Ibrah Kehidupan #148: Utsman bin Mazh’un, Meninggalkan Dunia Sebelum Menikmatinya, Meninggalkan Dunia Sebelum Dunia Memperdayainya (Habis)

0
310
Foto diambil dari Islampos

KLIKMU.CO-

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Di suatu hari, di Masjid Nabawi hari itu, Rasulullah saw bertanya kepada para Sahabat yang berada di hadapannya.

“Bagaimana pendapat kalian, jika kalian dapat berganti-ganti pakaian di pagi dan sore hari. Makanan yang dihidangkan kepada kalian juga berganti-ganti. Kalian juga bisa menghias rumah kalian seperti kalian menghias Ka’bah?” Para Sahabat menjawab, “Kami ingin hal itu dapat terjadi wahai Rasulullah saw. Kami ingin hidup makmur.”

“Sesungguhnya, hal itu pasti terjadi. Tetapi, keimanan kalian di hari ini lebih baik daripada keimanan kalian di hari itu,” kata Rasulullah. Apa yang sebenarnya dilihat Rasulullah saw sehingga kemudian kata-kata indah itu terucap dari lisannya?
Pakaian, makanan, keimanan, apakah ada hubungan diantaranya? Kejadian yang diperankan oleh seorang Sahabat yang mencintai Rasulullah saw dan baginda-pun mencintainya.

Dialah Utsman bin Mazh’un.
Ketika pertama kali “agama Islam” datang dan didakwahkan oleh Rasulullah saw, secara sembunyi-sembunyi, disambut tanpa keraguan sedikitpun oleh Sahabat Utsman bin Mazh’un ra.

Utsman bin Mazh’un adalah salah satu Sahabat yang pernah hijrah ke Habasyah (Ethiopia-Afrika) karena didera berbagai siksaan oleh kaum kuffar Quraisy yang menyebabkan ia dan Sahabat-Sahabat seperjuangannya tidak bisa bergerak bebas di siang hari dan tidak bisa tidur nyenyak di malam hari.

Dalam perjalanan dakwah selanjutnya, ketika Rasulullah merasakan tekanan yang sangat keras yang dilakukan oleh kaum kuffar qurasy sehingga kota Makkah sudah tidak kondusif lagi bagi perjalanan dakwah. Di samping itu Melihat penderitaan para sahabat yang bertubi, maka atas perintah Allah swt, Rasulullah saw dan Sahabat hijrah ke Madinah Al-Munawarrah. Di sana mereka dapat beribadah dengan tenang.
Hingga pada suatu hari, Ustman bin Mazh’un memasuki sebuah masjid. Rasulullah saw dan para Sahabat ketika itu sedang duduk di dalamnya.

Melihat betapa kondisi Utsman bin Mazh’un radhiyallahu ‘anhu, hati Rasulullah saw tersentuh.

Beberapa Sahabat bahkan meneteskan air matanya. Apa sebenarnya yang mereka lihat dari Ustman bin Mazh’un sehingga sampai meneteskan air mata?
Lihatlah, Ibnu Mazh’un itu ia mengenakan pakaian lusuh dan penuh sobekan yang ditambal dengan jahitan dari kulit unta.
Ia berjalan dengan wajah kezuhudan dan langkah tenang memasuki masjid. Pakaian yang penuh sobekan itu sama sekali tidak membuatnya malu terhadap Sahabat lain.
Ia juga tidak mengharap pujian dan perhatian dari manusia seorangpun.

Sahabat Utsman bin Mazh’un mengenakan pakaian ketaqwaan yang tidak kasat mata oleh manusia, namun mendapat perhatian sepenuhnya dari Allah swt. Ia hanya mengharap Li Wajhillah (semata untuk pertemuannya dengan wajah Allah Subhaanahu wata’alaa) dan ridha-Nya.

IBRAH DARI KISAH INI:

Kesederhanaan, kezuhud-an, dan sifat Qona’ah dalam menjalani hidup ini, dapat menumbuhkan perasaan iman pada pelakunya. Harta benda yang tidak ditampakkan itu ampuh untuk meniadakan kesombongan.

Kesombongan hanya membuat hidup pelakunya menjadi tidak tenang. Kesederhanaan, kezuhud-an, dan sifat Qona’ah inilah suatu hal yang menciptakan kedamaian di kehidupan Rasulullah saw dan para Sahabatnya.

Mereka tidak memandang dunia sebagai focus kehidupan dan bahkan cenderung meninggalkan kenikmatan agar Allah swt memberikan semua kenikmatan-Nya di akhirat, di Surga kelak.

Rasulullah saw memberi penghormatan terakhir kepada Utsman bin Mazh’un sebelum janazah dikuburkan :

“Semoga Allah memberimu rahmat, Wahai Abu Saib (Utsman bin Mazh’un). Kamu tinggalkan dunia sebelum kamu menikmatinya dan kamu tinggalkan dunia sebelum dunia memperdayaimu,”.Demikian Sabda Rasulullah saw melepas kepergiannya menuju kehidupan kekal nan abadi.

Rasulullah saw mencium kening Ibnu Mazh’un hingga keningnya basah oleh air mata Rasulullah saw yang suci dan harum.

Wahai kader 1912, keterbatasan kehidupan duniawi baik fisik maupun materi, tidak layak menjadi alasan untuk surut ke belakang dan kendur semangat jihadnya. Justeru sebaliknya harus menjadi pelecut semangat jihad dan dakwah di jalan Allah swt di manapun kita berada, dan profesi apapun yang kita tekuni.

Dalam melaksanakan jihad fii sabilillah, sejatinya tidak ada hubungannya dengan kekayaan atau kemiskinan.

Yang dibutuhkan adalah kesungguhan, keikhlasan, serta bertawakkal kepada Allah swt.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here