Ibrah Kehidupan #159: Mu’awiyah bin Abu Sufyan, Mempunyai bakat dan Karir Politik yang Cemerlang (-2)

0
114
Foto diambil dari Republika

KLIKMU.CO-

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Mu’awiyah bin Abu Sufyan, menapaki jalan hidupnya secara terencana dengan tahapan-tahapan yang jelas. Dia merupakan sosok pribadi yang Tangguh dan multi talenta, serta selalu mampu menyelesaikan tugas dengan baik.
Zaman kekhalifahan Abu Bakar Assiddiq adalah zaman kritis di mana benih kemurtadan mulai merebak. Abu Bakar bertindak tegas dengan memerangi mereka. Muawiyah ikut salah satu pertempuran itu, yakni Perang Yamamah, perang melawan Musailamah si nabi palsu. Abu Bakar mengirim pasukan ke banyak tempat, salah satunya adalah Syam. Dalam kontingen pasukan Syam, ada salah satu pasukan yang dikomandani oleh Muawiyah.

Zaman kekhalifahan Umar bin Khattab, Mu’awiyah bin Abu Sufyan pernah ditugasi membebaskan Qaisariyah (Caesarea, Palestina) adalah sebuah kota dekat Tel Aviv. Namun, ternyata Qaisariyah memilliki benteng pertahanan dan pasukan yang sangat kuat. Setelah Qaisariyah dikepung dalam waktu cukup lama, Muawiyah pun berhasil menerobos kota tersebut. Prajurit Qaisariyah yang tewas mencapai 100.000 orang.

Setelah Mu’awiyah membuktikan kekuatannya atas dua peristiwa tersebut, Umar Ibnul Khattab mengangkatnya sebagai Gubernur Yordania pada 17 H.
Mu’awiyah bin Abu Sufyan, memasuki tahap puncak karier politiknya sebagai penguasa setelah ditunjuk menjadi Gubernur Syria pada 639 oleh Khalifah ‘Umar bin Khattab dan membuktikan dirinya sebagai pemimpin yang cakap. Salah satu capaian prestasinya adalah pembentukan angkatan laut Muslim pertama di dunia.

Ketika Saudaranya Muawiyah, Yazid bin Abu Sufyan sebagai pejabat di Damaskus, meninggal karena wabah Tha’un. Umar bin Khattab menugaskan Muawiyah untuk menggantikan posisi saudaranya memimpin Damaskus, Ba’labak (Ballbek, Yordania), dan Balqa (Yordania).
Zaman kekhalifahan Utsman bin Affan, Mu’awiyah-pun mendapat tempat yang istimewa.

Sebagaimana Umar Ibnul Khattab, Utsman bin Affan tidak memakzulkan Muawiyah. Bahkan, Utsman bin Affan (khalifah ke 3 dari khulafaurrasyidin) terus memberi Muawiyah kekuasaan sehingga Muawiyah menjadi Gubernur daerah mayoritas Syam. Ia menguasai daerah yang sangat luas dan telah menjadi gubernur Utsman yang paling berpengaruh.

Ketika gonjang-ganjing politik menimpa kota pusat Islam “Madinah al-Munawwarah”, khususnya menyikapi kepemimpinan Utsman bin Affan, terjadi pro-kontra. Utsman dianggap pemimpin pertama yang melakukan KKN, dan selalu bersikap “like and Dislike”.

Pembangkangan terjadi di mana-mana, berujung pada pembunuhan terhadap sang Khalifah (Utsman bin Affan). Masyarakat umum-pun mengangkat dan berbai’at kepada Ali bin Abi Thalib menjadi Khalifah ke empat dari Khulafaurrasyidin.

Pembunuhan Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan pada tahun 656 dan perbedaan pendapat mengenai status pembunuhnya memicu terjadinya perselisihan antara pihak Mu’awiyah dan Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib.
Mu’awiyah menginginkan agar pembunuh Utsman segera ditangkap, diadili dan dihukum qishash. Tetapi keinginan Mu’awiyah bin Abu Sufyan tidak langsung ditanggapi khalifah Ali bin Abi Thalib, karena khalifah memprioritaskan kestabilan politik Negara.

Persetruan ke dua tokoh ini memuncak dan berujung pada Peperangan Shiffin. Sepeninggal ‘Ali bin Abi Thalib (mangkat) dan putranya, Hasan, melepas jabatan khalifah setelah disandang selama sekitar enam atau tujuh bulan, maka tiba saatnya Mu’awiyah bin Abu Sufyan secara resmi menjadi khalifah pada tahun 661.
Mu’awiyah bin Abu Sufyan, dengan demikian menjadi khalifah pertama sekaligus pendiri imperium Islam/ dinasti Bani Umayyah.

IBRAH DARI KISAH INI 

Mu’awiyah bin Abu Sufyan (Abu Abdurrahman al-Quraisyi), sungguh sosok pribadi yang fenomenasosial. Seorang shahabat Nabi Muhammad saw yang amat dicintai Nabi, tetapi juga dihormati banyak orang lantaran charisma dan kewibawaannya.

Kedalaman ilmu fiqih-nya, ketaatan beribadahnya, serta kemampuan berinteraksi sosial kepada masyarakat dalam berbagai strata, telah mengantarkan dirinya menjadi pemimpin umat yang amat disegani.

Karir politiknya dibangun secara bertahap mulai dari bawah. Di zaman Nabi Muhammad saw sudah Nampak keistimewaan Mu’awiyah terutama kejujurannya. Pada zaman kekhalifahan Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan, Mu’awiyah menunjukkan prestasi dan kontribusinya yang nyata untuk agama dan negara.

Sebagian sejarahwan, menilai bahwa Mu’awiyah memiliki cacat intelektual dan cacat politik, yakni perseteruannya dengan khalifah Ali bin Abi Thalib yang berujung terjadinya peperangan antar sesame umat Islam. Hal ini dianggap telah menorehkan lembaran hitam sejarah peradaban Islam. Wallahu a’lam

Terlepas dari itu semua, nyatanya Mu’awiyah telah berhasil meyakinkan umat Islam atas kepemimpinannya. Dan puncaknya, Mu’awiyah bin Abu Sufyan menjadi khalifah pertama sekaligus pendiri sebuah imperium yakni Dinasti Bani Umayyah.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here