Ibrah Kehidupan #17: Khalifah Utsman Bin Affan, Pemilik dua Cahaya (-6)

0
196
Foto serdadu memegang panji Allah diambil dari youtube

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Jayadi*

Di hari-hari awal kaum muslimin Makkah berhijrah ke Madinah diterima dengan suka cita oleh kaum Anshor. Mereka kaum anshor dengan rela hati mencukupi segala kebutuhan kaum muhajirin agar bisa hidup Bersama.

Tibalah suatu saat, Madinah dilanda kekeringan. Para Sahabat pun gusar, terlebih golongan Muhajirin yang sebelumnya telah terbiasa dilimpahi dengan kesegaran Zamzam.

Satu-satunya sumur di Madinah yang masih bisa diandalkan adalah sumur “Ruumah”. Sayangnya, ia berada di bawah kepemilikan seorang Yahudi yang siapapun tidak boleh meminumnya, terkecuali dengan memberikan imbalan yang ia tentukan. Air, sudah barang tentu menjadi kebutuhan vital. Guna memenuhi keperluannya sehari-hari, para sahabat harus rela mengantre dan membayar setiap ember air yang ia butuhkan.

Rasulullah saw pun merasa prihatin dengan keadaan ini, sehingga pada suatu hari Rasulullah Muhammad SAW menyatakan keprihatinannya dengan bersabda, “Wahai Sahabatku, siapa saja di antara kalian yang sanggup dan bersedia menyumbangkan hartanya demi membebaskan sumur itu, lalu menyumbangkannya untuk umat, maka dia akan mendapat “kaplingan” surgaNya Allah SWT.”

Mendengar sabda dan janji Nabi tersebut, hati Utsman bin affan tergerak lantas segera mengunjungi sang pemilik sumur. Kepadanya ia lakukan tawar menawar, namun pemilik sumur tetap menolak untuk menjualnya. Bahkan ketika Utsman memberikan tawaran tertinggi, si Yahudi menjawab, “Wahai Utsman, seandainya sumur ini saya jual kepadamu, maka aku tidak memiliki penghasilan yang bisa aku peroleh setiap hari. Utsman kembali berpikir, janji Rasul tentang balasan kasih sayang Allah SWT menjadikannya pantang menyerah. Kepada si pemilik sumur Utsman kembali berkata, “Bagaimana kalau aku beli setengahnya saja?” “Maksudmu?” balas tanya si pemilik sumur.
Utsman menjelaskan: “Begini, jika engkau setuju maka kita akan memiliki sumur ini bergantian. Satu hari sumur ini milikku, esoknya kembali menjadi milikmu, kemudian lusa menjadi milikku, begitu pun seterusnya. Bagaimana?” jelas Utsman.
Pemilik sumur menyunggingkan senyum.

Di benaknya melintas keuntungan dengan jumlah besar tanpa harus kehilangan sumur yang telah lama dianggapnya sebagai mesin uang. Dengan mantap ia pun menyepakati tawaran Utsman. Setelah transaksi dilakukan, Utsman segera mengumumkan kepada para sahabat Nabi bahwa setiap selisih satu hari sumur “Ruumah” berhak diambil airnya oleh para pengikut rasul, secara cuma-cuma, tanpa pungutan atau pun imbalan.

Utsman disepakati menjadi pemilik sumur di hari pertama. Para sahabat mengambil air dengan leluasa. Bahkan sebagian besar dari mereka berinisiatif mengambilnya sesuai takaran kebutuhan selama dua hari. Keesokan harinya, di saat sumur itu kembali menjadi milik Yahudi, lelaki itu tak mendapati satu orang pun yang datang membeli air untuk memenuhi kebutuhannya.

Menjelang petang, rupanya ia putus asa. Si pemilik sumur kembali mengunjungi Utsman dan berkata, “Wahai Utsman, belilah setengah lagi sumurku ini dengan harga sama seperti engkau membeli setengahnya kemarin.” Sahabat Utsman setuju, lalu dibayarnya seharga 20.000 dirham, kemudian ia wakafkan untuk keperluan umat Islam di Madinah, hingga hari ini.

Ibrah Kehidupan hari ini:
Utsman Bin Affan , salah satu sahabat yang benar-benar telah terpatri dalam dirinya “hobi” berbuat baik, hobi bersedekah, dan hobi membelanjakan harta bendanya untuk kepentingan agama. Bagi Utsman semakin banyak bersedekah justru semakin melimpah rezeqi yang datang. Utsman suka mengambil prakarsa untuk “berkorban” pada saat-saat umat Islam sangat membutuhkan.

Semoga ini menjadi inspirasi bagi kita para mujahid 1912, semoga.

Foto Kyai Mahsusun Jayadi Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya diambil dari dokumen pribadi

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here