Ibrah Kehidupan #144: Ummu Fadhl Lubabah, Keberaniannya Head to Head Melawan Abu Lahab (-3 habis)

0
87
Foto diambil dari SOCIALPRASASTISejarah

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Dikisahkan bahwa ketika perang Badar, Abu Lahab tidak dapat ikut serta di dalamnya. Ia mewakilkannya kepada Ash bin Hisyam bin Mughirah. Memang, begitulah kebiasaan mereka manakala seseorang tidak dapat mengikuti suatu peperangan, ia akan mewakilkannya kepada orang lain.

Suatu hari, Abu Rafi’, budak Rasulullah SAW yang juga pernah menjadi budak Abbas, tengah menekuni pekerjaannya. Ia adalah pembuat gelas yang dipahat dari bebatuan yang diperoleh dari sekitar sumur Zam-zam. Ketika itu ia tengah duduk-duduk bersama Ummu Fadhl. Tiba-tiba Abu Lahab berlari mendatangi mereka, kemudian duduk bersama mereka.
Ketika sedang duduk, tiba-tiba orang-orang berkata, ”Abu Sufyan bin Harits telah datang dari Badar,” Abu Lahab berkata, “Suruh dia kemari! Aku telah menanti-nanti berita darinya.”

Kemudian duduklah Abu Sufyan, sementara orang-orang berdiri berkerumun di sekitarnya. ”Saudaraku, beritakanlah bagaimana keadaan orang-orang dalam Perang Badar?” pinta Abu Lahab.

Abu Sufyan melaporkan, ”Tatkala kami menjumpai mereka, tiba-tiba mereka menyerang pasukan kami tanpa henti. Pasukan kaum muslimin itu memerangi kami dan menawan kami sesuka hati mereka. Tatkala aku mengkonsolidasikan pasukan, kami melihat sekelompok laki-laki yang berkuda hitam putih berada di tengah-tengah manusia, dan mereka tidak menginjakkan kakinya di tanah.”
”Demi Allah, itu adalah malaikat,” seru Abu Rafi’ sembari mengangkat batu yang berada di tangannya. Abu Lahab pun naik pitam, ia kepalkan tangannya dan memukul Abu Rafi’ dengan keras. Abu Lahab menarik Abu Rafi’ dan membantingnya ke tanah. Kemudian mendudukkan dan memukulinya kembali.

Ummu Fadhl pun bangkit mengambil sebuah tongkat dari batu dan memukul kepala Abu Lahab sampai mengakibatkan luka yang cukup parah. Ummu Fadhl berkata, ”Aku telah melemahkannya sehingga bukan hanya fisiknya melainkan harga dirinya juga jatuh.”
Beberapa saat kemudian, Abu Lahab bangkit dalam keadaan kesakitan dan merasa hina akibat pukulan Ummu Fadhl di depan umum. Setelah itu ia hanya hidup selama tujuh malam hingga Allah menimpakan penyakit bisul yang menjadi penyebab kematiannya.
Begitulah reaksi cepat Ummu Fadhl Lubabah, seorang wanita mukminah yang tangkas dan pemberani. Rontoklah kesombongan dan merosotlah kehormatan seorang lelaki musyrik karena keberaniannya. Alangkah bangganya sejarah Islam mencatat nama Ummu Fadhl Lubabah sebagai teladan bagi para wanita yang telah dibina oleh akidah Islam.
Ummu Fadhl Lubabah wafat pada masa Khalifah Usman bin Affan sebagai sosok ibu salehah yang telah melahirkan tokoh sekaliber Abdullah bin Abbas yang berjuluk ‘Turjumanul Qur’an’ (yang ahli dalam hal tafsir Al-Qur’an).

Jiwa kepahlawanannya memancar dari akidah yang benar dan kokoh. Maka muncullah keberanian yang mampu menjatuhkan musuh Allah yang paling keras sekaliber Abu Lahab.

IBRAH DARI KISAH INI:

Sungguh-sungguh luar biasa, seorang mukminah, mujahidah, sekaligus Shohabiyah nan sholihah pernah benar-benar mengukir sejarah perjuangan Islam periode awal. Dialah Ummu Fadhl Lubabah atau dikenal dengan panggilan Ummu Fadl.
Meskipun masuk kategori orang “biasa” , namun nyatanya berasal dari keluarga terpandang. Dan yang cukup fenomenal adalah bahwa Lubabah menurunkan keturunan yang intelektual, serta faqih, dan menjadi rujukan umat islam di zamannya itu, salah satunya Abdullah bin Abbas.

Selain mempunyai kedekatan dengan baginda Nabi Muhammad saw, juga pernah menjadi pengasuh cucu Nabi Muhammad saw yakni Hasan bin Ali. Perilakunya sempat menimbulkan efek hukum yakni memercikkan air pada kencing anak laki-laki, dan membasuh/ menyiram pada kencing anak perempuan.

Tak kalah menariknya, adalah keberanian Lubabah menghadapi musuh agama Allah/ agama Islam. Lubabah telah berani melawan dead to head dengan Abu Lahab. Dengan pukulan telak menjadikan Abu Lahab tersungkur, secara terhina dan jatuh harga dirinya.
Abu lahab hanya sempat hidup 7 hari pasca pemukulan Lubabah, kemudian sakit bisul yang amat parah, dan mengantar ke kematiannya.

Wahai aktifis 1912, tidak ada yang mustahil, jika berjuang dengan sungguh-sungguh, ikhlash karena mencari ridha Allah, bertaqwa dan tawakkal kepada Allah swt. pasti Allah akan membukakan jalan-jalan menuju kemenangan.

Allah berfirman dalam surat al-Ankabut ayat 69 :
وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُوا۟ فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلْمُحْسِنِينَ
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here