Ibrah Kehidupan #160: Mu’awiyah bin Abu Sufyan, Sosok Pemimpin yang unik dan Kontroversial (-3)

0
357
Foto diambil dari Republika

KLIKMU.CO-

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Pada masa kekhalifahannya, Mu’awiyah bin Abu Sufyan berhasil melakukan berbagai upaya penaklukan. Pengepungan Konstantinopel pada masanya merupakan upaya penaklukan pertama Konstantinopel oleh umat Islam.

Dalam bidang pemerintahan, Mu’awiyah bin Abu Sufyan lebih mengedepankan kecakapan dan kesetiaan daripada sistem kebangsawanan lama. Secara kepribadian, Mu’awiyah juga termasuk Muslim yang saleh dan menjaga ibadahnya meski dia menanggung beban memimpin kekhalifahan yang wilayahnya sudah sangat luas.

Para ahli menilai Mu’awiyah bin Abu Sufyan adalah sosok yang unik dan sering kali kebijakannya kontroversial. Dia berada dalam keluarga besar. Dari sebelas bersaudara Mu’awiyah paling menonjol. Berikut ini saudara-saudara Mu’awiyah : Yazid bin Abu Sufyan, Utbah bin Abu Sufyan bin Harb, Anbasa bin Abu Sufyan, Ummu Habibah binti Abu Sufyan, Ummul Hakam binti Abu Sufyan, Azzah binti Abu Sufyan, Umaimah binti Abu Sufyan, Muhammad bin Abu Sufyan, Hanzala bin Abu Sufyan, dan Amr bin Abu Sufyan.
Mu’awiyah bin Abu Sufyan memiliki pandangan yang jauh ke depan tentang perkembangan dakwah Islam. Tetapi visi tersebut tidak serta merta direspon secara positive oleh para elit dan pimpinan di zamannya. Dengan kata lain visi dan kebijakan Mu’awiyah sering dianggap kontroversial.

Di zaman khalifah Umar ibnul Khattab, Mu’awiyah pernah memulai membangun Angkatan laut untuk memperkuat peran prajurit Islam dalam misi pembebasan. Tetapi khalifah Umar belum menerima (belum waktunya) karena bangsa arab tidak familiar dengan lautan.
Di zaman khalifah Utsman, Muawiyah kali ini mencoba meyakinkan Utsman untuk memakai angkatan laut demi membebaskan Qubrush (Cyprus). Utsman mengizinkannya dengan memberi syarat: Muawiyah harus membawa istrinya.
Walaupun Muawiyah mempersilahkan masyarakat untuk memilih ikut ke Cyprus atau tidak, kekhalifahan berhasil mengumpulkan armada hingga 1.700 kapal. Mereka tertarik karena sebuah hadist dari Ummu Haram binti Milhan (istri sahabat Nabi Ubadah bin Shamit) yang menyebutkan bahwa akan ada sekelompok dari umatnya yang “mengarungi laut seperti raja-raja di singgasana”.

Pada zaman Utsman, Muawiyah cukup banyak melakukan inspeksi militer ke daerah perbatasan daerah kekuasaannya di Syam. Misalnya, pada 25 H ia menuju Anthakiyah dan Tarsus, tahun 26 H ia kembali melakukannya. Tahun 31 H, Muawiyah berangkat ke Daruliyah. Perbatasan yang berbentuk kepulauan ia serahkan penjagaannya kepada Habib bin Maslamah. Muawiyah juga beberapa turun langsung memimpin pasukannya sampai merambah celah bukit di Konstantinopel.
Persetruan atau konflik antara Mu’awiyah bin Abu Sufyan, juga merupakan sikap yang memicu kontroversi. Pada satu sisi khalifah Ali bin Abi Thalib ingin focus menciptakan kestabilan politik sehingga kasus pembunuh Utsman bin Affan sementara dipending dulu.

Mu’awiyah bin Abu Sufyan berbeda pandangan, pembunuh Utsman harus secepatnya diadili dan di qishash sebelum kaum muslimin berbai’at kepada Ali bin Abi Thalib. Sebab kalua tidak maka para komplotan pembunuh ini akan semakin sulit dilacak.

Menurut mayoritas ulama, sikap Kaum Muslimin dalam menyikapi konflik Ali-Muawiyah adalah meyakini bahwa mereka semua sedang berijtihad merespon situasi yang sangat pelik pada masa itu. Di antara mereka ada yang benar dan mendapat dua pahala, tetapi di antara mereka ada yang salah dan mendapat satu pahala. Kita tidak boleh membicarakan sahabat Nabi dengan perasaan benci.

IBRAH DARI KISAH INI

Mu’awiyah bin Abu Sufyan, salah satu shahabat Nabi Muhammad saw, penulis wahyu atas rekomendasi malaikat Jibril, berasal dari keluarga besar Abu Sufyan bin Harb, tokoh yang amat disegani di kalangan suku quraisy.

Mu’awiyah bin Abu Sufyan, telah meniti karir sejak keislamannya, bukan hanya kedalaman ilmu agamanya, tetapi kepiawaiannya dalam hal strategi perang, dan juga leadership atau kepemimpinannya.

Mu’awiyah bin Abu Sufyan, seorang pemimpin yang visioner sekalipun tidak serta merta bisa ditangkap secara proporsional oleh para elit pimpinan se zamannya.

Mu’awiyah bin Abu Sufyan, memang memiliki banyak keunikan baik dalam lingkungan keluarganya maupun dalam lingkungan masyarakatnya.

Kebijakannya yang dinilai kontroversial, misalnya tekadnya membangun basis Angkatan laut pertama di dunia Islam. Dalam waktu yang singkat mampu mewujudkan armada yang berkekuatan seribu kapal.

Kontroversi yang merupakan puncak karir politiknya adalah persetruannya dengan khalifah Ali bin Abi Thalib, yang kemudian mengantarnya menjadi khalifah pertama dari sebuah imperium Islam Daulah Bani Umayyah. Umat Islam mengambil hikmah tanpa disertai kebencian, dari pertikaian sesama umat Islam ini lantaran masing-masing pimpinan melakukan ijtihad.
Allahu a’lamu bis-Shawab.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here