Ibrah Kehidupan #15: Khalifah Utsman Bin Affan: Pemilik Dua cahaya (-4)

0
439
Foto serdadu memegang panji Allah diambil dari youtube

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Jayadi*

Cinta adalah sebuah kata kerja. Karena itu mencintai berarti membawa konsekuensi bagi para pecinta sejati berupa keterharusan untuk melindungi, merawat, menyirami, dan menumbuhkan kuntum-kuntum cinta agar senantiasa tetap bersemi. Maka pada setiap betikan niat yang menggerakkan diri untuk mencintai lalu menikahi seseorang; tanyakan pada hati nurani, apa yang paling menyalakan dan mengobarkan minat di dalam hati?. Kala itu, Utsman Ibn Affan baru dibaiat menjadi khalifah ketiga untuk meneruskan kekhalifahan Amirul Mukminin Umar Ibn Al Khattab Ra yang syahid di tangan seorang kafir majusi. Kala itu pula, Utsman Ibn Affan memutuskan untuk menikah lagi, setelah pada dua pernikahan sebelumnya ia telah menikahi dua putri Rasulillah SAW, yakni Ruqayyah dan Ummu Kultsum sehingga Utsman Ibn Affan digelari sebutan Dzun Nurain atau Pemilik Dua Cahaya.

Tak berselang lama, atas upaya (mak comblang) ‘Abdurrahman ibn ‘Auf bersama isterinya “Tamadhar”. Betapa kagetnya Utsman. Betapa tidak, calon istrinya bisa diibaratkan sebuah bunga yang baru berkembang dan akan mekar karena calon istrinya baru berusia 18 tahun usianya. Namanya adalah “Nailah binti al-Farafisyah”.

Utsman sadar betul, usianya saat itu sudah tak muda lagi, 80 tahun. Sebuah usia yang mungkin tidak menarik lagi bagi para gadis berusia muda, Beliau bilang pada Nailah, aku rela melepas ikatan ini jika memang engkau tidak berkenan. Namun herannya, hal itu tidak belaku bagi seorang Nailah.“Apa maksudmu duhai Dzun Nurain?”, tukas Nailah, “Demi Allah aku tak ingin sedikitpun membatalkan ikatan pernikahan yang suci ini!” jawab Nailah. “Tapi pastinya kau takkan menyukai ketuaanku”, sahut ‘Utsman. “Justru aku ini suka suami yang lebih tua”, jawab Nailah dengan tersipu. Utsman malah membuka surbannya, memperlihatkan geripis kebotakan di rambutnya, “Bukan hanya tua, diriku telah jauh melampaui ketuaan”, ujar Utsman. Mendengar hal itu, Nailah malah mendekat & mencium kening ‘Utsman. “Masa mudamu sudah kauhabiskan di sisi Rasulullah, duhai lelaki yang 2 kali berhijrah.

Betapa berharga bagiku jika Allah mengaruniakan kesempatan mendampingi sisa usia muliamu, hingga kelak menghadapNya, insya Allah”, pungkas Nailah yang menimbulkan ketentraman bagi Utsman. Selanjutnya setelah menikah, Utsman dan Nailah hanya memberikan bukti nyata atas keputusan mereka untuk bersama dalam ikatan pernikahan yang suci nan mulia. Utsman mencintai Nailah dan Nailah pun mencintai Utsman.

Ibrah dari Kehidupan Ini:
Khalifah Utsman dan Nailah, telah mengikatkan diri menjadi suami isteri yang sangat harmonis. keduanya merupakan para pecinta sejati yang senantiasa melaksanakan pekerjaan-pekerjaan cinta bagi orang yang dicintainya. Maka, keduanya saling memberi, saling memperhatikan, saling menumbuhkan, saling merawat, dan saling melindungi. Nailah yang disirami kerja cinta dari sang suami pun tumbuh dan semakin mekar. Ia menjadi salah satu perempuan yang pandai bertutur kata dan sangat menguasai sastra. “Aku tidak menemui seorang wanita yang lebih sempurna akalnya dari dirinya (Naila). Aku tidak segan apabila ia mengalahkan akalku,” kata Utsman suatu ketika mengenai Nailah. Begitu cintanya sorang Utsman terhadap Naila, maka Ustman paling senang memberikan hadiah untuk istrinya itu. Semua kaum muslimin yang sudah berkeluarga sejatinya juga terinspirasi oleh indahnya cinta Utsman dan Nailah. Subhanallah. Mari para kader dan pejuang 1912 kita tiru sosok pemilik dua cahaya ini.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here