Setelah masuk Islam, namanya semakin dikenal banyak orang. Ubay bin Ka’ab bertugas mencatat wahyu yang diturunkan oleh Allah swt kepada Nabi Muhammad saw.

Ubay bin Ka’ab biasa mengkhatamkan Alquran setiap delapan malam dalam tahajudnya. Pernah Rasulullah saw bersabda kepada Ubay bin Ka’ab: “Allah telah menyuruhmu membacakan Alquran kepadaku.” Ubay bin Ka’ab bertanya, “Ya Rasulullah, apakah Allah swt menyebut namaku?” Jawab beliau, “Ya, Allah menyebut namamu.” Mendengar itu ia menangis, karena sangat terharu dan gembira bahwa dirinya telah diberi penghargaan oleh Allah swt.

Ubay bin Ka’ab telah diberi kedudukan yang tinggi oleh Allah swt lantaran Allah telah mengkhabarkan tentang diturunkan wahyu terkait dengan nama Ubay bin Ka’ab.
Seorang Muslim yang mencapai kedudukan seperti ini di hati Nabi saw pastilah ia seorang Muslim yang mulia. Selama tahun-tahun nubuwwah dan masa Sahabat, yaitu ketika Ubay bin Ka’ab radliallahu anhu, selalu berdekatan dengan Nabi saw, tak putus-putusnya ia mereguk dari telaga ilmu beliau yang dalam itu, serta airnya yang jernih dan manis.
Setelah berpulangnya (wafat) Rasulullah saw, Ubay bin Ka’ab menepati janjinya dengan tekun dan setia, baik dalam beribadah, dalam keteguhan beragama dan keluhuran budi.

Di samping itu tiada henti-hentinya ia menjadi pengawas bagi kaumnya. Diingatkannya mereka akan masa-masa Rasulullah saw masih hidup, diperingatkan keteguhan iman mereka, sifat zuhud, perangai dan budi pekerti mereka.
Dalam sebuah riwayat disebutkan, ketika Nabi saw shalat dan dalam bacaannya tertinggal satu ayat, pada saat itu juga (dalam keadaan shalat), beliau diingatkan oleh Ubay bin Ka’ab. Setelah selesai shalat, Nabi saw bertanya, “Siapakah yang memberitahuku tadi?” “Aku yang memberitahu, ya Rasulullah,” kata Ubay bin Ka’ab. Kemudian Beliau bersabda, “Dalam hatiku, aku menduga engkaulah yang memberitahu.” (Musnad Ahmad).

Walaupun Ubay bin Ka’ab sibuk dengan ilmu dan berkhidmat kepada Alquran, ia selalu ikut berjuang di jalan Allah swt bersama Nabi saw. Tidak ada satu pun peperangan yang dilakukan oleh Nabi saw yang tidak diikutinya.

Jundub bin Abdullah ra menceritakan bahwa dirinya pernah datang ke Madinah untuk menuntut ilmu. Beberapa ulama sedang mengajarkan hadis di Masjid Nabawi. Di sana setiap murid duduk berkelompok menghadap gurunya masing-masing.

Ketika melewati kelompok-kelompok tersebut, ia melihat seorang pengajar seperti seorang musafir. Orang tersebut hanya memakai dua helai kain di tubuhnya dan duduk sambil mengajarkan hadis-hadis. Jundub ra bertanya kepada orang-orang di sana, “Siapakah dia?” Jawab mereka, “Dialah pemimpin kaum muslimin, Ubay bin Ka’ab.”

Kemudian ia pun duduk di majelis Ubay bin Ka’ab. Setelah selesai mengajar, Ubay bin Ka’ab pulang ke rumahnya dan Jundub-pun mengikutinya dari belakang. Di sana, Jundub ra menjumpai sebuah rumah tua yang sangat sederhana dan sedikit perabotnya. Ubay bin Ka’ab menjalani hidup dengan sangat zuhud.” (Thabaqat).

IBRAH DARI KISAH INI :

Kecerdasan seseorang, kedalaman ilmu seseorang tidak selalu berbanding lurus dengan kecukupan finansial yang dimilikinya. Berapa banyak orang yang dihimpit “kekurangan” dan keterbatasan dalam hidup, tetapi justeru dari situ menjadikan dirinya sosok yang berpribadi, memperoleh hikmah yang berupa “kefahaman” terhadap segala sesuatu.

Ubay bin Ka’ab, merupakan salah satu sahabat Nabi saw yang masuk kategori sangat sederhana, tetapi darinya ini muncul aura kecerdasan, aura kezuhudan, aura kedalaman ilmu, dan tentu saja aura kefahaman terhadap wahyu Allah (al-Qur’an). Ubay bin Ka’ab biasa mengkhatamkan Alquran setiap delapan malam dalam tahajudnya.

Ubay bin Ka’ab merupakan salah satu dari empat sahabat paling berkualitas bacaan dan pemahamannya terhadap al-Qur’an. Mereka itu adalah Ibn Mas’ud, Salim (budak-nya Khudzaifah), Ubay bin Ka’ab, dan Mu’ad bin Jabal.

Al-Qur’an bagi mereka menjadi pedoman dan petunjuk kehidupan, bahkan mereka jadikan motivasi mendapat kebaikan dari Allah swt. Hal ini sebagaimana firman Allah :
إِنَّ هَـذَا الْقُرْآنَ يِهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْراً كَبِيراً -٩-
Artinya : Sungguh, al-Quran ini memberi petunjuk ke (jalan) yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang Mukmin yang mengerjakan kebajikan, bahwa mereka akan mendapat pahala yang besar. (QS. Al-Isra’ ayat 9).

Wahai aktifis 1912, Pertanyaannya kemudian adalah, apakah kita sebagai generasi millennial sekarang ini bisa mencontoh kepribadian Ubay bin Ka’ab ? tentu bisa, meskipun tidak persis seperti Ubay bin Ka’ab. dengan syarat memiliki kemauan yang tinggi, tekun beribadah, menjadi manusia pembelajar. Dan jangan lupa menghiasi diri dengan akhlaqul karimah.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here