Ibrah Kehidupan #155: Uwais Al-Qorny, Menghindari Ketenaran, dalam Banyak Keistimewaan (-2)

0
163
Foto diambil dari muslimahdaily.com

KLIKMU.CO-

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Uwais Al-Qorny, sosok yang amat sangat sederhana, tawadlu’ dan selalu menghindar dari ketenaran demi menjaga kesucian jiwa dari riya’ dan thama’
Ada beberapa kejadian yang menunjukkan ketawadhu’an Uwais, sikapnya yang sederhana, dan beliau sangat tidak ingin masyhur di tengah-tengah manusia.
Uwais, seorang hamba Allah penduduk bumi, yang sangat disukai oleh penduduk langit.

Pertama: Saat bertemu dengan Umar Ibnul Khattab, Umar menanyakan keadaan Uwais. Setelah tahu bahwa ia memang Uwais (seperti yang diceritakan oleh Nabi), Umar pun meminta Uwais berdo’a memohonkan ampunan untuknya. Tapi Uwais menolak, justru merasa bahwa Umar lebih layak mendoakan ampunan untuknya karena Umar adalah Sahabat Nabi. Barulah Uwais mau mendoakan ampunan untuk Umar setelah mendengar hadits yang didengar Umar dari Nabi saw sebagai berikut :

Ketika datang penduduk Yaman, Umar bertanya-tanya kepada anggota rombongan: Apakah ada di antara kalian seorang dari Qoron? Hingga beliau mendatangi orang-orang dari Qoron dan bertanya: Siapakah kalian? Mereka menjawab: (kami dari) Qoron. Kemudian tali kekang Umar atau Uwais terjatuh dan salah seorang dari keduanya (Uwais atau Umar) mengambilkannya untuk yang lain sehingga dia mengenalnya.

Umar bertanya: Siapa namamu? Dia menjawab: Aku Uwais. Umar bertanya: Apakah engkau memiliki ibu? Uwais berkata: Ya. Umar bertanya: Apakah dulu engkau memiliki penyakit putih (belang) pada kulit? Uwais berkata: Ya, kemudian aku berdoa kepada Allah Azza Wa Jalla sehingga Allah menghilangkan penyakit itu dariku kecuali seukuran dirham pada pusarku. Agar aku tetap mengingat (nikmat) Rabbku itu.

Maka Umar pun berkata kepadanya: Mohonkanlah ampunan untukku. Uwais berkata: Anda yang lebih layak memohonkan ampunan untuk saya. Anda adalah Sahabat Rasulullah. Umar berkata: Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya tabiin terbaik adalah seorang laki-laki yang disebut Uwais. Dia memiliki seorang ibu. Ia memiliki penyakit putih (belang) pada kulitnya, kemudian dia berdoa kepada Allah Azza Wa Jalla sehingga Allah menghilangkan penyakitnya itu kecuali seukuran dirham pada pusarnya, maka Uwais pun memohonkan ampunan untuk Umar (H.R Ahmad dari Usair bin Jabir)

Kedua: Saat akan berpisah dengan Umar Ibnul Khattab, Umar yang saat itu sebagai khalifah menawari Uwais, apakah perlu Aku menuliskan sesuatu perintah kepada pejabat di tempat yang akan dituju Uwais, agar memudahkan urusan atau memberikan bantuan kepada Uwais. Namun Uwais menolaknya.

Dengan kata lain Umar Ibnul Khattab ingin memberikan fasilitas kepada Uwais di manapun dia berada, dengan cara memberi “surat sakti” kepada pejabat setempat. Kenyataannya Uwais menolaknya. Uwais sangat menghindari segala fasilitas dari pemerintah karena khawatir akan menjadikannya terkenal atau tenar.

Ketiga: Tahun berikutnya setelah pertemuan dengan Umar, Umar bertanya kepada orang yang dari Kufah tentang keadaan Uwais. Orang itu menjelaskan bahwa Uwais hidup sederhana dengan harta yang sedikit. Ini artinya bahwa Uwais tetap menikmati kesederhanaan atau kemiskinan dalam hidupnya, meskipun sangat dihormati oleh Umar Ibnul Khattab.

Keempat: Jika Uwais memberi nasihat atau mengingatkan orang-orang lain, nasihatnya sangat berkesan di hati. Pengaruhnya sangat kuat dan menancap di hati para penerima nasihat, dibandingkan nasihat yang disampaikan orang lain. Namun suatu ketika Uwais tidak terlihat dalam waktu yang lama. Ternyata beliau mendekam di rumahnya karena tidak ada pakaian yang bisa dikenakan untuk keluar rumah.

IBRAH DARI KISAH INI :

Uwais Al-Qorny, benar-benar sosok manusia teladan umat . beberapa indikatornya adalah kesederhanaannya, kezuhudannya, ketekunannya beribadah kepada Allah swt, serta kecintaannya kepada Nabi Muhammad saw meskipun belum pernah kesampaian bertemu dengan Nabi Muhammad saw.

Dan yang tak kalah hebatnya adalah dia selalu menghindari kemasyhuran atau ketenaran. Dia tidak ingin dipuji orang. Dia tidak ingin diketahui atau dikenali orang banyak. Meskipun demikian Uwais amat sangat dihormati oleh Khalifah Umar Ibnul Khattab.

Sikap hormat Umar Ibnul Khattab ini lantaran pernah diberitahu oleh Nabi saw (meskipun Nabi saw sendiri belum pernah ketemu Uwais) : suatu saat nanti akan ada seorang sholeh datang dari arah Yaman bernama Uwais, pernah sakit kulit putih (belang-belang). Jika kamu bertemu dengan dia maka mintalah dido’akan kepadanya. Dia adalah manusia teladan umat.

Wahai aktifis 1912, ada dua hal yang patut dipetik dari kisah Uwais ini. Pertama tentang kemiskinan (kekurangan secara finansial) merupakan madrasah untuk memupuk ketegaran dan kekuatan mental, serta kedekatannya kepada Allah swt sehingga memunculkan sikap sabar, tahan uji, dan kokoh akidahnya.

Kedua tentang keikhlasan dalam beraktifitas, merupakan madrasah untuk memupuk sikap wara’ , jujur, dan menghindari “pencitraan” di hadapan orang banyak. Menghindari kemasyhuran dan ketenaran.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here