Ibrah Kehidupan #154: Uwais Al-Qorny, Tabi’in Generasi Sahabat, Kenyang dengan Kemiskinan (-1)

0
332
Foto diambil dari muslimahdaily.com

KLIKMU/CO

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Nama lengkapnya, Uwais bin ‘Amir Al-Qorny. Biasa dipanggil “Abu Amr”.
Abu Amr hidup di zaman Shahabat, tetapi tidak pernah bertemu Nabi Muhammad saw.
Pernah melakukan perjalanan dari Yaman ke Madinah berjalan kaki ingin menemui Nabi Muhammad saw, sesampainya di rumah Nabi saw ditemui Aisyah, Uwais menyatakan ingin bertemu dengan Nabi Muhammad saw, Lalu Aisyah memberitahukan bahwa Nabi Muhammad saw sedang di Badar berperang menghadapi kaum kafir.
Dengan perasaan ikhlas sambil meredam kekecewaannya Uwais pamit Kembali pulang ke Yaman.
Tabi’in adalah orang-orang yang tidak pernah bertemu Nabi, namun pernah bertemu dengan Sahabat. Abu Amr (Uwais) pernah berguru kepada Umar Ibnul Khattab, dan Ali bin Abi Thalib. Meskipun sepanjang kehidupannya berkubang dalam kemiskinan, namun ternyata dia adalah “Teladan umat”. Cintanya kepada Rasulullah saw melebihi segalanya.
Uwais Al Qorni lahir di tengah keluarga miskin di sebuah desa terpencil “Qoron” di negeri Yaman. Tidak ada yang mendokumentasikan tarikh kelahirannya. Ayah dan Ibunya yang taat beribadah, tidak mampu menyekolahkannya. Alhasil, dia mendapat pelajaran seadanya dari orang tua yang sangat dicintai dan ditaatinya.
Ayahnya meninggal dunia ketika Uwais masih kecil. Sementara Ibunya sudah tua renta dan lumpuh. Penglihatannya pun kabur. Uwais tak punya sanak famili. Satu hal lagi yang menambah kesempuraan keterhinaan Uwais di mata manusia yakni dia berpenyakit sopak sejenis kusta yang menjadikan kulitnya belang-belang.
Dalam kehidupan kesehariannya, Uwais lebih banyak menyendiri dan diam. Pemuda Uwais berpostur tubuh tinggi, badannya sedang, berambut lebat dan merah, matanya biru, pundaknya lapang panjang, serta kulitnya kemerah-merahan.
Tidak sedikit kawan-kawan yang sering mengejek, menghina, menertawakan, dan membulinya sebagai anak bodoh. Uwais tidak membalas perlakuan buruk tersebut. Dia lebih senang membantu meringankan beban orang tuanya dengan cara bekerja sebagai penggembala dan pemelihara ternak upahan. Pergaulannya hanya dengan sesama penggembala di sekitarnya.
Hidup Uwais dan Ibunya sungguh amat sangat sederhana. Pakaian yang dimiliki Uwais cuma yang melekat di tubuhnya. Setiap harinya dia lalui dengan berlapar-lapar ria. Dia hanya makan buah kurma dan minum air putih. Tidak pernah dia memakan makanan yang dimasak atau diolah. Jika mendapatkan rezeki lebih, lelaki yang matanya mudah meneteskan airmata ini tak segan-segan membagikannya kepada beberapa tetangganya yang kekurangan. Dia tidak menampakkan kesusahan maupun kesenangannya kepada orang lain.
Sejak kecil Uwais sudah memeluk agama Islam. Siang hari dia bekerja keras sambil terus berpuasa, malamnya shalat dan bermunajat kepada Allah swt untuk mendoakan orang lain.
Hati dan lisannya tidak pernah lengah dari berdzikir dan membaca Al-Quran selama beraktivitas. Dia juga selalu merawat dan memperhatikan keadaan Ibunya. Namun, terkadang dia merasakan kesedihan ketika tetangganya bisa pergi ke Madinah untuk mendengarkan pengajaran Nabi Muhammad saw secara langsung. Sementara Uwais belum mampu karena berbagai kendala. Dia sekadar mendengarkan cerita-cerita tentang Rasulullah. Ternyata hal itu kian menumbuhkan kecintaan dan kerinduannya untuk bertemu Rasulullah.
Uwais, sejatinya hidup di zaman Rasulullah saw, tetapi sedih karena kepingin bertemu Nabi Muhammad saw tetapi mengingat keadaan kemiskinannya maka hal itu tidak pernah kesampaian. Itulah sebabnya Uwais meskipun hidup di zaman Nabi saw tetapi tidak disebut sebagai “Sahabat”, tetapi karena pernah bertemu para Sahabat maka dia disebut “Tabi’in”.
Tabi’in generasi Sahabat itu pernah “diramalkan” oleh Nabi Muhammad saw sebagai teladan umat meski sepanjang perjalanan hidupnya diliputi dengan kemiskinan.

IBRAH DARI KISAH INI :

Uwais bin ‘Amir Al-Qorny (Abu Amr), adalah sosok pribadi yang oleh Nabi Muhammad saw disebut sebagai sebaik-baik tabi’in, dan sebagai teladan umat.
Tabi’in generasi Sahabat itu mengarungi kehidupannya dalam kubangan kemiskinan sejak kecil sampai akhir kehidupannya.
Tetapi anehnya, Uwais ini tidak pernah merasa miskin, tidak pernah mengeluh dengan keterbatasan hidupnya. Salah satu keistimewaannya adalah “kecintaan” dan “keta’atannya” kepada orang tuanya telah mengalahkan segala keterbatasannya (hal ini akan kita ikuti pada seri berikutnya).
Pernah mendapat izin dari Ibunya untuk melakukan perjalanan Panjang menuju Madinah ingin bertemu Nabi Muhammad saw, sosok panutan yang sangat dicintainya.
Sesampainya di rumah Nabi saw ditemui Aisyah, Uwais menyatakan ingin bertemu dengan Nabi Muhammad saw, Lalu Aisyah memberitahukan bahwa Nabi Muhammad saw sedang di Badar berperang menghadapi kaum kafir.
Dengan perasaan ikhlas sambil meredam kekecewaannya Uwais pamit kembali pulang ke Yaman. Jadi sejatinya Uwais hidup di zaman Nabi saw tetapi belum pernah ketemu Nabi saw, sehingga Uwais dikenal sebagai “Tabi’in Generasi Sahabat”.
subhanallooh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here