Ibrah Kehidupan #147: Utsman bin Mazh’un, Seorang Rahib di Waktu Malam, dan Seorang Prajurit di Waktu Siang (-3)

0
283
Foto diambil dari Islampos

KLIKMU.CO-

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Di kota tempat hijrah, Al-Madinah Al-Munawwarah, kepribadian Utsman bin Mazh’un yang tidak ubahnya bagai batu permata yang telah diasah itu terlihat jelas, dan kebesaran jiwanya yang istimewa tampak nyata.

Ia adalah seorang ahli ibadah. Seorang zahid, yang mengkhususkan diri dalam beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah swt. Ia adalah orang suci dan mulia lagi bijaksana, yang tidak mengurung diri untuk tidak manjauhi kehidupan duniawi, tetapi orang suci yang luar biasa yang mengisi kehidupannya dengan amal dan jihad di jalan Allah swt.

Ia adalah seorang rahib (‘abid, ahli ibadah, tahajjud) pada larut malam, dan prajurit berkuda pada waktu siang, bahkan ia adalah seorang rahib, baik pada waktu siang maupun malam, sekaligus seorang prajurit berkuda yang berjuang siang dan malam.

Bisa dikatakan bahwa para shahabat Rasulullah saw pada masa itu semuanya berjiwa zuhud dan gemar beribadah, tetapi Ibnu Mazh’un memiliki cirri-ciri khas. Dalam zuhud dan ibadahnya ia sangat tekun dan mampu mencapai puncak tertinggi, hingga corak kehidupannya, baik siang maupun malam dialihkannya menjadi shalat yang terus-menerus dan tasbih yang tiada henti-hentinya.

Setelah merasakan manisnya keasyikan beribadah itu, ia hendak memutuskan hubungan dengan segala kesenangan dan kemewahan dunia. Ia tidak ingin memakai pakaian kecuali yang kasar, dan tidak mau makan makanan selain yang sangat bersahaja.

Ibnu Mazh’un, bertambah tekun menjalani kehidupan yang sederhana dan menghindari sejauh-jauhnya kesenangan dunia. Bahkan, menahan diri dan tidak ingin menggauli istrinya seandainya hal itu tidak diketahui oleh Rasulullah saw dan mengingatkannya.

Rasulullah saw mengingatkan Ibnu Mazh’un yang nyaris lupa kepada istrinya lantaran focus beribadah. Rasulullah saw memanggilnya dan menyampaikan pesan kepadanya, “Sesungguhnya keluargamu itu mempunyai hak atas dirimu.”

Ubnu Mazh’un sangat disayangi oleh Rasulullah saw. Rasulullah berada di sisinya ketika ruhnya yang suci bersiap-siap untuk berangkat menghadap Allah, untuk menjadi orang muhajirin pertama yang wafat di Madinah, sekaligus orang pertama yang merintis jalan menuju surga pada masa beliau.

Sepeninggal shahabat ini (Ibnu Mazh’un), Rasulullah saw yang sangat penyayang itu tidak pernah melupakannya. Beliau selalu mengingat dan memujinya. Bahkan, untuk melepaskan putri beliau, Ruqayyah, yakni ketika nyawanya hendak meninggalkan jasadnya, beliau mengungkapkan, “Pergilah menyusul pendahulu kita yang merupakan manusia pilihan, Utsman bin Mazh’un.”

Utsman bin Mazh’un, merupakan contoh seorang hamba Allah yang secara totalitas mengabdi dan berbakti kepada Allah, Rasulullah saw dan agama yang didakwahkannya yakni Islam. Ibnu Mazh’un telah menghabiskan seluruh waktunya, malam hari fully beribadah kepada Allah laksana rahib, dan siang harinya fully berdakwah dan jihad fii sabilillah.

IBRAH DARI KISAH INI:

Ibnu Mazh’un, salah satu sahabat Nabi Muhammad saw yang pantas menjadi teladan umat. Dia menjadi seorang muslim yang sesungguhnya, lahir bathin. Ketekunan dan kekhusyu’an ibadahnya dilakukan siang dan malam.

Di waktu malam dia tampil sebagai rahib (hamba Allah yang tugasnya beribadah mendekatkan diri kepada Allah, dengan cara shalat tahajjud, bermunajat kepada Allah swt). Di siang hari siap menjadi prajurit pemberani, pantang menyerah di medan perang.

Ibnu Mazh’un menjadi pembela dakwah nabi Muhammad saw sejak di Makkah sampai ke Madinah, bahkan sampai tiba ajal menjemputnya, yakni pasca perang Badar.

Ia berangkat ke Madinah bersama rombongan para shahabat utama yang dengan keteguhan dan ketabahan hati mereka telah lulus dalam ujian yang telah mencapai puncak kesulitannya dan kesukarannya.

Dari pintu gerbang yang luas dari kota itu nanti mereka akan melanjutkan pengembaraan ke seluruh pelosok bumi, membawa dan mengibarkan panji-panji Islam, serta menyampaikan berita gembira dengan kalimat-kalimat dan ayat-ayat petunjuk-Nya.

Tidaklah berlebihan wahai kader 1912, untuk meneladani perikehidupan serta sepak terjang Utsman bin Mazh’un. Sosok pribadi yang telah totalitas mengabdikan diri dalam hidupnya untuk tujuan kemuliaan Islam. Malam hari sebagai rahib, dan siang hari sebagai prajurit.

Utsman bin Mazh’un sangat faham bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara, bahkan kata Allah kehidupan dunia hanyalah permainan :
disebutkan dalam surat al-An’am : 32 dan al-‘Ankabut : 64

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ
Artinya : Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan hanya permainan dan senda gurau.

وَمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِب
Artinya : Dan tidaklah kehidupan dunia ini melainkan hanya permainan dan senda gurau.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here