Ibrah Kehidupan #168: Walid bin Abdul Malik, Penakluk Spanyol dan Sebagian bBesar Daratan Eropa (-4 Habis)

0
327
Foto diambil dari blogger Harian Islam Agamaku

KLIKMU.CO-

Oleh : Kyai Mahsun Djayadi*

Selama pemerintahannya, Al-Walid melakukan banyak perbaikan infrastruktur, yang meski mahal, namun tetap diperjuangkan demi kesejahteraan umat Islam. Al-Walid memimpin pembangunan Masjid Al-Amawi di Damaskus, dengan biaya 11.200.000 dinar kala itu.
Beliau juga memperluas Masjid Nabawi di Madinah dan Masjid Al-Aqsha di Yerussalem.

Pembangunan rumah sakit untuk penderita kusta di Damaskus juga dirintis oleh Al-Walid.

Walid bin Abdul Malik adalah pemimpin yang melaksanakan jihad dengan luar biasa. Atas izin Allah swt, Al-Walid membentangkan Dinasti Islam hingga Spanyol (86 H/715 M). Bahkan Al-Walid menaklukan seluruh wilayah daratan Spanyol, dibawah pemimpin pasukan Thariq bin Ziyad.

Ia juga mengerahkan satu armada laut ke Hindustan dibawah pimpinan Muhammad bin Qasim, hingga berhasil menaklukkan negeri Sind dan Nepal. Keberhasilan dakwah Islam ini tak mudah untuk diraih. Semua melalui proses perjuangan Al-Walid dan segenap umat Islam yang tak kenal putus asa, berjihad semata untuk meraih ridha Allah.

Dakwah pada masa Walid bin Abdul Malik mencapai keberhasilan luar biasa, mengingatkan pada kejayaan masa Umar bin Khattab, dimana negeri-negeri yang belum mengenal Islam mampu menjadi bagian dari dunia Islam. Al-Walid mengajarkan bagaimana Islam tidak dikesankan sebagai sesuatu yang dipenuhi peperangan tetapi dakwah dan kedamaian.
Beberapa wilayah seperti Samarkand, Kashgar, dan Turkistan memang berhasil dimasuki Islam melalui peperangan. Namun peperangan dikerahkan hanya ketika Islam diserang, atau dalam ancaman. Selama tidak ada kedua hal tersebut, dakwah dilakukan dengan cara damai.

Buktinya, Daerah Khurasan berhasil menerima dakwah Islam dengan damai pada masa Walid bin Abdul Malik pula. Dakwah Walid bin Abdul Malik dan umatnya mencerminkan keindahan Islam, bagimana keberhasilan diraih setelah perjuangan damai, dan peperangan hanya sebagai pilihan terakhir. Inilah salah satu bukti bahwa Islam rahmatan lil ‘alamin, rahmat bagi seluruh alam.

Menurut sumber (Republika.co.id) Walid bin Abdul Malik memerintah selama 10 tahun. Panglima pasukan Islam pada zamannya, dikerahkan untuk melakukan ekspansi dakwah ke berbagai belahan dunia. Panglima Qutaibah bin Muslim diutus untuk menaklukkan negeri di seberang sungai Dajlah. Turki, Shagd, Syaas, Farghanah, hingga Bukhara, akhirnya tunduk di bawah pemerintahan Bani Umayyah.

Musa bin Nushair, Gubernur Afrika mengirim Thariq bin Ziyad untuk menaklukkan pulau Shamit tahun 91 H. Thariq bin Ziyad adalah budak Musa bin Nushair yang telah dimerdekakan. Bahkan ia telah diangkat menjadi panglima perang. Dalam misinya, Thariq bin Ziyad berhasil mengalahkan Spanyol (Ishbaniyah).
Pahlawan legendaris satu ini (Thariq bin Ziyad) terkenal dengan taktiknya membangkitkan semangat pasukannya yang hampir mundur. Akhirnya, mereka tak punya pilihan kecuali maju berjihad mengalahkan Spanyol. Ia kemudian bermarkas di sebuah bukit di Spanyol yang kini dikenal dengan sebutan Jabal Thariq (Gibraltar).

Tak heran bila Adz-Dzahabi mengatakan, Walid bin Abdul Malik telah menegakkan jihad dan melakukan penaklukan di negeri-negeri seperti yang dilakukan Umar bin Al-Khathab. Seorang sejarawan juga pernah berujar, “Jika Muawiyah yang mendirikan negara Bani Umayyah, maka Walid bin Abdul Malik yang menegakkannya sampai teguh dan kokoh.”

Walid bin Abdul Malik meninggal tahun 96 Hijriyah di Damaskus. Kekhalifahan digantikan oleh saudaranya, Sulaiman bin Abdul Malik.

IBRAH DARI KISAH INI :

Rasanya cukup dengan data dan fakta yang di atas, bahwa Walid bin Abdul Malik, merupakan sosok pemimpin (khalifah) yang kharismatik, berwibawa dan sukses dalam mengemban amanah kepemimpinannya.

Sering kali generasi muda millennial kurang paham sejarah Islam. Ketika mereka melihat gemerlapnya kemajuan negara-negara barat dan Amerika, seakan-akan mereka terpukau melihatnya, sehingga tragis akibatnya, yakni menjadi “pengekor” terhadap budaya-budaya barat yang menanggalkan nilai etika atas nama kebebasan.

Padahal sejatinya ilmu-ilmu yang berkembang di barat dan amerika itu pada mulanya adalah diambil dari khazanah kemajuan dunia Islam abad yang lampau. Di saat dunia Islam mengalami kemajuan, negara-negara barat eropa dan amerika masih buta dan gelap gulita.

Bangsa eropa dan amerika menjadi maju karena mengambil alih ilmu-ilmu yang telah dimiliki oleh para ilmuan muslim. Khazanah peradaban Islam memang pernah maju pesat, tetapi kemudian redup karena terputusnya regenerasi.

Marilah wahai generasi 1912 kita bangun dan sadar, saatnya kita raih Kembali kejayaan masa lampau yang pernah dicapai oleh para ulama, zuama, ilmuan masa lalu. Kita jangan menunggu datangnya “ratu adil”, jangan menunggu “imam mahdi” dan seterusnya. Tetapi marilah berbuat apa yang bisa perbuat. (Ibda’ Binafsik, mulailah dari dirimu sendiri). Insyaa Allah.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here