Ibrah Kehidupan #153: Abdullah bin Rawahah, Tiada Hari Tanpa Bersya’ir, dan Merindukan Syahid (Habis)

0
172

KLIKMU.CO-

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Terdapat riwayat dari Zaid bin Arqam dia berkata, “Aku salah satu anak yatim yang diasuh Abdullah bin Rawahah. Suatu hari beliau dalam perjalanan pernah memboncengkan aku di belakang kudanya. Demi Allah, sepanjang perjalanan malam itu, aku mendengar beliau mengucapkan syair-syair seperti berikut:

Ketika aku siapkan bekal kepergianku untuk perang,
Sejauh perjalanan 4 farsakh dari kota Hasa’
Sementara kamu bersenang-senang di sela kecaman,
Aku tak peduli tidak akan kembali kepada keluarga,
Kaum Muslimin enggan dan meninggalkan aku,
Di wilayah Syam padang yang panas,
Aku tidak butuh nasab dan kerabat,
Kepada Allah putus segala kerabat,
Di sana aku tidak butuh putik kurma,
Juga kurma yang berguguran.’

Setelah sampai di suatu tempat, setelah aku mendengar syair-syair tersebut kemudian aku menangis. Lalu Abdullah melempar aku dengan kerikil kecil dan berkata kepadaku, (menduga bahwa tangisan itu adalah bentuk cibiran), ‘Celaka kamu, apa salahnya aku berdoa kepada Allah agar memberiku syahid, sementara kamu pulang ke kaumku dengan membawa kuda ini’.”

Zaid bin Arqom menangis bukan mencibir, tetapi karena terharu dengan isi kandungan sya’irnya. Abdullah bin Rawahah sangat rindu berjihad sampaipun menemui syahid. harapannya jika itu terkabul maka Zaid-lah yang membawa pulang kuda miliknya.
Ketika dalam peperangan Mu’tah yang sedang berkecamuk, setelah dua panglima pasukan muslimin menemui syahid, Abdullah bin Rawahah tampil menggantikan keduanya.

Dia memposisikan dirinya sebagai panglima dan berusaha menenangkan diri setelah beberapa saat muncul keraguan, ketika itu dia berseru:

Aku bersumpah demi Allah,
Akan maju ke medan perang baik suka maupun duka,
Seluruh manusia telah siap bertempur,
Tapi kenapa sepertinya engkau, wahai jiwaku, menolak Surga,
Telah tiba kesempatan yang aku idamkan,
Bukankah engkau ini hanya setetes saja dari lautan,
Ibnu Rawahah melanjutkan syairnya, beliau berkata,
Wahai jiwaku,
Sekiranya engkau tidak gugur di medan perang, engkau tetap akan mati,
Inilah merpati kematian telah menyambutmu,
Apa yang kau idam-idamkan telah engkau peroleh,
Jika engkau ikuti jejak keduanya (dua panglima sebelumnya),
Engkau beruntung sebagai panglima sejati,
Jika engkau mundur pasti sengsara dan rugi.

Ketika ia telah berada di tengah medan pertempuran, keponakannya datang membawa daging, sambil berkata, “Isilah perutmu dengan ini, karena sudah beberapa hari ini kondisimu memprihatinkan.”

Kemudian ia mengambilnya lalu mengunyahnya. Tiba-tiba ia mendengar suara serangan yang hebat dari arah lain, ia berkata pada dirinya, “Engkau masih juga di dunia?” Lalu ia melemparkan daging itu dan mengambil pedangnya, untuk maju menyerang musuh sehingga terbunuh. Semoga Allah ridha kepadanya

IBRAH DARI KISAH INI :

Memang Bersya’ir itu sangat identik dengan mengasah kelembutan jiwa, asalkan sya’ir yang mengandung kebaikan bahkan membangkitkan semangat jihad. Abdullah bin Rawahah adalah contoh konkrit dari salah satu sahabat yang telah melakukan praktik bersya’ir.

Jiwa seni bagi seorang Abdullah bin Rawahah, berbalut keimanan dan aqidah yang kokoh, menjadikan dia tampil sebagai sosok perwira bahkan pernah menjadi panglima perang yang sangat berwibawa di hadapan anak buahnya.

Kelembutan jiwa baginya tidak serta merta menjadi pribadi yang lunak dan gampang diatur-atur dan mudah diiming-iming sesuatu yang sifatnya materi kedunyawian. Justru kelembutan jiwanya malah menghadirkan sifat jujur, amanah, serta menepati janji. Di balik kelembutan jiwanya ternyata ada ketegasan yang luar biasa, terutama dalam menolak segala macam sogok atau suap.

Abdullah bin Rawahah, dalam banyak sya’irnya selalu merindukan mati Syahid. Baginya mati syahid adalah impian, dan itu adalah bagian dari substansi kesungguhannya dalam berjuang menegakkan agama Allah.

Wahai kader 1912, Abdullah bin Rawahah, menegaskan bahwa peperangan melawan musuh Allah hanya akan menghasilkan dua kemungkinan, yakni “kemenangan” atau “mati syahid”.

Penegasan Abdullah bin Rawahah tersebut sejalan atau senyawa dengan semboyan para mujahid dakwah “ عِشْ كَرِيْمًا اَوْمُتْ شَهِيْدًا “ , hiduplah sebagai manusia bermartabat, atau matilah sebagai syahid.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here