Ibrah Kehidupan #167: Walid bin Abdul Malik, Khalifah yang Tangguh, dengan Tagar Jihad Fii Sbailillah(-3)

0
400
Foto diambil dari blogger Harian Islam Agamaku

KLIKMU.CO-

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Pada masa akhir kekuasaan Abdul Malik bin Marwan, Al-Walid diangkat sebagai putra mahkota pertama dan Sulaiman, adik kandung Al-Walid, sebagai putra mahkota kedua. Hal ini membuat ketika Al-Walid menjadi khalifah, Sulaiman berada di urutan pertama sebagai pewaris takhta menurut keputusan ‘Abdul Malik.

Meski demikian, Al-Walid berencana untuk mengangkat putranya sendiri, ‘Abdul ‘Aziz, menjadi putra mahkota pertama menggantikan Sulaiman. Rencana Al-Walid didukung oleh Al-Hajjaj dan Qutaibah bin Muslim. Sulaiman sendiri menolak untuk menyerahkan kedudukannya saat diminta Al-Walid. Saat Al-Walid mengundangnya ke Damaskus yang direncanakan akan dilangsungkan peralihan posisi putra mahkota secara resmi, Sulaiman mengulur waktu untuk memenuhi undangan tersebut. Al-Walid mangkat pada tahun 715 sebelum rencana tersebut diresmikan.

Pemuka Umayyah kemudian melantik Sulaiman sebagai khalifah yang baru. Al-Walid sendiri kemudian dikebumikan di pemakaman Bab ash-Shaghir.
Dua putra Al-Walid baru menjadi khalifah di masa-masa akhir kekuasaan dinasti Bani Umayyah di Syria.

Selama memerintah, Al-Walid banyak menorehkan prestasi yang mengagumkan dan banyak dikenang oleh sejarah. Al-Walid sangat disegani baik oleh lawan maupun kawan.

Khalifah ke-6 dinasti Bani Umayyah Al-Walid (Walid bin Abdul Malik) memerintah bersamaan dengan permintaan bantuan dari pemerintahan Gothiyah Barat kepada Islam, oleh Khalifah Al-Walid permintaan itu dipenuhi dengan mengirim 12.000 pasukan Islam yang dipimpin oleh Tariq bin Ziad. Misi Islam tersebut berhasil menyelesaikan tugasnya dengan baik dan pasukan Islam dipimpin oleh Tariq bin Ziyad tersebut berhasil memukul mundur pasukan Viagoth yang merupakan aristokrasi Jerman.

Karena pasukan Islam berhasil melaksanakan tugasnya dengan mengusir pasukan Jerman, maka oleh penguasa Gotiyah Barat sepeninggalnya Raja Witizah mempersilahkan Tariq dan pemuka Islam lainnya boleh berdakwah di wilayah Andalusia dengan bebas dan aman. Masa pemerintahan Walid bin Abdul Malik khalifah ke-6 Bani Umaiyah disebutkan dalam sejarah sebagai masa kejayaan Bani Umaiyah I.

Pada saat itu masyarakat patuh dan cinta kepada khalifah Al-Walid. Keadaan pemerintahan yang sebaik itu membuka kesempatan pada khalifah Al-Walid untuk melakukan perluasan wilayah ke daerah-daerah di Afrika dan Eropa Barat.

Dinasti Bani Umayyah tercatat telah memerintah selama 90 tahun dengan 14 orang pemimpin dari garis keturunan Umayyah. Pencetus Dinasti Umayyah yaitu Muawiyah bin Abu Sofyan, sekaligus sebagai khalifah pertama dinasti Bani Umayyah.

Pada masa Muawiyah, Dinasti Umayah berpusat di Damaskus (Syria). Setelah berhasil menaklukan Andalusia (Spanyol) Dinasti Umayyah terbagi dan menempati wilayah Andalusia. Saat itu dinasti dibawah kuasa Walid bin Abdul Malik, khalifah yang dikenal karena kegigihannya berjihad fisabilillah.

Al-Walid bin Abdul Malik bin Marwan bin Hakam manjadi Khalifah ke-6 Bani Umayyah. Ia menjabat selama kurang lebih 10 tahun (86-96H/ 705-7014M). Al-Walid melanjutkan khalifah sebelumnya yang telah wafat, Abdul Malik bin Marwan, ayah Walid sekaligus khalifah besar yang dijuluki ‘pendiri kedua’ dinasti Bani Umayyah.

IBRAH DARI KISAH INI :

Nyata sebuah kebenaran dalam bingkai perjuangan. Bahwa setiap perjuangan selalu akan menghadapi berbagai rintangan dan hambatan. Dan itu hanya bisa dihadapi dengan kesungguhan, totalitas, istiqomah, dan kesabaran dalam arti yang sesungguhnya.

Dari kisah di atas, kita bisa mendapatkan satu point lagi sebagai kata kunci yakni “Jihad Fii Sabilillah”. Perjuangan di jalan Allah. Barang siapa yang menolong agama Allah maka Allah akan menolong orang tersebut. Hal ini benar adanya. Sepanjang sejarah umat manusia terutama kaum muslimin, bahwa sebuah kebenaran itu akan tinggal menjdi onggokan benda mati manakala tidak diperjuangkan.

Wahai Angkatan muda Islam, sebuah keniscayaan bahwa ajaran agama Islam yang telah kita yakini kebenarannya ini harus kita perjuangkan. Dalam Bahasa agama perjuangan itulah yang disebut dengan “Jihad Fii Sabilillah”, yakni jihad di jalan Allah.

Tentu saja jihad di sini tidak selalu berkonotasi perang. Justeru jihad dalam suasana damai ini sangat penting, misalnya meningkatkan kualitas sumber daya insani dengan mendirikan Lembaga Pendidikan, tempat-tempat ibadah dan perkaderan. Itu semua masuk dalam kategori Jihad Fii Sabilillah.

Satu hal lagi yang penting, bahwa jihad yang kita lakukan bukan “Jihad melawan” , tetapi Jihad “menghadapi”. Kalau jihad “melawan” berarti konfrontatif, tetapi kalau jihad “menghadapi” berarti berdialog, mujadalah, dengan mengutamakan rasionalitas, intelektualitas, dan dalam suasana keadaban (kesantunan).

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here