Ibrah Kehidupan #141: Ubay bin Ka’ab, Mengalami Demam Panjang 30 tahun.

0
339
Ilustrasi foto diambil dari techcang.free.fr

KLIKMU.CO-

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Jika bicara atau berfatwa, Ubay bin Ka’ab selalu dengan nada bicara yang tenang dan pelan tapi jelas. Ubay bin Ka’ab mempunyai semboyan kehidupan yang sangat sederhana, dan itu tercermin dari perilaku dan pedoman hidup yang ia jalani. “Sesungguhnya makanan manusia bisa dijadikan gambaran dan perumpamaan bagi dunia. Seenak apapun barang yang dimakan, atau sebaliknya itu tak penting. Yang penting adalah, menjadi apa nantinya,”.

Demikian tutur Ubay ketika ditanya oleh salah satu sahabat Rasulullah saw. Dan itulah semboyan hidupnya. Sangat visioner, dan aksiologis.

Meskipun mempunyai kemampuan menulis dan menghafal ayat-ayat alquran, tak menjadikan ia tinggi hati. Kesederhanaan dalam hidup itu adalah sisi lain dari sosok Ubay bin Ka’ab. Meski kemampuannya menulis, Ubay bin Ka’ab tak lepas dari perannya sebagai muslim pejuang untuk turut andil dalam berperang melawan orang-orang kafir. Berbagai pertempuran ia jalani dan kerap menjadi ujung tombak dalam menghalau lawan.
Ubay bin Ka’ab adalah seorang yang berbadan putih, berjenggot putih, memiliki pandangan yang jernih, berhati bersih, dan berpegang teguh pada mushaf putih.“Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki” Seperti gambaran al-Qur’an (lihat QS. An-Nuur: 35).
Lantas, kenapa jenggotnya berwarna putih, berpandangan jernih, dan berbadan putih?
Dikatakan bahwa Ubay bin Ka’ab pernah terkena demam selama 30 (tiga puluh) tahun.

Dahulu dia berkata, “Wahai Rasulullah, Apakah siksa terhadap kami dapat diringankan karena musibah yang menimpa kami berupa demam ini?” Rasulullah saw bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya. Wahai, Abul Mundzir (panggilan akrab Ubay bin Ka’ab), Tidaklah engkau menderita suatu penyakit, kegundahan, atau kesedihan, kecuali akan menjadi kifarat (penghapus dosa) atau Allah akan menghapus sebagian kesalahanmu dengannya.”

Lalu Ubay bin Ka’ab pun pulang ke rumahnya dan meminta kepada Allah swt agar menimpakan demam kepadanya yang tidak menghalanginya dari mengerjakan shalat, berjihad, dan berperang. Lalu dia pun menderita demam sehingga orang-orang berkata, “Jika seseorang mendekatinya, pasti dia akan merasakan hawa panas. Semoga Allah ridha terhadapnya, wahai penghulu para qari.”
Adz-Dzahabi berkata dalam As-Siyar, “Demam itu memberinya kekuatan. Oleh karenanya, tidak ada orang yang merasa cocok dengan Umar ibnul Khattab (yang temperamental), kecuali Ubay bin Ka’ab. Seluruh shahabat menghindar dari Umar, kecuali Ubay bin Ka’ab.”

Semasa hidupnya, Ubay bin Ka’ab melewati beberapa peristiwa. Salah satunya, Jibril datang membawa surat Al-Bayyinah dari Allah SWT: “Orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata.” (Al-Bayyinah: 1).

Jibril berkata, “Wahai, Rasulullah. Sesungguhnya Allah menyuruhmu untuk membacakan surah ini kepada Ubay.” Lalu Nabi pergi dan mengetuk pintu rumah Ubay. Kemudian Ubay pun membuka pintu, “Wahai, Rasulullah. Ahlan wa sahlan. Betapa bahagianya aku hari ini dengan kedatangan engkau.” Nabi berkata, “Sesungguhnya Allah menyuruhku untuk membacakan surat Al-Bayyinah kepadamu.”

Ubay berkata, “Dan Dia menyebutku di hadapan para malaikat-Nya?” Nabi menjawab, “Iya, Dia menyebut namamu.” Seketika itu Ubay pun menangis bahagia, lalu Rasulullah saw duduk sambil membacakan surah Al-Bayyinah hingga selesai.” (HR Muttafaqun ‘alaih)

IBRAH DARI KISAH INI:

Ubay bin Ka’ab, sahabat Nabi Muhammad saw yang dikaruniai beberapa keistimewaan. Di antara keistimewaan itu ialah kekuatan hafalannya, kedisiplinan dalam beribadah, memiliki akhlaqul karimah, menjadi seorang pembelajar yang baik. Ubay bin Ka’ab termasuk sosok bersahaja, namun beliau mendapat tempat yang khas di hadapan Rasulullah saw.
Pasca keislamannya, tokoh yang terkenal berpengetahuan luas ini diangkat menjadi seorang pencatat wahyu dan orang pertama yang menuliskan wahyu bagi Rasulullah SAW.

Dan terlibat dalam panitia penghimpunan al-Qur’an (yang diketuai oleh sahabat Zaid bin Tsabit) pada masa pemerintahan Utsman bin Affan. Al-Qur’an bagi Ubay bin Ka’ab, benar-benar telah mengantarkannya menjadi ilmuan dan intelektual. Firman Allah :
إِنَّا أَنزَلْنَاهُ قُرْآناً عَرَبِيّاً لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ -٢-
Artinya : Sesungguhnya Kami Menurunkannya berupa Quran berbahasa Arab, agar kamu mengerti.

Wahai kader 1912, ketahuilah bahwa Ubay bin Ka’ab, adalah sosok sahabat yang telah mendedikasikan hidupnya untuk kejayaan Islam lewat jihad intelektual, khususnya pemahamannya terhadap wahyu Allah al-Qur’an, dan upayanya dalam memahamkan wahyu Allah swt tersebut kepada umat Islam.

Ubay bin Ka’ab wafat pada tahun 21 Hijriah pada masa kholifah Utsman bin Affan. Semoga kita bisa meneladaninya.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here