Ibrah Kehidupan #146: Utsman Bin Mazh’un, Ingin Jadi Jomblo Seumur Hidup, Memupuk Self Convident dengan Menggubah Sya’ir (-2)

0
284
Foto diambil dari Islampos

KLIKMU.CO*

Boleh jadi, saat seseorang begitu sibuk dengan apa yang dikerjakan, termasuk ketika sedang focus terhadap cita-cita dalam hidupnya, ia sampai pada kesimpulan untuk jomblo. Dalam arti, tidak mau punya pasangan hidup.Utsman bin Mazh’un, salah satu sahabat Nabi Muhammad saw yang berkeinginan untuk menjomblo atau membujang seumur hidup. Alasannya sederhana, karena ingin focus beribadah kepada Allah sawt, serta lebih percaya diri dalam ikhtiar memperjuangkan agama Islam serta membela kepentingannya. Agar ibadah dan perjuangannya lancar tidak terbebani kesibukan lain maka jalan yang harus ditempuh adalah menjadi “jomblo” alias membujang seumur hidup.

Apapun alasannya, namun pada prinsipnya, memiliki pasangan hidup adalah fitrah manusia. Dan, Nabi Muhammad saw, sendiri justru yang mengatakan bahwa saya shalat dan puasa, namun saya juga beristeri (memiliki pasangan hidup).

Kisah keinginannya untuk membujang diutarakannya langsung kepada Nabi saw , dan ini direkam dalam Musnad Ahmad dari Sa’d bin Abi Waqqash dan dalam Sunan Abu Dawud dari ‘Aisyah ra.,sebagai berikut :
أن عثمان بن مظعون أراد التبتل، فقال له رسول الله صلى الله عليه وسلم: أترغب عن سنتي ؟ قال: لا والله، ولكن سنتك أريد. قال: فإني أنام وأصلّي، وأصوم وأفطر، وأنكح النساء، فاتق الله يا عثمان، فإن لأهلك عليك حقّا، وإنّ لضيفك عليك حقا، وإن لنفسك حقا، فصم وأفطر، وصلّ ونم.
Utsman bin Mazh’un pernah ingin untuk tidak menikah (membujang). Rasulullah Saw. lalu bersabda kepadanya, “apa kamu ingin menghindari sunahku? Utsman berkata: “tidak demi Allah, saya ingin mengikuti sunnahmu.” Rasulullah Saw. bersabda: Sesungguhnya saya tidur, shalat, puasa, makan, dan menikahi perempuan. Maka tetaplah bertakwa wahai ‘Utsman. Sesungguhnya engkau tetap memiliki kewajiban pada keluargamu, ada juga kewajiban pada sisi pribadimu, ada juga kewajiban pada jiwamu. Maka berpuasalah lalu berbuka, shalatlah namun tetap tidur.Ibnu Mazh’un, sungguh luar biasa ketahanan imannya terutama ketika menghadapi terror yang dilancarkan oleh tokoh-tokoh kuffar quraisy kepada dirinya.

Sedemikian tegarnya sampai-sampai dia perlu memupuk kepercayaan dirinya dengan menggubah syair yang berisikan sindiran dan peringatan terhadap para kuffar dan penista agama  itu. Di antara Sebagian untaian sya’irnya sebagai berikut :

• Kamu melengkapi panah dengan bulu-bulunya.

• Kamu raut ia setajam-tajamnya.

• Kamu perangi orang-orang yang suci lagi mulia.

• Kamu cela orang-orang yang berwibawa.

• Ingatlah nanti, saat bahaya datang menimpa.

• Perbuatanmu akan mendapat balasan dari rakyat jelata.”

IBRAH DARI KISAH INI: 

Ada dua sisi yang bisa diambil dari kisah perjalanan hidup Utsman bin Mazh’un, yakni pertama focus dalam beribadah dan berjuang. Kedua menghiasi jiwanya dengan seni yang lembut dan menyentuh kalbu. Beribadah kepada Allah swt merupakan tugas utama sebagai “Abdullah” atau hamba Allah swt di manapun kita berada dan profesi apapun yang kita tekuni. Berjuang menegakkan kebenaran (izzul Islam wal Muslimin) juga merupakan kewajiban setiap muslim, sebagai “Khalifatullah” atau orang yang diberi mandat kepemimpinan oleh Allah swt.

Wahai para pejuang 1912, Tetapi, kesungguhan beribadah kepada Allah swt, dan focus dalam berjuang, tidak boleh mengabaikan bahkan menafikan posisi kita sebagai makhluq social yang punya hak hidup, makan, minum, shalat, puasa, berekspresi diri, meningkatkan kualitas pribadi, dan tentu saja beristri atau bersuami. Ini adalah fithrah manusia.Ibnu Mazh’un pernah bercita-cita menjomblo agar ibadah dan berjuangnya lebih focus dan maksimal. Tetapi dilarang oleh Rasulullah saw, meskipun sekilas seakan-akan benar. Niat menjomblo atau membujang seumur hidup adalah menyalahi sunnah Nabi.

Selain itu, mengembangkan kelembutan jiwa sebagai inti dari “rasa” yang dalam bahasa agama disebut kalbu tempat bersemayamnya “iman”. وَمَآ أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ ٱلْمُرْسَلِينَ إِلَّآ إِنَّهُمْ لَيَأْكُلُونَ ٱلطَّعَامَ وَيَمْشُونَ فِى ٱلْأَسْوَاقِ ۗ وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ ۗ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا Artinya : Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dan kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar?; dan adalah Tuhanmu maha Melihat.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here