Ibrah Kehidupan #163: Marwan bin Hakam: Konsolidasi, Memulihkan Marwah Dinasti Bani Umayyah (-2)

0
419
Foto diambil dari minanews.net

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Sebelum menjadi khalifah, sesungguhnya Marwan bin Hakam telah memiliki pengalaman di dunia politik pemerintahan yang cukup lama, terutama sejak kekhalifahan Utsman bin Affan (khalifah ketiga dari Khulafaurrasyidin).
Marwan bin Hakam, turut serta dalam pemerintahan Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan (berkuasa 644-656 M), yang juga merupakan sepupunya. Ia turut serta dalam perang melawan Kekaisaran Romawi Timur di Ifriqiyah (Afrika Utara bagian tengah), dan mendapat harta rampasan perang yang cukup banyak. Inilah modal awal kekayaan Marwan, dan sebagian ia investasikan dalam tanah dan bangunan di Madinah, ibu kota kekhalifahan.

Marwan bin Hakam pernah ditunjuk menjadi wali negeri (gubernur) di Fars. Setelah itu, ia kembali ke Madinah untuk menjadi katib (sekretaris atau juru tulis khalifah) dan Sebagian riwayat menyebutkan juga pernah diamanahi sebagai bendahara baitul mal. Sejarawan Clifford E Bosworth menyebut bahwa karena kedudukannya ini Marwan bin Hakam “tak diragukan lagi” membantu (menjadi anggota tim) dalam keikut sertaannya dalam proyek penyusunan mushaf Al-Qur’an pada masa Utsman bin Affan.

Maka dalam waktu beberapa bulan, Marwan bin Hakam telah mampu menyusun kekuatan dinasti Bani Umayyah dan merebut kembali wilayah Mesir, Palestina, dan Syam Utara, yang sebelumnya telah tunduk pada Ibnu az-Zubair. Ia mengirim pasukan untuk merebut kembali Irak, tetapi ia meninggal saat pasukan tersebut masih dalam perjalanan.
Sebelum Marwan bin Hakam meninggal, ia memastikan anak-anaknya memiliki posisi yang kuat: Abdul Malik bin Marwan ditunjuk sebagai khalifah penerusnya, Abdul Aziz menjadi wali negeri Mesir, dan Muhammad menjadi panglima di kawasan Mesopotamia Hulu. Abdul Malik akan menyatukan kembali kekhalifahan, dan anak cucu Marwan akan terus menguasai kekhalifahan hingga digulingkan Dinasti Abbasiyah pada tahun 750.
Khalifah Marwan bin Hakam adalah seorang pemimpin yang bijaksana. berfikran tajam, fasih berbicara dan berani. Beliau ahli Qiro’ah (mbacaan al Quran) dan banyak meriwayatkan hadis dari para sahabat Rasullah, yang terkenal terutama dari Umar bin khatab dan Usman bin Affan. Beliau terkenal dan berjasa dalam menertibkan alat-alat takaran dan timbangan, serta berjasa karena pertama kali menciptakan mata uang sebagai alat transaksi jual beli.

Marwan adalah khalifah yang berani memberantas para pemberontak dengan cara yang keras dan tegas. Para pemberontak diundang ke istana, kemudian dipersilahkan bertaubat agar tunduk kepada pemerintah. Jika mereka tetap menolak dan membangkang maka khalifah tidak segan-segan mengeksikusi, karena membangkang pemerintah yang sah. Bisa jadi mereka dieksikusi dan jenazahnya diperlihatkan orang banyak, sebelum kemudian dikuburkan, agar masyarakat tahu dan menjadi efek jera untuk tidak melakukan hal yang serupa. Dengan kebijakan tersebut menyebabkan pemerintahan pada masa khalifah Marwan menjadi kondusif dan program khalifah dapat berjalan dengan lancar.
Dengan berbagai kebijakan dan manuver politik yang dilakukan oleh Marwan bin Hakam, dalam waktu yang singkat kurang dari satu tahun, telah mampu mengembalikan kredibilitas dan marwah dinasti Bani Umayyah yang sebelumnya sempat terpuruk lantaran kurang profesionalnya pimpinan dalam mengendalikan pemerintahan.

Sebagian besar kelompok oposisi akhirnya kembali menjadi pendukung setia dalam satu barisan pemerintahan dinasti bani Umayyah di bawah pimpinan Marwan bin Hakam. Meskipun demikian bukan berarti sudah tidak ada kelompok sparatis atau setidak-tidaknya kelompok oposisi terhadap pemerintah.

IBRAH DARI KISAH INI:

Marwan bin Hakam, seorang khalifah hebat meski singkat memang benar adanya. Tetapi masa atau waktu memerintah yang cukup singkat itu tidak disia-siakan berlalu begitu saja. Beliau mampu memanfaatkan waktu yang singkat itu untuk melakukan berbagai Langkah dan kebijakan yang relative kontroversial dan “berani”. Dan hasilnya nyata.
Kepemimpinan seseorang seringkali menghadapi ujian penentuan keberhasilan, terutama pada saat situasi kritis dengan berbagai masalah yang nyaris menjadi pertaruhan apakah dia berhasil mengatasinya atau tidak. Dalam kondisi demikian maka seorang pemimpin harus siap melakukan langkah “berani” dan beresiko.

Marwan bin Hakam, sesungguhnya telah mempunyai modal pengalaman dalam birokrasi pemerintahan yang cukup lama. Di samping itu dia memang mempunyai basis kecakapan, kelihaian, dan tentu saja pemahaman agama yang sangat memadai.

Modal seperti itulah yang kemudian dimanfaatkan secara maksimal dan berujung ke puncak karirnya sebagai khalifah keempat dari dinasti Bani Umayyah. Proses pendewasaan seperti yang dilakukan oleh Marwan bin Hakam inilah yang patut diteladani oleh generasi muda, terutama generasi 1912. Insyaa Allah.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here