Ibrah kehidupan #143: Ummu Fadhl Lubabah, Bermimpi “Sangat aneh” Tentang Nabi Muhammad saw. (-2)

0
241
Foto diambil dari SOCIALPRASASTISejarah

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Sejarah Islam mencatat Ummu Fadhl Lubabah (Ummu Fadhl Rodhiallahu anha) adalah salah satu wanita teladan bagi para Muslimah.
Ibnu Sa’ad dalam ath-Thabaqat al-Kubra, menyatakan bahwa Ummu Fadhl suatu hari bermimpi dengan suatu mimpi yang menakjubkan, sehingga ia bersegera untuk mengadukannya kepada Rasulullah saw.

‘’Wahai Rasulullah, saya bermimpi seolah-olah sebagian dari anggota tubuhmu berada di rumahku,” tutur Ummu Fadhl Lubabah. Mendengar cerita mimpi Lubabah tersebut, Rasulullah saw bersabda, ‘’Mimpimu itu bagus, kelak Fatimah anakku, akan melahirkan seorang anak laki-laki dan nanti akan engkau susui dengan susu yang engkau berikan buat anakmu (Qatsam).”

Tidak berselang lama Fatimah ra. melahirkan Hasan bin Ali yang kemudian diasuh oleh Ummu Fadhl Lubabah. Kemudian Ummu Fadhl Lubabah berkata, ‘’Suatu ketika aku mendatangi Rasulullah saw dengan membawa Hasan bin Ali dalam gendonganku, maka Rasulullah saw segera menggendong dan mencium bayi tersebut, namun tiba-tiba bayi tersebut ngompol mengencingi Rasulullah saw.’’

Kemudian Nabi Muhammad saw bersabda, “Wahai Ummu Fadhl peganglah anak ini karena dia telah mengencingiku.” Ummu Fadhl berkata, “Maka aku ambil bayi tersebut dan aku cubit sehingga dia menangis.’’

Ketika melihat bayi tersebut menangis, Rasulullah berkata, “Wahai Ummu Fadhl justru engkau yang telah menyusahkanku karena telah membuat anakku menangis”. Kemudian Rasulullah saw meminta air dan dipercikkannya ke tempat yang terkena air kencing.
Lebih lanjut Nabi Muhammad saw bersabda “Jika bayi laki-laki (kencing) maka percikilah dengan air, akan tetapi apabila bayi wanita maka basuhlah”.

Di antara peristiwa yang mengesankan Lubabah binti al-Haris Rodhiallahu ‘anha adalah tatkala banyak orang bertanya kepadanya ketika hari Arafah apakah Rasulullah Saw shaum (puasa) ataukah tidak? Maka dengan kebijakannya, Lubabah menghilangkan problem yang menimpa kaum muslimin dengan cara beliau memanggil salah seorang anaknya kemudian menyuruhnya untuk mengirimkan segelas susu kepada Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam tatkala beliau berada di Arafah, kemudian tatkala dia menemukan Rasulullah Saw dengan dilihat oleh semua orang beliau menerima segelas susu tersebut kemudian meminumnya. Maka terjawablah sudah pertanyaan para sahabat tadi, yakni bahwa Ketika hari arafah para jamaah haji sedang wukuf di arafah, tidak disyari’atkan untuk berpuasa (shoum).

Di sisi yang lain Ummu Fadhl Lubabah Rodhiallahu ‘anha mempelajari Hadits asy-Syarif dari Rasulullah Saw dan beliau meriwayatkan sebanyak tiga puluh hadits. Adapun yang meriwayatkan dari beliau adalah sang putra beliau Abdulllah bin Abbas Rodhiallahu ‘anhu, Tamam yakni budaknya, Anas bin Malik, dan lainnya.

IBRAH DARI KISAH INI :

Ummu Fadhl Lubabah, atau Ummu Fadl, tercatat dengan tinta emas dalam sejarah Islam sebagai salah satu Shohabiyah (sahabat dari kalangan perempuan) yang sangat fenomenal.

Meskipun Lubabah termasuk kalangan orang biasa dari bagian masyarakat kebanyakan, tetapi keteguhan imannya, kesabarannya, dan keberaniannya, menjadi pelengkap kepribadiannya sebagai Muslimah yang dikagumi oleh banyak orang.
Ummu Fadhl Lubabah (Ummu Fadl), pernah bermimpi aneh: melihat sebagian tubuh Nabi saw berada di rumahnya. Mimpi itu terbukti bahwa di kemudian hari Fathimah (putri Nabi saw) melahirkan Hasan bin Ali, kemudian diasuh oleh Lubabah. Lubabah-pun menyusui Hasan bin Ali, selain juga menyusui anaknya sendiri “Qatsam” salah satu dari enam anaknya.

Perilaku Ummu Fadhl Lubabah, telah memunculkan hukum dalam Islam, antara lain bahwa kencing anak laki-laki cukup dipercikkan dengan air bersih, sedangkan kencing anak perempuah harus dibasuh atau dicuci dengan air bersih.

Selain itu ketika suasana wukuf di Arafah, para sahabat bertanya kepada Ummu Fadhl Lubabah apakah Rasulullah saw puasa? Maka Lubabah dengan piawai menyuruh salah satu anaknya mengantar susu kepada baginda rasulullah saw di tendanya di Arafah. Maka susu itupun diminum oleh baginda dengan disaksikan banyak sahabat. Itulah jawabannya.
Wahai para aktifis 1912, menegakkan kebenaran memang dibutuhkan keberanian, kesabaran, tetapi juga kecerdikan. Kecerdikan di sini maknanya menggunakan strategi yang jitu sehingga berhasil tanpa menyakiti fihak lain (ungkapan jawa: Menang tanpo ngasorake).

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here