Ibrah Kehidupan #164: Marwan bin Hakam, Kontroversi di Akhir Kehidupan Marwan bin Hakam (Habis)

0
159
Foto diambil dari minanews.net

KLIKMU.CO-

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Marwan bin Hakam, meninggal dunia pada awal tahun 685 M (65 H) saat belum genap setahun berkuasa. Terdapat perbedaan pendapat di kalangan sejarawan mengenai tanggal pasti kematiannya. Sejarawan Ibnu Sa’ad, Ath-Thabari, dan Khalifah bin Khayyath berpendapat bahwa Marwan meninggal pada tanggal 29 Sya’ban (10 atau 11 April), Al-Mas’udi berpendapat pada tanggal 3 Ramadhan atau 13 April.
Sebagian besar sumber menyatakan bahwa Marwan meninggal di Damaskus, sedangkan Al-Mas’udi berpendapat bahwa Marwan meninggal di kediaman musim dinginnya di Ash-Shinnabra, dekat Danau Tiberias.

Sebagian sejarawan Muslim awal, seperti Ibnu Sa’ad al-Waqidi, menukil riwayat (dengan isnad yang baik) bahwa Marwan dibunuh saat ia tidur oleh istrinya Ummu Hasyim Fakhitah akibat hinaan kasar yang sebelumnya diucapkan Marwan kepadanya, tetapi kisah ini ditolak atau diabaikan oleh kebanyakan sejarawan Barat modern. Bosworth (peneliti barat) justru menduga bahwa Marwan meninggal akibat wabah penyakit yang menimpa negeri Syam pada saat kematiannya itu.

Sebelum Marwan meninggal, sekembalinya ia ke Syam dari Mesir pada tahun 685, ia sempat menunjuk putra-putranya Abdul Malik dan Abdul Aziz sebagai penerusnya, sekalipun hasil pertemuan di Jabiyah menetapkan Khalid bin Yazid dan Amr bin Said untuk posisi tersebut. Ia melakukannya setelah ia mendengar bahwa Ibnu Bahdal mendukung Amr sebagai calon penerus Marwan.

Marwan bin Hakam, memanggil dan mencecar Ibnu Bahdal, dan akhirnya memintanya menyatakan baiat terhadap Abdul Malik sebagai putra mahkota. Setelah Marwan meninggal, Abdul Malik bin Marwan menjadi khalifah tanpa pertentangan dari Khalid maupun Amr, dan dengan ini, keputusan pertemuan Jabiyah telah dibatalkan dan prinsip pemilihan khalifah berdasarkan garis keturunan langsung kembali berlaku.
Selanjutnya, pergantian khalifah pada dinasti Bani Umayyah biasa dilakukan mengikuti garis keturunan.

Marwan bin Hakam, menjadikan keluarga dan kerabatnya sebagai landasan kekuatan di pemerintahan, seperti yang pernah dilakukan Khalifah Utsman, dan bertentangan dengan gaya Muawiyah yang menjaga jarak dari kerabat-kerabatnya. Ia memberikan posisi militer penting kepada putranya Muhammad dan Abdul Aziz, dan memastikan putranya Abdul Malik sebagai khalifah selanjutnya. Walaupun awalnya dipenuhi tantangan, trah “Marwani” (keturunan Marwan) menjadi wangsa penguasa Kekhalifahan Umayyah dan menggantikan trah “Sufyani” (keturunan Abu Sofyan).

Peneliti sejarah barat Bosworth menilai, Marwan “jelas sekali adalah pemimpin militer dan negarawan yang memiliki kecakapan dan ketegasan, dipenuhi dengan sifat ḥilm (keluwesan dan kesabaran) serta kecerdikan, seperti tokoh-tokoh Umayyah terkemuka lainnya.”
Dalam sebagian riwayat Muslim, Marwan dikenal sebagai pribadi yang kontroversial. Kelompok anti bani Umayyah menilai Marwan kasar kata-katanya (fāḥisy) dan kurang memiliki adab. Luka-luka yang ia derita dalam pertempuran tampaknya sangat berdampak terhadap kondisi fisiknya.

Marwan bin Hakam, memiliki tubuh kurus dan tinggi sehingga dijuluki khayṭ bāṭil (benang tipis). Riwayat-riwayat anti-Umayyah memberinya julukan ṭarid ibn ṭarid (“sang terusir, putra dari sang terusir”) karna ia diusir dari Madinah oleh Ibnu az-Zubair, dan ayahnya al-Hakam juga konon pernah diusir Muhammad ke Thaif.
Pihak anti-Umayyah juga menjulukinya abūʾl-jabābirah (bapak para tiran) karena anak cucunya kelak berturut-turut menguasai kekhalifahan.

IBRAH DARI KISAH INI :

Marwan bin Hakam, diakui atau tidak, nyata seorang cerdik pandai, pemahaman agamanya dalam, dan memiliki berbagai keistimewaan.
Dengan memperhatikan proses tampilnya Marwan bin Hakam menjadi khalifah keempat dinasti Bani Umayyah, jelas bahwa Marwan bin Hakam telah melakukan proses dan tahapan perjuangan politiknya sesuai kemampuan dan kelihaian serta kecerdikannya. Dan upaya itu tidak terjadi secara instan melainkan sudah sejak jauh sebelumnya yakni zaman pemerintahan Khulafaurrasyidin kecerdikannya telah terlatih dengan baik.

Seorang pemimpin atau pejabat public dalam perspetif islam harus memiliki basis agama yang memadai. Dia juga harus memiliki basis pengetahuan sosial kemasyarakatan, terutama psykologi sosial. Tetapi itu belumlah cukup. Ilmu strategi politik, pengalaman berpolitik, bahkan pengetahuan tentang yurisprudensi politik jelas perlu dimiliki. Hal ini menjadi dasar ketika seseorang ingin berpolitik praktis, utamanya menduduki jabatan politis.

Tetapi kecerdikan melihat peluang dan memanfaatkan peluang, bagi seorang pemimpin pejabat politik tidak serta-merta dilakukan dengan segala cara alias “machiavellis” yakni menghalalkan segala cara. Sebab sebagaimana kata al-Mawardi dalam bukunya “Al-Ahkam As-Sulthoniyah” dijelaskan bahwa politik Islam harus berfungsi menjaga kelestarian agama dan mengolah kesejahteraan dunia. Marwan bin Hakam, dalam batas-batas tertentu telah melakukannya. Wallahu a’lam

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here